Wednesday, 30 January 2019

Resensi Buku : Whatever You Think Think The Opposite

Buku yang ditulis oleh Paul Arden yang mengajak kita agar selalu berpikir apa yang tidak orang lain pikirkan. Buku ini membuat kita tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang sudah di ambil dan akan menjadikannya sebagai sebuah keberuntungan. Banyak ilustrasi yang digambarkan dibuku ini yang membuat kita punya sudut pandang baru dalam menyikapi berbagai hal. Berikut beberapa hal yang menarik bagi saya
Kadang hidup tak seperti yang diharapkan sehingga membuat kamu mengambil keputusan yang aman dan sama dengan yang lain. Hidupmu akan sama dengan yang lain dan itu membosankan. Hal itu membuatmu berandai-andai jika hidupmu bisa berubah. Pilihan lain adalah melakukan yang kamu inginkan dan pastikan meraih impianmu. Kamu akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang dibutuhkan. Tentunya bukan keputusan yang aman dan seperti yang dipikirkan oleh orang lain. Kamu akan bertanggaung jawab dengan hal itu dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang kamu impikan. Bukan hal mudah, tapi akan ada jalan. Percayalah, kamu akan meraih impianmu di waktu yang tepat. Orang-orang yang menyayangimu akan membantumu dengan caranya masing-masing.
Lakukan saja, kemudian perbaiki seiring berjalannya waktu. Jangan biarkan ketakutan menguasai dirimu. Rencana tetap dibutuhkan sebagai pendamping langkah pertama. Alasan yang belum sempurna jang dijakidakan pembenaran untuk tidak mmekakukan rencana tersebut. Rencana harus tetap dijalankan sambil disempurnakan dalam perjalanannya.
Share:

Resensi Buku : Bocah Penjinak Angin

Buku ini berkisah tentang sebuah negara kecil dan miskin di Afrika bagian tenggara, bernama Malawi. Tahun 2002, banjir besar diikuti kekeringan dan kegagalan panen nyaris melanda di seluruh negeri. Bencana ini menjadi penyebab awal kelaparan berkepanjangan yang membunuh ribuan warga. Hasil panen jagung, makanan pokok rakyat Malawi, semakin hari semakin menurun. Harga jagung di pasaran semakin melambung tinggi dan tak terjangkau. Sementara itu persediaan jagung di perusahaan pemasaran pengembangan pertanian milik pemerintah (ADMARC) juga semakin menipis.

Frustasi sosial pun terjadi. Tragedi kelangkaan pangan terburuk sepanjang sejarah Malawi. Optimisme untuk hidup lama-lama menjadi sebuah kemewahan bagi warga. Nama-nama bayi yang dilahirkan warga dalam masa krisis tersebut barangkali bisa menjelaskan tingkat frustasi yang dialami. Ada anak yang dinamai Malazani (Habisi saja aku), Manda (batu nisan), Mdzingmange (bunuh diri), bahkan ada orang tua yang memberi nama Phelantuni yang berarti “cepat bunuh aku”.

Frustasi ini juga yang dialami oleh keluarga William Kamkwamba. Ayah dan Ibu William adalah seorang petani jagung. Bencana kekeringan yang parah membuat mereka gagal panen. Dan itu berarti tidak ada uang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. William pun harus putus sekolah ketika SMP karena ketiadaan biaya. Ia menangis ketika ayahnya mengatakan tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Meski sedih, William tidak putus asa. Ia justru ingin membuktikan bahwa di tengah kondisi yang serba sulit, ia masih bisa membanggakan keluarga.

