Friday, 3 May 2019

Resensi Buku - Hidup yang Lebih Berarti



Banyak kisah yang menarik dan membuat semangat hidup saya mulai bangkit kembali setelah sekian waktu tertidur dalam buaian manja. Setelah membaca buku ini, beberapa kisah pun menjadi favorit saya karena banyak sekali pelajaran kehidupan yang dapat dipetik, semangat juangnya yang sangat menyentuh hati serta menyadarkan saya bertapa buah kesuksesan itu dapat diraih bukan dengan berbagai kesenangan hidup tetapi dengan air mata, pengorbanan serta daya juang yang tak pernah mengalah pada kegagalan. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh kaum muda seperti saya,  yang di masa sekarang ini sedang mengalami krisis moral dan kepercayaan diri, hidup hedonis serta menurunnya daya juang saat mengalami kegagalan dan lebih mendekatkan pada hal – hal yang membawanya pada tindakan kriminal yang merugikan masa depannya dan orang lain.

Inspirator dalam buku ini sangat universal dan beragam dari jenis kelaminnya, rentang usia dan pekerjaannya. Semuanya terasa menyatu dalam semangat juangnya mengejar matahari, seperti kisah Suwono yang merupakan pensiunan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ponorogo yang berhasil mengubah limbah manusia menjadi pupuk organik (dapat dibaca pada halaman 25-36), ada juga kisah Munadji yang seorang pensiunan guru agama di kota Salatiga yang sukses berbisnis pohon ara / pohon tin (dapat dibaca pada halaman 103 – 106). Kedua sosok ini penuh semangat untuk menginspirasi orang lain lewat karyanya meskipun usianya mulai senja.

Dalam buku ini ada pula, kisah pemberdayaan terhadap mantan “pekerja” lokalisasi Dupak Bangunsari serta kisah dari seseorang yang tidak lulus SD yang berhasil mengkordinasi 3.505 petani dengan omset Rp 31,5 M. Kedua sosok ini, menurut saya adalah malaikat tanpa sayap yang mau membaktikan dirinya untuk menjadi jembatan kesuksesan bagi sesamanya yang kurang beruntung. Kisah terakhir yang menginspirasi saya dari Syarief  Hidayatullah, ia adalah seorang muda yang energik, penuh visi dan misi hidupnya dan unik. Kesuksesan dapat ia gengam di kedua puluh lima usianya  yang membawa kesejahteraan yang luar biasa bagi sesamanya khususnya masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Ia membaktikan dirinya untuk desanya dengan mengelolah sumber daya alam yang sudah tersedia berupa lahan pertanian yang subur serta saluran irigasi yang baik.
Syariefmampu menunjukkan kualitas dirinya dengan keberhasilannya mengembangkan jambu kristal dengan hasil panen rata-rata 200 hingga 250 kg / bulan. Secara tidak langsung, ia berhasil mengembangkan potensi lokal untuk kesejahteraan keluarga dan masyarakat sekitarnya, membuka lapangan kerja yang baru serta ikut mensukseskan program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan. Ia merupakan sosok muda yang patut diteladani bukan hanya oleh pemuda di desanya tetapi juga saya dan semua orang muda di Indonesia yang mulai kehilangan jati dirinya akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi.

Share:

Thursday, 2 May 2019

Resensi Buku : Berbicara itu Ada Seninya


Judul : BICARA ITU ADA SENINYA; Rahasia Komunikasi Yang Efektif
Judul Asli : The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking
Pengarang : Oh Su Hyang
Jumlah halaman : 238 Halaman
Tanggal terbit : Cetakan Keenam, Januari 2019
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP) Kelompok Gramedia
Berbicara memang kelihatannya mudah namun berbicara yang berkesan ternyata cukup sulit. Buktinya masih banyak dari kita yang berbicara asal-asalan, sumbang bahkan nyaris suaranya tidak diterima oleh orang lain. Faktor-faktor apa saja dan kondisi yang bagaimana erat kaitannya dengan keberhasilan kita dalam berbicara, khususnya ketepatan kata-kata pada momen dan suasana yang tepat pula.
Buku ini semacam terapi bagi siapa saja yang masih sulit berbicara dengan PeDe, berbicara yang berkesan dan berbicara yang bisa diterima orang lain. Walau begitu karena buku ini adalah Made in Orang Korea yang tentu punya budaya yang berbeda dengan Orang Indonesia maka paling bijak adalah mengambil sisi positifnya dan meninggalkan sisi negatifnya sebab harus diakui bahwa ada plot yang tidak pas dengan Budaya Orang Indonesia.
Mari kita merieview :
Bab 1 : Perbedaan Juara 1 dan Juara 2 Terletak pada Ucapannya
-- Di tulisan pertama ini Sang penulis dihadapkan pada seorang pria yang kesulitan berbicara dengan lawan jenisnya karena jarang bertemu dan sibuk bekerja, Penulis memberi saran : Bagi wanita, kesan pertama kali bertemu sangat penting. Penampilan yang rapi memberi kesan bagus. Begitu pula dengan gaya bicara. Dan jangan membanggakan diri sendiri dalam percakapan kencan tetapi lebih ke perhatian yang wajar. Dalam hal ini ucapan yang baik dan pede akan memberi kesan pertama yang tentu baik
Di bagian plot kedua sang penulis menjelaskan tentang Penyiar bernama Lee Geum Hee yang punya ucapan menarik dengan narasi "spons"nya, penyiar umumnya berbicara lugas dan logis namun Lee memiliki pesona untuk membuat lawan bicaranya merasa nyaman.
Jika ditengok ke penyiar kita hari ini agaknya memang klop sebab penyiar hari ini kebanyakan berprofesi sebagai pelawak yang tentu bisa membuat nyaman penonton dan tamu di acaranya.
Lee memberitahukan trik bicaranya :
"Pertama, tatap mata lawan. Bintang tamu akan mengungkapkan apapun yang ia sembunyikan bila merasa 'penyiar' ini berusaha untuk mendengarkan dan memahai ceritaku"
-- Nyawa Logika
Di esai ini Penulis berbicara tentang buku Logical Thinking Know-How Do-How dari HR institute
"Orang yang logis dalam hal apapun akan selalu logis. Kita tidak akan menemukan ketidaklogisan dalam pemikirannya atau kalimat dan ucapannya dalam mengungkapkan pemikirannya tersebut..."
Bisa disimpulkan bahwa ucapan yang logis dan spontan adalah ucapan yang bisa diterima orang lain.
Penulis memberikan trik lima hal agar berbicara dengan logika yang kokoh : Berikan alasan yang tepat untuk argumen anda, Hindari lompatan logika dan melebih-lebihkan, Konsisten dalam bersikap, Gunakan kata-kata sederhana dan Tetap tenang.
-- Mengungkapkan Diri lewat Storytelling
Menurut Doug Stevenson (Konsultan Ahli Presentasi dan Pelatih Teknik Mengajar di Amerika), Storytelling adalah ketrampilan berbicara yang sangat bermanfaat baik saat mengajar, pertemuan bisnis, wawancara ataupun kehidupan sehari-hari. Ada empat unsur yang harus masuk yakni tema, konflik, simpati kemudian solusi
Jika dijabarkan berbicara kita harus memancing tema kemudian konflik (argumen, musyawarah, pro/kontra dan debat) kemudian disepakati simpati bersama lalu titik akhirnya adalah berbicara solusi.
Dan Bab-bab selanjutnya menjelaskan mengenai seni dalam berbicara serta memberikan tips dan trik ketika berkomunikasi. 
Share:

