Wednesday, 30 January 2019

Resensi Buku : Bocah Penjinak Angin

Buku ini berkisah tentang sebuah negara kecil dan miskin di Afrika bagian tenggara, bernama Malawi. Tahun 2002, banjir besar diikuti kekeringan dan kegagalan panen nyaris melanda di seluruh negeri. Bencana ini menjadi penyebab awal kelaparan berkepanjangan yang membunuh ribuan warga. Hasil panen jagung, makanan pokok rakyat Malawi, semakin hari semakin menurun. Harga jagung di pasaran semakin melambung tinggi dan tak terjangkau. Sementara itu persediaan jagung di perusahaan pemasaran pengembangan pertanian milik pemerintah (ADMARC) juga semakin menipis.

Frustasi sosial pun terjadi. Tragedi kelangkaan pangan terburuk sepanjang sejarah Malawi. Optimisme untuk hidup lama-lama menjadi sebuah kemewahan bagi warga. Nama-nama bayi yang dilahirkan warga dalam masa krisis tersebut barangkali bisa menjelaskan tingkat frustasi yang dialami. Ada anak yang dinamai Malazani (Habisi saja aku), Manda (batu nisan), Mdzingmange (bunuh diri), bahkan ada orang tua yang memberi nama Phelantuni yang berarti “cepat bunuh aku”.

Frustasi ini juga yang dialami oleh keluarga William Kamkwamba. Ayah dan Ibu William adalah seorang petani jagung. Bencana kekeringan yang parah membuat mereka gagal panen. Dan itu berarti tidak ada uang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. William pun harus putus sekolah ketika SMP karena ketiadaan biaya. Ia menangis ketika ayahnya mengatakan tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Meski sedih, William tidak putus asa. Ia justru ingin membuktikan bahwa di tengah kondisi yang serba sulit, ia masih bisa membanggakan keluarga.

Dan buku Bocah Penjinak Angin ini menjadi saksi betapa kerja keras yang dilakukan oleh William akhirnya dibayar lunas dengan sebuah kesuksesan. Remaja putus sekolah tersebut berhasil membanggakan keluarga bahkan negaranya. Buku ini merupakan kisah keberhasilan William yang ia ceritakan kepada wartawan AP Bryan Mealer. Bryan Mealer adalah wartawan yang lama berkutat menulis berita-berita mengenai Afrika.
Bekerja dan Belajar

Buku ini menceritakan bagaimana setelah putus sekolah, William tetap rajin belajar mengasah pemikirannya. Sembari membantu ayahnya di ladang, William meluangkan waktu untuk membaca di  perpustakan yang didirikan Malawi Teacher Training Activity. Di perpustakaan ini, ia menemukan buku yang nanti akan mengubah total nasib William dan keluarganya. Judulnya, Using Energy.

Buku itu menarik perhatian William karena di dalamnya berisi pengetahuan tentang energi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ide untuk menghasilkan pembangkit listrik kemudian muncul. Listrik memang menjadi masalah di Malawi selain kekeringan dan kelaparan. Tercatat hanya ada dua persen dari sebelas juta penduduk yang mampu mengaksesnya. Untuk mengakses listrik pun bukan perkara mudah. Butuh uang yang mahal dan kesabaran yang ekstra.

Sumber tenaga listrik satu-satunya berasal dari perusahaan listrik milik pemerintah (ESCOM). Untuk bisa meminta ESCOM mengaliri listrik ke rumah di kampung William, diperlukan perjalanan sejauh 100 kilometer dengan menumpang mobil bak terbuka ke ibu kota Lilongwe. Setelah membayar ribuan Kwacha (mata uang Malawi), beberapa formulir harus diisi. Formulir ini harus mencantumkan peta menuju rumah tempat listrik akan disambung supaya  petugas ESCOM tidak tersesat. Orang yang meminta pemasangan listrik pun masih harus membayar biaya kabel dan tiang listrik. Tidak hanya itu, sang pelanggan harus siap dengan pemadaman listrik yang biasanya dilakukan pemerintah pada malam hari (halaman 117). Susahnya akses listrik inilah yang membuat mayoritas warga Malawi menghentikan aktivitas ketika matahari sudah terbenam.

Berangkat dari situ, William memulai serangkaian eksperimen yang ia pelajari dari buku Using Energy. Salah satunya membuat pembangkit listrik tenaga angin. Untuk itu, tentu ia harus membuat kincir angin terlebih dahulu. Setiap hari ia pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari rongsokan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kincir. Ia memperoleh kabel bekas, kipas, pipa PVC, baterai radio, sampai rantai sepeda yang semuanya dirakit di dalam kamarnya.