Dan buku Bocah Penjinak Angin ini menjadi saksi betapa kerja keras yang dilakukan oleh William akhirnya dibayar lunas dengan sebuah kesuksesan. Remaja putus sekolah tersebut berhasil membanggakan keluarga bahkan negaranya. Buku ini merupakan kisah keberhasilan William yang ia ceritakan kepada wartawan AP Bryan Mealer. Bryan Mealer adalah wartawan yang lama berkutat menulis berita-berita mengenai Afrika.
Bekerja dan Belajar

Buku ini menceritakan bagaimana setelah putus sekolah, William tetap rajin belajar mengasah pemikirannya. Sembari membantu ayahnya di ladang, William meluangkan waktu untuk membaca di  perpustakan yang didirikan Malawi Teacher Training Activity. Di perpustakaan ini, ia menemukan buku yang nanti akan mengubah total nasib William dan keluarganya. Judulnya, Using Energy.

Buku itu menarik perhatian William karena di dalamnya berisi pengetahuan tentang energi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ide untuk menghasilkan pembangkit listrik kemudian muncul. Listrik memang menjadi masalah di Malawi selain kekeringan dan kelaparan. Tercatat hanya ada dua persen dari sebelas juta penduduk yang mampu mengaksesnya. Untuk mengakses listrik pun bukan perkara mudah. Butuh uang yang mahal dan kesabaran yang ekstra.

Sumber tenaga listrik satu-satunya berasal dari perusahaan listrik milik pemerintah (ESCOM). Untuk bisa meminta ESCOM mengaliri listrik ke rumah di kampung William, diperlukan perjalanan sejauh 100 kilometer dengan menumpang mobil bak terbuka ke ibu kota Lilongwe. Setelah membayar ribuan Kwacha (mata uang Malawi), beberapa formulir harus diisi. Formulir ini harus mencantumkan peta menuju rumah tempat listrik akan disambung supaya  petugas ESCOM tidak tersesat. Orang yang meminta pemasangan listrik pun masih harus membayar biaya kabel dan tiang listrik. Tidak hanya itu, sang pelanggan harus siap dengan pemadaman listrik yang biasanya dilakukan pemerintah pada malam hari (halaman 117). Susahnya akses listrik inilah yang membuat mayoritas warga Malawi menghentikan aktivitas ketika matahari sudah terbenam.

Berangkat dari situ, William memulai serangkaian eksperimen yang ia pelajari dari buku Using Energy. Salah satunya membuat pembangkit listrik tenaga angin. Untuk itu, tentu ia harus membuat kincir angin terlebih dahulu. Setiap hari ia pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari rongsokan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kincir. Ia memperoleh kabel bekas, kipas, pipa PVC, baterai radio, sampai rantai sepeda yang semuanya dirakit di dalam kamarnya.

Upaya ini bukan tanpa hambatan. Ketika ia sedang mencari rongsokan, anak-anak sekolah mengejeknya dengan sebutan misala, orang gila. Tetangga-tetangga pun menganggap bahwa ia sudah terlalu frustasi karena kelaparan. Ibunya pun bahkan marah-marah karena peralatan masak di dapur selalu hilang digunakan untuk eksperimen William. William tak mendengarkan itu semua. Bersama dua sahabat karib, Geoffrey dan Gilbert, proyek pembuatan kincir angin itu terus ia kerjakan. Dibarengi dengan harapan-harapan untuk membanggakan keluarga dan berguna bagi Malawi.

Usahanya tak sia-sia. Berbulan-bulan setelah berkutat dengan benda-benda rongsokan, kincir angin pun berhasil dibuat. Kincir angin itu dipasang di belakang rumahnya. Ketika anak itu hendak memanjat kincir anginnya, tetangga-tetangga di dekat rumah berkumpul. Sambil mengejek mereka menanti tingkah apalagi yang akan dilakukan oleh anak berusia 14 tahun tersebut. Angin berembus kencang dan kincir pelan-pelan berputar semakin kencang. Keajaiban terjadi! Kincir yang memutar dinamo sepeda bertegangan 12 volt ini mampu menyalakan lampu neon yang dipasang William.

