Tuesday, 30 April 2019

Resensi Buku : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul                          : Daun yang Jatuh Tak Pernah  Membenci Angin

Pengarang                 : Tere Liye
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan                     : Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman       : 264 halaman


 “Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya”

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, berkisah tentang kenangan dan cinta yang dialami oleh seorang gadis cantik dan pintar bernama Tania. Seperti sebuah lego yang disusun satu persatu hingga menjadi utuh, kisah dalam novel yang di tulis oleh Tere Liye ini sanggup menghanyutkan hati pembaca pada setiap potongan ceritanya. Ketika berumur 11 tahun, kerasnya kehidupan membuat Tania dan Dede—adik Tania—terpaksa mencari uang dengan mengamen dari satu bus kota ke bus yang lainnya, hal tersebut mereka lakukan demi menghidupi diri mereka dan sang ibu yang sakit-sakitan. Ayah Tania meninggal ketika Tania berumur 8 tahun.

Sejak saat itu pula kehidupan mereka yang pas-pasan berbalik menjadi serba kekurangan. Tania, Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan lalu memutuskan untuk tinggal di rumah kardus dekat dengan sungai dan tempat pembuangan. Ketika Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa sengaja Tania menginjak sebuah paku payung pada telapak kaki tanpa alasnya. Tania kecil mencoba menahan rasa sakit sementara adiknya hanya bisa panik tanpa tahu harus melakukan apa. Orang-orang dalam bus hanya melirik Tania yang kesakitan tanpa rasa iba. Ketika itulah, seorang pria muda datang menolong dan membalut kaki Tania dengan sapu tangan putih miliknya. Pria itu bernama Danar, malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk merubah kehidupan Tania, Dede, dan Ibunya. Lambat laun setelah beranjak dewasa, gadis itu akhirnya sadar bahwa perasaan lugu yang diam-diam tumbuh di hatinya sejak dulu bukanlah perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Danar menjadi pria yang membuka babak baru yang lebih baik dalam kehidupan Tania, juga menjadi cinta pertama baginya. Salahkah perasaan ini? Salahkah bila Tania menyukai seseorang itu, seseorang yang menjadi malaikat bagi keluarganya?
Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur maju-mundur yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita hingga menemukan benang merahnya. Walau ini adalah kali pertama saya membaca novel karya Tere Liye, nampaknya saya mulai jatuh cinta dengan gaya penulisan yang sederhana namun bermakna khas beliau. Satu hal yang membuat saya ingin memberikan komentar pada novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yaitu karakter Danar yang saya rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita. Mungkin karena di dalam novel ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan perasaan cintanya, juga ia menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.
“…. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya….”
Share:

Monday, 29 April 2019

Resensi Buku : Self Driving


“the survival of the fittest”
Judul Buku              : Self Driving

Penulis                    : Rhenald Kasali
Penerbit                   : Mizan
Terbit                       : 2014
Jumlah Halaman      : 270 lembar
Meminjam istilah Charles Darwin “the survival of the fittest” yang bermakna makhluk hidup yang mampu bertahan bukanlah yang terkuat fisiknya, namun yang mampu bertahan hidup atas kondisi apapun yang mendera. Mengetahui hal tersebut membuat saya semakin bergegas untuk harus membaca buku ini. Buku ini juga linear dengan gerakan Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi melambungkan harapan akan adanya perbaikan di semua sektor negara kita. Dimana dalam buku ini pun mengarah terhadap semua kekayaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki tidak akan banyak berdayaguna jika manusia yang menggarap dan menjalankannya hanya bermental penumpang. Lihatlah negara-negara sekitar yang tanpa dianugerahi SDA melimpah namun punya hampir segalanya untuk memajukan kehidupan mereka seperti Singapura. Etos kerja dan mental “pengemudi” merupakan bekal untuk hidup yang lebih baik. Buku Self Driving yang ditulis oleh Prof.Rhenald Kasali mengajak semua orang mulai dari orang sekolahan hingga CEO untuk ikut dalam gerakan revolusi mental tersebut, dengan harapan adanya perubahan dari mental “penumpang” menjadi mental “pengemudi”.
Membuat mental seseorang berubah dari seorang penumpang yang cenderung pasif, tidak berani mengambil resiko, sudah puas dengan keadaan sekarang, menyerahkan masalah pada atasan atau orang lain, terlalu membanggakan apa yang telah dicapai sehingga menjadi seorang dengan mental pengemudi yang cirinya adalah seorang inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi seorang tokoh panutan bagi banyak orang bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh kemauan kuat dan beberapa tahapan proses (juga latihan) yang harus dijalani. Di buku bersampul merah yang saya anggap melambangkan passion atau semangat (sehingga lewat buku ini penulis memacu pembaca untuk berani berubah), banyak hal dijelaskan dengan terperinci untuk kita pelajari dan aplikasikan dalam kehidupan keseharian. Di samping gagasan-gagasan mencerahkan yang diberikan penulis disertakan artikel-artikel penunjang yang mampu memberi gambaran yang lebih baik bagi pembaca. Sejauh yang saya baca semua hal ditulis dengan sangat menarik dan aplikatif.
          Prof memberi contoh pada kondisi sekarang. Misal seorang Guru besar Ilmu Teknik (Sipil) yang pintarnya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan.

