Thursday, 28 February 2019

Resensi Buku : Buya Hamka, Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama

Judul Buku : Buya Hamka, Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama
Penulis        : Yanuardi Syukur & Arlen Ara Guci
Penerbit      : Tinta Medina
Halaman     : 208


Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus yang sangat terkenal di Indonesia. Buya HAMKA juga seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan juga aktif dalam perpolitikan Indonesia. Hamka lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Quotes terkenal dari Beliau yang cukup terkenal adalah Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang
Pesan dari Buya Hamka menganjurkan kita terutama pemuda pemuda muslim agar keluar dari zona nyaman (merantau). Karena menurut Imam Syafi’i merantau itu akan memupuk kedewasaan diri dan banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.

Allah Subhanah Wa Taala berfirman Barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizki yang lapang…”An-Nisa`: 100.

Perintah untuk berhijrah ataupun merantau sudah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dalam Al Quran, oleh karena itu sebagai pemuda muslim kita tidak boleh takut untuk merantau. Buya Hamka termasuk Tokoh Muslim perantau, dapat dilihat dari sejarah hidupnya ketika berusia muda , Buya Hamka dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com