Para penduduk yang tadi mengejek pun terdiam dan menjadi saksi bahwa “kegilaan” William terbukti berhasil. Setelah eksperimen awal tersebut berhasil menyalakan lampu neon, William kemudian mampu mengalirkan listrik untuk menerangi rumahnya. Tetangga-tetangganya pun berdatangan sekadar untuk menumpang men-charge telepon genggam. Tidak hanya itu, ia juga mampu menyalakan pompa air untuk mengaliri ladangnya. Setelah itu, kabar mengenai keberhasilan William tersebar ke seantero negeri. Ia bahkan menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional mengenai energi.

Buku ini, menjadi penanda sebuah kisah yang inspiratif. Sebuah kisah tentang kerja keras yang tak kunjung habis. Kisah seorang anak yang putus sekolah, nyaris meninggal karena kelaparan parah, namun mampu bangkit dan menjadi pahlawan bagi keluarga dan negerinya.

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari buku yang menginspirasi khususnya bagi saya ini. Bahwa saat ia tersingkir dari bangku sekolah ternyata tidak membuat ia patah semangat. Sementara terus bekerja membantu orangtuanya, William terus belajar. Sejumlah buku fisika dan teknik listrik dari perpustakaan dilalapnya. Meskipun banyak hal yang tidak ia mengerti, namun kemauan keras telah membuka jalan kepadanya untuk memahami hal-hal tersebut. Apa yang sebelumnya dipahami secara samar, dengan studi pustaka, hal itu menjadi lebih jelas. Kesungguhan itu akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendirikan sebuah kincir angin yang menghasilkan tenaga listrik. Orang-orang yang semula menganggap William "tidak waras" akhirnya mengakui kehebatannya. Sukses inilah yang mengantarkan William menghadiri konferensi TED (Technology, Entertainment and Design). TED adalah sebuah pertemuan tahunan dimana para penemu, ilmuan dan pencipta, berbagi gagasan dan ide. Dari apa yang dialami William, kita dapat belajar bahwa keterbatasan dan kekurangan tidak selalu menghambat usaha atau mimpi seseorang. Sebaliknya kendala itu sesungguhnya mendorong seseorang untuk lebih kreatif. Barang bekas, benda-benda rongsokan misalnya, dapat diubah menjadi benda-benda yang lebih berguna. Bagi William tujuannya adalah satu, membangun sesuatu yang ia percaya kelak dapat melepaskan keluarganya dari kemiskinan dan kelaparan.

Pencapaian William tidak diraih dengan mudah. Kewajiban untuk membantu orangtua di ladang, kemiskinan, dukungan yang minim dari orang-orang di sekitarnya, adalah bukti bahwa mimpinya sulit untuk dicapai. Namun, keinginan yang kuat telah membalikkan keadaan itu. William pun menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di desanya. Ia tidak banyak bicara. Namun karyanyanyalah yang berbicara dan menunjukkan siapa William sesungguhnya. Selain sepak terjang William, buku ini juga mengisahkan selintas mengenai Afrika secara antropologis. Kepercayaan tradisional Afrika ternyata menjadi salah satu penghambat kemajuan. Sihir dan tahayul lebih sering mendapatkan tempat lebih luas dalam jalan pikiran mereka ketimbang hal-hal yang rasional. Sementara itu, dari dunia politik, diceritakan selintas dalam buku ini bagaimana lembaga-lembaga resmi di negeri itu telah melakukan korupsi yang tidak tanggung-tanggung. Akibatnya kemiskinan kian meluas. Pemerintah yang tidak memedulikan rakyatnya turut memperparah kondisi ini. Namun, mimpi dan semangat perubahanlah yang dapat merombak keadaan.
Share:

Resensi Buku : Startupreneur Karya Hendri E. Ramadhan

Buku Startupreneur yang ditulis oleh Hendri E. Ramadhan menjadi buku favorit diantara buku yang say abaca bulan ini. Buku ini menargetkan segmentasi pasarnya kepada orang-orang yang ingin belajar dan mendirikan startup khususnya dalam kerangka entrepreneur. Buku ini dikeluarkan pada tahun 2016 dan menjadi buku yang tinggi peminatnya. Berawal dari sebuah pengalaman dan pelatihan yang didapatkan oleh penulis menjadikan buku ini lengkap dengan teori dan aplikasiannya.