          Contoh lain adalah keteladanan KH Ahmad Dahlan. Ketika kaum muda baru tertarik berwirausaha di abad ke 21, Ahmad Dahlan sejak muda sudah dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil berdagang batik. Namun, berbeda dengan sebagian besar wirausaha yang steril terhadap perjuangan bangsa, ia justru terlibat dalam organisasi Budi Utomo, Serikat Islam, dan organisasi kepemudaan pada masanya. Pada umur 15 tahun, misalnya, ia pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Di sana, ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran para pembaru Islam. Sejak itulah tekadnya menjadi pembaru begitu kuat. Ia berhasil melepaskan bangsa ini dari aneka belenggu mitos dan kemiskinan. Itu sebabnya pendidikan dan kesehatan menjadi perhatian besar dalam gerakan yang dipimpinnya, yakni. Muhammadiyah, Social Enterprise terbesar dan tertua di Indonesia Seperti salah satu poin di dalam buku ini mengenai disiplin. Saya menyadari buku sebagus apapun jika kita tidak mengaplikasikannya akan mubazir. Hal-hal aplikatif bisa kita jalani dengan terlebih dahulu kita menyelesaikan membaca buku ini. 

          Kalau kalian adalah anak SMA, Mahasiswa Baru, sedang kuliah semester berapa pun dan tingkatan apa pun atau fresh graduate, beli deh buku ini. Karena bagi saya buku ini mampu membuat pikiran saya terbuka sejak baca buku ini. Sadar bahwa sebenernya ilmu tuh banyaknya bukan di kuliah, tapi di luar kuliah. Gimana caranya belajar dari hal-hal sekitar kita.


SELF DRIVING  sederhananya soal memimpin diri kita, tapi memimpin melalui pemikiran-pemikiran, kita diajak berpikir terbuka dengan cara yang asik. Buku yang sangat baik ini isinya ditujukan untuk para pemimpin, para pengajar, namun dapat juga dibaca oleh kita yang masih muda. Tentunya dengan kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Salam Perubahan. 


Share:

Wednesday, 3 April 2019

Resensi Buku : Bob Sadino : Mereka Bilang Saya Gila


 BOB SADINO
Mereka Bilang Saya Gila

Bob Sadino adalah wiraswastawan sukses di bidang agribisnis yang  unik. Jika dilihat dari riwayat hidupnya, Bob Sadino berasal dari keluarga kaya raya. Bob sempat tinggal di Hamburg dan Amsterdam selama kurang lebih 9 tahun. Pada masa puncak kejayaannya sebagai orang kaya, Bob berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya tersebut. Ia merasa ingin menjadi orang miskin dan memulai segalanya dari nol. Alasan Bob melakukan ini karena merasa bosan menjadi orang kaya dan ingin mendapatkan kebebasan dengan tidak menjadi karyawan
Dari kehidupan yang serba berkecukupan hingga menjadi miskin adalah hal yang baru dalam hidup Bob. Bob harus berusaha keras mencari uang supaya ia dan keluarganya tetap bisa makan. Kakak-kakaknya sempat menawarinya bantuan dan rela memberikan apapun yang Bob inginkan. Namun, Bob menolak segala bentuk belas kasihan dari saudara-saudaranya. Ia yakin masih bisa mengatasi semuanya sendiri. “Satu-satunya bantuan yang bisa kalian lakukan adalah jangan bantu saya!”, ujar Bob secara tegas meyakinkan saudara-saudaranya.
Karena desakan kemiskinan, Bob tidak ada pilihan lain selain memulai wiraswasta untuk menyambung hidup. Saat itu, Bob melihat peluang pasar yaitu perbedaan telur ayam lokal dan telur ayam layer (negeri). Ia juga melihat peluang untuk menjual telur-telur tersebut kepada kaum ekspatriat yang tinggal di sekitar tempat tinggal Bob di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Akhirnya, Bob meminta bantuan salah seorang temannya di Belanda untuk mengiriminya anak-anak ayam petelur dan ayam broiler serta kumpulan majalah bertema serupa terbitan Belanda. Tanpa bekal ilmu sama sekali, Bob benar-benar memulai usahanya dari bawah. Bob juga mendapat kiriman majalah-majalah kejuruan terbitan Belanda untuk mempermudah dirinya dalam menekuni usaha tersebut.
Wiraswasta adalah spontanitas
Bob selalu menyatakan bahwa ia melakukan segala sesuatu secara spontan. Terlebih lagi pada kondisinya yang miskin serta tidak bertitel sarjana. Rupanya Bob pernah beberapa bulan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan mengundurkan diri dari perkuliahan. Bob hanya melihat peluang ketika dirinya tidak memiliki pilihan lain selain wiraswasta. Terlebih lagi, Bob tidak memiliki rencana terlebih dahulu dalam menjalani usahanya. Semua dilakukan dengan bertindak cepat.
Pada suatu perbincangan, Bob menyatakan bahwa ia ingin berwiraswasta untuk mencari rugi. Bob menyadari bahwa dalam dunia wiraswasta pasti dipenuhi dengan risiko. Orang yang ingin terjun ke dalam dunia wiraswasta harus siap dengan berbagai macam risiko dan kegagalan. Tidak ada dalam sebuah usaha yang selamanya untung. Pasti ada kalanya merugi. Pernah pada suatu ketika Bob melihat peluang pasar di luar negeri yaitu olahan buah-buahan kripik buah. Ketika Bob mengekspor produknya ke luar neger, ternyata produknya tersebut tidak sampai di luar negeri dan menyebabkan dirinya merugi milyaran rupiah. Tapi, Bob menikmati semua proses usahanya dengan baik. Ia tetap berjalan pantang menyerah pada bisnisnya.
Kebanyakan orang membuat rencana untuk memulai bisnis wiraswasta untuk meminimalisir risiko sekecil mungkin. Namun yang terjadi adalah mereka terlalu sibuk membuat rencana dan tak kunjung melangkah untuk memulai usaha. Inilah yang disayangkan Bob ketika ada segelintir orang yang ingin berwiraswasta tapi masih takut dengan risiko dan kegagalan.