Upaya ini bukan tanpa hambatan. Ketika ia sedang mencari rongsokan, anak-anak sekolah mengejeknya dengan sebutan misala, orang gila. Tetangga-tetangga pun menganggap bahwa ia sudah terlalu frustasi karena kelaparan. Ibunya pun bahkan marah-marah karena peralatan masak di dapur selalu hilang digunakan untuk eksperimen William. William tak mendengarkan itu semua. Bersama dua sahabat karib, Geoffrey dan Gilbert, proyek pembuatan kincir angin itu terus ia kerjakan. Dibarengi dengan harapan-harapan untuk membanggakan keluarga dan berguna bagi Malawi.

Usahanya tak sia-sia. Berbulan-bulan setelah berkutat dengan benda-benda rongsokan, kincir angin pun berhasil dibuat. Kincir angin itu dipasang di belakang rumahnya. Ketika anak itu hendak memanjat kincir anginnya, tetangga-tetangga di dekat rumah berkumpul. Sambil mengejek mereka menanti tingkah apalagi yang akan dilakukan oleh anak berusia 14 tahun tersebut. Angin berembus kencang dan kincir pelan-pelan berputar semakin kencang. Keajaiban terjadi! Kincir yang memutar dinamo sepeda bertegangan 12 volt ini mampu menyalakan lampu neon yang dipasang William.

Para penduduk yang tadi mengejek pun terdiam dan menjadi saksi bahwa “kegilaan” William terbukti berhasil. Setelah eksperimen awal tersebut berhasil menyalakan lampu neon, William kemudian mampu mengalirkan listrik untuk menerangi rumahnya. Tetangga-tetangganya pun berdatangan sekadar untuk menumpang men-charge telepon genggam. Tidak hanya itu, ia juga mampu menyalakan pompa air untuk mengaliri ladangnya. Setelah itu, kabar mengenai keberhasilan William tersebar ke seantero negeri. Ia bahkan menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional mengenai energi.

Buku ini, menjadi penanda sebuah kisah yang inspiratif. Sebuah kisah tentang kerja keras yang tak kunjung habis. Kisah seorang anak yang putus sekolah, nyaris meninggal karena kelaparan parah, namun mampu bangkit dan menjadi pahlawan bagi keluarga dan negerinya.

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari buku yang menginspirasi khususnya bagi saya ini. Bahwa saat ia tersingkir dari bangku sekolah ternyata tidak membuat ia patah semangat. Sementara terus bekerja membantu orangtuanya, William terus belajar. Sejumlah buku fisika dan teknik listrik dari perpustakaan dilalapnya. Meskipun banyak hal yang tidak ia mengerti, namun kemauan keras telah membuka jalan kepadanya untuk memahami hal-hal tersebut. Apa yang sebelumnya dipahami secara samar, dengan studi pustaka, hal itu menjadi lebih jelas. Kesungguhan itu akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendirikan sebuah kincir angin yang menghasilkan tenaga listrik. Orang-orang yang semula menganggap William "tidak waras" akhirnya mengakui kehebatannya. Sukses inilah yang mengantarkan William menghadiri konferensi TED (Technology, Entertainment and Design). TED adalah sebuah pertemuan tahunan dimana para penemu, ilmuan dan pencipta, berbagi gagasan dan ide. Dari apa yang dialami William, kita dapat belajar bahwa keterbatasan dan kekurangan tidak selalu menghambat usaha atau mimpi seseorang. Sebaliknya kendala itu sesungguhnya mendorong seseorang untuk lebih kreatif. Barang bekas, benda-benda rongsokan misalnya, dapat diubah menjadi benda-benda yang lebih berguna. Bagi William tujuannya adalah satu, membangun sesuatu yang ia percaya kelak dapat melepaskan keluarganya dari kemiskinan dan kelaparan.

Pencapaian William tidak diraih dengan mudah. Kewajiban untuk membantu orangtua di ladang, kemiskinan, dukungan yang minim dari orang-orang di sekitarnya, adalah bukti bahwa mimpinya sulit untuk dicapai. Namun, keinginan yang kuat telah membalikkan keadaan itu. William pun menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di desanya. Ia tidak banyak bicara. Namun karyanyanyalah yang berbicara dan menunjukkan siapa William sesungguhnya. Selain sepak terjang William, buku ini juga mengisahkan selintas mengenai Afrika secara antropologis. Kepercayaan tradisional Afrika ternyata menjadi salah satu penghambat kemajuan. Sihir dan tahayul lebih sering mendapatkan tempat lebih luas dalam jalan pikiran mereka ketimbang hal-hal yang rasional. Sementara itu, dari dunia politik, diceritakan selintas dalam buku ini bagaimana lembaga-lembaga resmi di negeri itu telah melakukan korupsi yang tidak tanggung-tanggung. Akibatnya kemiskinan kian meluas. Pemerintah yang tidak memedulikan rakyatnya turut memperparah kondisi ini. Namun, mimpi dan semangat perubahanlah yang dapat merombak keadaan.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com