Beberapa buku yang saya baca mengenai bagaimana cara terbaik untuk mendirikan startup atau bisnis era modern kurang memberikan wawasan yang to the point. Pada buku ini, hal yang saya dapatkan secara jelas dan langsung ialah buku Startupreneur menjelaskan secara langsung dari tatanan konsep hingga teknis dengan ringkas, padat dan sangat jelas. Sehingga, saya merasa sangat memahami dan dimudahkan untuk membuat startup.

Pada sisi lain, penulis menulis buku ini pengalaman ia menjadi delegasi Indonesia pada pelatihan bisnis di Malaysia. Pada saat itu ia hanya satu-satunya orang Indonesia yang lolos tahap seleksi dengan karya bisnisnya yaitu  LabSatu.com, market place pertama tentang kebutuhan lab. Ia melihat potensi peluang yang sangat besar dan mendapatkan apresiasi sebagai 10 peserta terbaik dengan karyanya. Ia juga menuangkan ilmu yang sangat luar biasa yang didapatkannya dari petinggi-petinggi unicorn, investor facebook, pemegang andil pada startup unicorn di Silicon Valley ditambah dengan pengalaman menjadi sebuah tulisan yang sangat membantu.

Buku ini juga menjelaskan sangat detailnya proses yang dilakukan oleh orang-orang diluar sana saat mendirikan startup. Mulai dari proses memahami apa yang dirasakan oleh pelanggan melalui konsep design thinking. Kemudian ada strategi dan model bisnis, proporsi nilai pelanggan sampai dengan strategi Go-To-Market dan manajemen sales.

Selain itu juga buku ini dilengkap dengan informasi menarik yang tidak dimiliki buku pada umumnya. Yaitu membertahu akses yang bisa dipergunakan seperti informasi terhadap customer atau pelanggan mengenai hal-hal yang bisa menjadi supporting system dari startup yang didirikan. Mulai dari data kantor Co-Working Space, buku referensi, media sosial startup, sampai            program akselerator dan incubator startup.

Buku Startupreneur sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi kalangan yang ingin memulai dan merintis bisnis startupnya. Insight yang didapat tidak hanya bisa diaplikasikan dalam berbisnis tapi bisa juga dalam kehidupan berorganisasi bagi kalangan mahasiswa. Selanjutnya, saya akan meneruskan buku seri selanjutnya dari buku Startupreneur ini.
Share:

Resensi Buku : Ghirah - Buya Hamka



Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab, kehilangan ghirah sama dengan mati!

Siapa yang tidak pernah mengenal kalimat di atas? Potongan kalimat dari buku Ghirah yang ditulis oleh Buya Hamka sedikit banyak memberi gambaran betapa pentingnya ghirah bagi muslim.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Gema Insani ini cukup ringkas dan kecil sehingga tidak memakan banyak tempat, pun juga isinya yang cukup ringan namun penuh makna berhasil ditulis dengan apik oleh Hamka.

Dibuka tentang ghirah yang berarti ‘cemburu’ dan bukan ‘semangat’ seperti apa yang orang banyak kira pasca kejadian 411 dan 212. Bab awal buku ini menjelaskan betapa mendarah-dagingnya rasa cemburu yang dimiliki oleh seluruh suku di Indonesia. Dari Minang, Banjar sampai Bugis terkenal dengan sifat ini. Sifat yang cemburu yang dengannya menjaga harga diri dan harkat martabat keluarganya.