Fase Belajar ala Bob Sadino
Bob Sadino membuat prinsip kehidupan berwiraswasta dengan sebutan Roda Bob Sadino. Roda ini dibagi menjadi empat bagian dengan masing-masing bagian secara urut berisi kuadran TAHU, BISA, AHLI, dan TERAMPIL.
Bagian pertama adalah kuadran TAHU. Kuadran TAHU berisi orang-orang yang sedang menempuh pendidikan baik di bangku sekolah atau perguruan tinggi. Orang-orang pada kuadran ini biasanya memiliki pemikiran yang terstruktur dan belajar berdasarkan teori-teori tanpa praktik. Contohnya adalah orang yang belajar teori dasar menembak. Ia tahu teori-teori menembak tanpa pernah memegang pistol.
Bagian kedua adalah kuadran BISA atau kadang disebut kuadran JALANAN. Kuadran ini berisi orang-orang yang dapat mempraktikkan suatu ilmu dengan baik. Orang-orang dari kuadran BISA belajar dan pengalaman nyata yang sudah mereka alami dalam mengerjakan suatu hal. Orang-orang di kuadran BISA biasanya adalah masyarakat biasa yang tidak sempat menempuh Pendidikan tinggi. Contohnya adalah tukang bangunan yang dapat menyusun paving di jalanan.
Bagian ketiga adalah kuadran AHLI. Kuadran AHLI berisi orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Mereka sudah ditempa dan belajar di kuadran BISA. Orang-orang yang berada di kuadran AHLI ini sudah dapat melakukan pekerjaannya secara professional.
Bagian terakhir adalah kuadran TERAMPIL. Kuadran ini diisi oleh orang-orang yang menekuni suatu bidang selama kurang lebih 30 sampai 40 tahun. Orang-orang dalam kuadran TERAMPIL sudah mencicipi banyak sekali kegagalan dari bidang yang selama ini ia tekuni.

Share:

