Wednesday, 30 January 2019

Resensi Buku : Ghirah - Buya Hamka



Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab, kehilangan ghirah sama dengan mati!

Siapa yang tidak pernah mengenal kalimat di atas? Potongan kalimat dari buku Ghirah yang ditulis oleh Buya Hamka sedikit banyak memberi gambaran betapa pentingnya ghirah bagi muslim.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Gema Insani ini cukup ringkas dan kecil sehingga tidak memakan banyak tempat, pun juga isinya yang cukup ringan namun penuh makna berhasil ditulis dengan apik oleh Hamka.

Dibuka tentang ghirah yang berarti ‘cemburu’ dan bukan ‘semangat’ seperti apa yang orang banyak kira pasca kejadian 411 dan 212. Bab awal buku ini menjelaskan betapa mendarah-dagingnya rasa cemburu yang dimiliki oleh seluruh suku di Indonesia. Dari Minang, Banjar sampai Bugis terkenal dengan sifat ini. Sifat yang cemburu yang dengannya menjaga harga diri dan harkat martabat keluarganya.

Ghirah yang menjadi sebab dicapnya muslim sebagai fanatic oleh Barat karena kegigihannya dalam menjaga muruah pada diri, keluarga maupun agamanya. Namun, hakikatnya semua manusia memiliki ghirah, bahkan tiap daerah memiliki nama atau istilah sendiri untuk menyebutnya. Buku ini mengupas detil tentang ghirah, definisi sampai sebab yang dimunculkan dengan adanya ghirah. Penjelasan dan cerita yang disampaikan di buku ini cukup sederhana tanpa mengurangi maknanya.



Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com