Ghirah yang menjadi sebab dicapnya muslim sebagai fanatic oleh Barat karena kegigihannya dalam menjaga muruah pada diri, keluarga maupun agamanya. Namun, hakikatnya semua manusia memiliki ghirah, bahkan tiap daerah memiliki nama atau istilah sendiri untuk menyebutnya. Buku ini mengupas detil tentang ghirah, definisi sampai sebab yang dimunculkan dengan adanya ghirah. Penjelasan dan cerita yang disampaikan di buku ini cukup sederhana tanpa mengurangi maknanya.



Share:

Thursday, 3 January 2019

Resensi Buku : 5 cm




Judul       : 5 CM
Penulis    : Donny Dhirgantoro         
Penerbit  : Grasindo                      
Editor      : A. Ariobimo Nusantara       
tebal        : 381 hal                   
ISBN       : 978-979-081-852-1

                                     

Halo! Disini saya ingin sedikit membagikan ulasan mengenai buku yang sudah cukup mainstream saat ini.. Buku apa itu? Saya yakin kamu sudah mengenal buku yang satu ini…. YAP betul!! Buku atau Novel 5 cm ini sebuah buku pertama yang saya baca dan masih ingat betul bagaimana saat saya memulai membiasakan diri untuk membaca. Buku ini bukan hanya isi nya yang sangat inspiratif. Melainkan buku ini juga enceritakan tentang Persahabatan, Mimpi, dan Cinta yang dapat mengubah segalanya. Penyampaiyan yang dikemas sederhana tapi dapat sangat indah. Bahkan buku ini membawa pola pikir saya hingga kala itu semasa SMA saya menjadi seorang Ketua Umum Pecinta Alam di SMAN 59 Jakarta.

Baik, langsung kita masuk kepada isi cerita pada novel ini. Terdapat 5 tokoh utama di dalamnya, Genta, Arial, Riani, Zafran, dan Adrian (Ian), ditambah Arinda, adiknya Arial. Menceritakan kehidupan khas remaja. Selama sepuluh tahun mereka bersahabat dan pada suata ketika, Genta, Sang Leader mengusulkan untuk sejenak keluar dari lingkaran persahabatan dulu. agar mereka tidak terpaku pada kebiasaan yang “itu-itu” saja. Dan melihat bahwa dunia kita ini sangat luas.

Mereka berjanji selama 3 bulan tidak boleh saling menguhubungi satu sama lain. Biarkan semua berjalan sesuai dengan keinginan masing-masing. Mereka tahu bahwa dunia ini sangat luas, dan masih banyak mimpi yang belum mereka dapat.

Setelah 3 bulan berlalu, mereka bertemu kembali. Atas ajakan Genta, mereka pergi ke salah satu puncak gunung tertinggi di Pulau jawa yaitu Mahameru.

Di perjalanan menuju Mahameru mereka mengalami banyak peristiwa yang sangat jarang mereka lihat di kota. Mereka melihat seorang nenek yang sudah tua namun masih berjualan nasi pecel di setiap malam, seorang supir angkot yang berubah hidupnya setelah menaiki Mahameru, dan kisah temannya Deniek yang hilang saat pendakian, tidak di temukan, dan jasadnya pun tidak ada.

Dalam pendakian mereka juga mendapatkan banyak pelajaran untuk tidak mudah menyerah. Tepat tanggal 17 agustus kala itu mereka merayakan Hari Kemerdekaan diatas tanah tertinggi di Jawa. Isak tangis para pendaki lainnya mengiringi acara tersebut. sangat mengharukan.
     
     Sedangkan kata ‘5 cm’ itu bermaksud agar kita menaruh Impian kita 5 cm di depan kening, jangan cuman menempel, biarkan mimpi itu menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening, jadi Impian itu tidak akan pernah lepas dari mata kamu.
  
“...yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpinya dan keyakinanya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya...”

Di dalam buku ini juga banyak Quote-quote dari para tokoh inspiratif dunia yang bertaburan dari awal sampai akhir. Sangat memotivasi seseorang agar lebih menghargai Hidup, dan tidak meremehkan kekuatan sebuah MIMPI.