Resensi Buku : Dalam Dekapan Ukhuwah


… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpun hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka …” [Al-Anfaal: 63]
Lewat ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ ini, Salim A Fillah memberikan berbagai gambaran dan permasalahan yang sangat mungkin terjadi dalam jalinan ukhuwah. Kesalahpahaman dalam memahami orang lain, tanpa sadar mengunggulkan diri sendiri, kekhilafan saat berkata-kata, kesabaran menghadapi kelicikan, memaafkan segala bentuk kesalahan, perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan masih banyak kisah sayatan sekaligus bunga ukhuwah yang dituturkan oleh sang penulis.
Saya sangat menyukai hampir setiap contoh kasus yang dipilih oleh penulis dalam menguatkan ilustrasi kejadian dalam tulisan. Seperti ketika penulis menuturkan tentang perihal kerendahan hati, beliau memilih kisah renungan tentang pemuda yang ‘dipermalukan’ di sebuah forum dengan bijak lebih memilih untuk mengalah, padahal saat itu sebenarnya dia mampu mematahkan berbagai argumentasi lawan bicaranya.
Atau ketika penulis menuturkan tentang perihal yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan contoh kasus pelayan yang menampar seorang pelanggan dengan kain serbet. Saya dibuat tertawa, tetapi juga termenung sedalam-dalamnya. Pas dan tepat. Penuturan penulis pun tidak terburu-buru, melainkan mengajak pembaca untuk memahami dengan meresapi dahulu apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.
Saya juga menyukai tulisan yang berkenaan dengan bagaimana seorang muslim harus dapat tetap berlembut hati tanpa harus meninggalkan ketegasan prinsip yang memang harus tetap digenggam. Bukan hal mudah kah? Ketika dimana-mana terdapat tuntutan toleransi yang kerap menggerus keyakinan dan keimanan manusia. Sebuah toleransi yang dibentuk dari kelihaian beberapa pihak dalam membuat pembenaran dengan membolak-balikan fakta, bahkan ayat/ hadist.
Hanya saja, saya tidak terlalu memahami tentang pembagian subbab dalam buku ini, karena menurut saya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh besar. Tapi, ya bisa jadi mungkin adanya subbab tersebut lebih berfungsi sebagai peredam kejenuhan/ istirahat bagi pembaca setelah bertemu dengan 60-an artikel dalam buku ini. Terlihat juga upaya tersebut lewat selipan beberapa puisi dan kutipan renungan dalam setiap subbabnya.
Oiya, satu lagi yang membuat saya salut pada penulis ini adalah caranya dalam menuliskan kisah sejarah, sebagai contoh kasus. Sungguh, saya merasakan bagaimana si penulis begitu menghayati sejarah kenabian dan para sahabatnya. Cara beliau dalam menuturkan sejarah kenabian terkesan luwes dan meninggalkan kekakuan bahasa literatur yang kerap terjadi ketika seorang penulis mengisahkan sejarah dalam tulisannya. Dengan gaya inilah, saya dapat menjadi lebih bisa merasakan dan meresapi kisah sejarah itu sendiri.
Saya juga menyukai sudut pandang penulis dalam menyoroti, tidak hanya sisi positif, tapi juga sisi negatif dari para sahabat Rasulullah, tanpa adanya niat menjatuhkan keunggulan dan keluhuran budi yang dimiliki mereka. Selain itu, membaca berbagai contoh kasus yang diambil dari sejarah kenabian menerbitkan kesadaran betapa masih kurangnya saya dalam membaca atau memahami sejarah Rasulullah dan para sahabatnya.
Share:

Tuesday, 2 April 2019

Resensi Buku : 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah

Judul Buku      : 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah
Penerbit           : Tiga Serangkai
Pengarang       : Aulia Muthiah
Halaman          : 352 Halaman


Anda yang sekarang atau ingin terjun di dunia bisnis, pasti ingin bisnis yang digeluti sukses, konsumennya banyak, dan kekayaannya melimpah. Itu semua adalah sejumlah keinginan yang wajar karena itulah tujuan berbisnis. Apakah hanya sampai di situ tujuan Anda? Jangan! Jangan sampai tujuan Anda sebatas itu. Hidup tidak hanya di dunia yang cukup dengan harta. Ada akhirat menanti Anda. Tambahlah tujuan Anda dengan memperoleh rezeki yang melimpah, berkah, bermanfaat, bernilai ibadah, dan membawa Anda ke surga.

Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain selain mengikuti aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. Buku 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah mengajak Anda bersama-sama mempelajari aturan-aturan itu. Agar mudah dipelajari, ada 77 poin yang dirangkum dengan contoh kasus dilapangan. Salah satu poinnya yaitu Uang Muka Memikat Pedagang. Contoh kasusnya yaitu sebuah usaha katering jasa penyedia makanan, dalam sistem pemesanan yang terjadi adalah ketika ada pesanan, konsumen harus membayar uang muka terlebih dahulu sebagai bukti tanda jadi pemesanan. Jika tidak ada uang muka, pihak katering tidak akan mau menyediakan makanan sesuai pesanan.

Di usaha katering sudah menjadi tradisi konsumen memesan suatu produk. Pada waktu hendak memesan, barang tersebut tidak terlihat sama sekali wujud dan jumlahnya. Konsumen memesan suatu produk atau barang pesanan yang diinginkan dengan menyebutkan kriteria tertentu dan bersedia membayar dengan uang muka.


Pada praktiknya, ada kesenjangan antara yang diharapkan dan apa yang terjadi. Ketika pemesan membatalkan pesanannya, pemesan tidak bisa mengambil uang muka yang sudah dibayar. Begitu pula terkadang jika terjadi kesalahan pemesanan, pihak katering tidak mau mengganti uang muka yang sudah dibayar. Itu merupakan salah satu poin dari 77 poin yang ada dibuku ini beserta contoh kasusnya.
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com