Banyak juga dialog-dialog khas remaja yang ringan namun tidak lupa juga ditambahkan denga sentuhan Humor.

Namun ada juga kekurangan di dalam Novel ini. Yaitu, terlalu banyak lirik-lirik lagu, yang menurut saya, itu sangat menganggu. Dan yang kedua scene pada film yang menggambarkan jalan cerita pada novel kurang memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait standard prosedur pendakian yang benar. Meskipun begitu, pengaruh dari novel ini sangat positif bagi para pembacanya terutama saya.

Pada tahun kemarin, 12 Desember 2012. Novel ini di filmkan oleh Rizal Mantovani. Dan menjadi film pertama di Indonesia yang berada di atas awan puncak tertinggi di Jawa. Para pemeran dalam film tersebut adalah Fedi Nuril sebagai Genta, Herjunot Ali sebagai Zafran, Denny Sumargo sebagai Arial, Raline Syah sebagai Riani, Igor saykoji sebagai Adr(IAN) dan Pevita Pearce sebagai Arinda.

Menurut saya, Buku ini tidak hanya sebagai pemberi inspirasi. Ini adalah buku pertama yang saya baca dan memberikan kesan positif terhadap ketertarikan saya pada dunia membaca juga pecinta alam.

Dream, Faith, and Fight!!
-Maxwedo-
IG : maxwedo_

Share:

Tuesday, 1 January 2019

Resensi Buku : How to Win Friends and Influence People in The Digital Age


How to Win Friends and Influence People in The Digital Age”

  A.      Resume
                Buku ini merupakan salah satu buku tentang manajemen manusia dan kepemimpinan terbaik yang pernah ada. Hampir menyentuh usia yang ke-80 pada 2018, buku yang ditulis oleh Dale Carnegie ini membuktikkan kualitas dan keampuhan isinya. Karya klasik yang dianggap sebagai buku motivasi paling sukses sepanjang masa dan sudah terjual sebanyak 30 juta eksemplar di seluruh dunia ini telah membawa jutaan pembaca mendaki anak tangga kesuksesan dalam bisnis serta kehidupan pribadi.

                 Isi buku fenomenal ini bersumber dari sosok Dale Carnegie, seorang berkebangsaan Amerika yang dikenal dengan pemberdaya potensi manusia. Bayangkan saja, Dale Carnegie mencatat sejarah dengan mengadakan kelas public speaking pertamanya pada tahun 1912 atau 106 tahun yang lalu. Dia ingin membentuk manusia menjadi individu yang percaya diri, menarik, sekaligus berpengaruh untuk lingkungan sekitarnya. Dari situ juga buku ini dibuat, agar memberikan pembekalan ilmu lebih dalam tentang bersosialisasi, membangun hubungan dan interaksi dengan orang lain, sekaligus mengopitmalkan semua potensi di era digital ini.


Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai ketergantungan satu sama lain atau lebih dikenal dengan istilah makhluk sosial. Dan dalam kumpulan manusia-manusia selalu ada (satu) orang yang berpengaruh, sifat itu berada di sosok seorang pemimpin: seseorang yang bisa memberi manfaat dan pengaruh ke sekelilingnya. Indikasi sederhananya adalah hubungan antar sesama semakin harmonis dan tidak adanya kesenjangan. Salah satu kunci utama seorang pemimpin mewujudkan itu adalah dengan kemampuannya dalam hal komunikasi.

Untuk menjadi orang yang berilmu sesederhana membaca buku sebanyak-banyaknya, tapi jika ingin menjadi orang yang berpengaruh, jadilah pendengar yang baik. Berpengaruh artinya kita mempunyai pesan (positif) yang disampaikan dan apa yang sudah kita berikan
diterapkan oleh lawan komunikasi kita. Kunci utama memang menjadi pendengar yang baik terlebih dulu, mendengarkan apa yang sedang digelisahkan oleh orang-orang di sekitar kita.

Semacam sebuah sistem, ada input-process-output. Dengan menjadi pendengar yang baik, kita sudah mendapat banyak input yang selanjutnya kita proses untuk memberikan output berupa solusi kepada orang lain. Ketika kita menjadi pendengar yang baik, kita akan bisa memberikan solusi yang baik pula. Hal-hal itulah yang diajarkan pada buku ini.

Buku ini seperti tutorial praktis berkomunikasi dengan orang lain. Kita juga diingatkan dengan pelajaran dasar ketika kita masih mengenakan seragam merah putih. Buku ini membahas ketulusan, tenggang rasa, toleransi, dan segala hal baik yang harus kita lakukan kepada orang lain supaya orang lain juga melakukan hal yang sama kepada kita.


  B.      Kesan

Kesan pertama saya ketika melihat buku ini sangatlah tertarik dan ingin segera membeli serta membacanya. Warna yang mencolok ditambah desain hologram semakin menambah kesan menarik dari buku ini. Pun karena saya pribadi juga menekuni dunia organisasi dan kepemimpinan, saya sangatlah ingin untuk menjadi seorang pemimpin sejati yang dapat memberikan kebermanfaatan dan impact yang besar bagi lingkungan sekitar. Hal-hal yang saya cari tersebut ternyata sangat gamblang dijelaskan dalam buku karya Dale Carnegie ini. Langkah-langkah penjabaran yang konkret namun dijelaskan dengan simpel, menambah keasyikan dan keseruan menyerap ilmu dengan membacanya.

Beberapa poin yang saya temukan dan catat dari How to Win Friends and Influence People in The Digital Age ini adalah :
  1. Yang Perlu Dilakukan Dalam Keterlibatan: yaitu bagaimana memulai untuk berinteraksi dan terlibat dengan orang lain. 3 hal utama yang perlu diperhatikan adalah untuk mengubur bumerang (hal yang bisa berbalik menyerang diri), menegaskan hal-hal yang baik dan menyentuh keinginan inti.
  2. Memberikan Kesan yang Bertahan Lama: yaitu dengan cara menunjukkan minat terhadap orang lain, tersenyum, berkuasa dengan nama (mengedepankan nama mereka), menyimak lebih lama, membahas apa yang penting bagi mereka dan membuat mereka merasa lebih baik.
  3. Mendapatkan dan Menjaga Kepercayaan Orang Lain: yaitu dengan cara menghindari argumen, jangan pernah berkata “kau salah”, mengakui kesalahan dengan cepat dan sungguh-sungguh, mengawali dengan sikap ramah, mengakses afinitas (ketertarikan untuk saling terikat), membiarkan orang lain mendapat pengakuan, terlibat secara empatik, menggugah sifat mulia, membagi perjalanan dan memberikan tantangan.
  4. Menuntun Perubahan Tanpa Penolakan atau Kebencian: yaitu dengan cara mengawali dengan positif, mengakui kekurangan sendiri, menyampaikan kesalahan tanpa menarik perhatian, mengajukan pertanyaan daripada memberi perintah secara langsung, memperingan kesalahan, fokus pada kemajuan, menyematkan reputasi baik pada orang lain dan terus terhubung pada pijakan yang sama.

Walaupun terkadang individu dapat menjaga sebuah hubungan yang produktif dan progresif tanpa kehadiran secara fisik dalam frekuensi yang sewajarnya, tidak ada orang di dunia ini yang bisa menjaga pengaruh progresif tanpa kedekatan dalam konteks hubungan. Upaya-upaya terhebat adalah upaya yang saling tergantung dan interaktif. Dan pada akhirnya, seni mendapatkan teman dan mempengaruhi orang lain dalam era digital ditentukan oleh aktivitas menjalin hubungan dan terus berhubungan dalam pijakan yang sama.

  C.      Data Buku

ISBN                                      : 9789792282504
Penerbit                                 : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit                        : 12 Maret 2012
Penulis                                   : Dale Carnegie
Genre                                     : Nonfiksi, Pengembangan Diri
Tebal                                      : 350 Halaman
Pembatas Buku                     : Tidak Ada
Estimasi Waktu                      : 24 Jam
Membaca
Rating                                    : 10/10

Resensi ini ditulis oleh Langit Biru. Mahasiswa Sekolah Bisnis IPB angkatan 2017. IG : @langitbiru71
Share:

Resensi Buku : Merindu Baginda Nabi


2018 Memberikan warna baru tentang hadirnya sebuah Novel yang mengulas realita kehidupan dan kerinduan baginda nabi yang terangkum dalam 178 halaman , di karang oleh seorang novelis sejati , komitmen besar dari tiap karya ciptanya adalah membangunkan jiwa dari setiap pembaca , ia biasa di sapa kang abik (Habiburrahman El-Shirazy).

Sebuah novel berjudul "Merindu Baginda Nabi" memberikan sentilan halus akan mulianya sifat kerendahan hati , tak mau di panggil Kyai walau sederet kontribusi besar membangun desa dari pesantren telah ia lakoni , sapaan hangat masyarakat padanya pak Nur ,adalah ayah asuh dari seorang gadis istimewa ,yang memiliki masa kelam ditelantarkan oleh ibu kandungnya sendiri. Keteladanan dan kasih sayang Pak Nur dan Bu salamah memberikan peranan besar atas kesuksesan akhlak dan pendidikan anak asuhnya Syarifatul Bariyah. 

Sebuah pesan menarik di sampaikan halus tepat sebelum keberangkatan rifa (sapaan Syarifatul Bariyah) ke San Jose , Amerika Serikat ,karna dinyatakan lolos sebagai delegasi untuk mengikuti kegiatan Exchange Youth For World Peace . 

“Nduk, bertakwalah kepada Allah , di mana saja kamu berada.  Dan ingat, jangan sampai kau membuat malu Baginda Nabi!  Ingat, jangan sampai kau membuat malu Baginda Nabi!” 

Pesan singkat yang mendesir hati rifa untuk menjaga akhlaknya sebagai representasi seorang muslimah. Begitupun saya sebagai pembaca , takjub , karna tak banyak orang tua yang berpesan demikian untuk kepergian seorang anak yang akan meninggalkannya. Kemulian akhlaknya memberikan warna baru bagi keluarga asuhnya tak lain karna  rifa paham sekali tentang makna pesan ayahnya .

Lalu pesan singkat mencambuk tentang pola berfikir saya , mendalami Kebesaran Allah , dan Keagungannya dalam sifat Ar-Rahman Ar-rahiim, pesan tersebut terkutip dari penggalan kalimat hal.86.

“Kalau Allah bersamamu, apalagi yang kamu khawatirkan?”

Di akhir novel tersebut menampar saya dengan rasa iri  , air matanya menetes tentang tanda akan kerinduannya pada baginda nabi , ia pak nur ayah asuh rifa , berkata dengan ketulusan "Nduk abah ingin sowan ke makam baginda nabi" , terpecah sebuah misteri karna belakangan ayahnya menyendiri dan matanya berkaca menatap haru .  Ajal tak pernah di nanti , pak nur meninggal dalam keadaan nikmat di masjid Nabawi.

Novel ini memberikan asupan iman kita untuk memperkokoh keyakinan akan keesaan Allah , dan kecintaan yang mendalam pada baginda Nabi akan terealisasi pada bentuk kesuksesan luar biasa , kesuksesan fiddunya wal akhirah.

Resensi ini ditulis oleh Andi Firmansyah. Mahasiswa Ekonomi Syariah IPB angkatan 2017. IG : @andifirmansyah
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com