Tuesday, 30 April 2019

Resensi Buku : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul                          : Daun yang Jatuh Tak Pernah  Membenci Angin

Pengarang                 : Tere Liye
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan                     : Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman       : 264 halaman


 “Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya”

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, berkisah tentang kenangan dan cinta yang dialami oleh seorang gadis cantik dan pintar bernama Tania. Seperti sebuah lego yang disusun satu persatu hingga menjadi utuh, kisah dalam novel yang di tulis oleh Tere Liye ini sanggup menghanyutkan hati pembaca pada setiap potongan ceritanya. Ketika berumur 11 tahun, kerasnya kehidupan membuat Tania dan Dede—adik Tania—terpaksa mencari uang dengan mengamen dari satu bus kota ke bus yang lainnya, hal tersebut mereka lakukan demi menghidupi diri mereka dan sang ibu yang sakit-sakitan. Ayah Tania meninggal ketika Tania berumur 8 tahun.

Sejak saat itu pula kehidupan mereka yang pas-pasan berbalik menjadi serba kekurangan. Tania, Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan lalu memutuskan untuk tinggal di rumah kardus dekat dengan sungai dan tempat pembuangan. Ketika Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa sengaja Tania menginjak sebuah paku payung pada telapak kaki tanpa alasnya. Tania kecil mencoba menahan rasa sakit sementara adiknya hanya bisa panik tanpa tahu harus melakukan apa. Orang-orang dalam bus hanya melirik Tania yang kesakitan tanpa rasa iba. Ketika itulah, seorang pria muda datang menolong dan membalut kaki Tania dengan sapu tangan putih miliknya. Pria itu bernama Danar, malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk merubah kehidupan Tania, Dede, dan Ibunya. Lambat laun setelah beranjak dewasa, gadis itu akhirnya sadar bahwa perasaan lugu yang diam-diam tumbuh di hatinya sejak dulu bukanlah perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Danar menjadi pria yang membuka babak baru yang lebih baik dalam kehidupan Tania, juga menjadi cinta pertama baginya. Salahkah perasaan ini? Salahkah bila Tania menyukai seseorang itu, seseorang yang menjadi malaikat bagi keluarganya?
Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur maju-mundur yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita hingga menemukan benang merahnya. Walau ini adalah kali pertama saya membaca novel karya Tere Liye, nampaknya saya mulai jatuh cinta dengan gaya penulisan yang sederhana namun bermakna khas beliau. Satu hal yang membuat saya ingin memberikan komentar pada novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yaitu karakter Danar yang saya rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita. Mungkin karena di dalam novel ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan perasaan cintanya, juga ia menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.
“…. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya….”
Share:

Monday, 29 April 2019

Resensi Buku : Self Driving


“the survival of the fittest”
Judul Buku              : Self Driving

Penulis                    : Rhenald Kasali
Penerbit                   : Mizan
Terbit                       : 2014
Jumlah Halaman      : 270 lembar
Meminjam istilah Charles Darwin “the survival of the fittest” yang bermakna makhluk hidup yang mampu bertahan bukanlah yang terkuat fisiknya, namun yang mampu bertahan hidup atas kondisi apapun yang mendera. Mengetahui hal tersebut membuat saya semakin bergegas untuk harus membaca buku ini. Buku ini juga linear dengan gerakan Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi melambungkan harapan akan adanya perbaikan di semua sektor negara kita. Dimana dalam buku ini pun mengarah terhadap semua kekayaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki tidak akan banyak berdayaguna jika manusia yang menggarap dan menjalankannya hanya bermental penumpang. Lihatlah negara-negara sekitar yang tanpa dianugerahi SDA melimpah namun punya hampir segalanya untuk memajukan kehidupan mereka seperti Singapura. Etos kerja dan mental “pengemudi” merupakan bekal untuk hidup yang lebih baik. Buku Self Driving yang ditulis oleh Prof.Rhenald Kasali mengajak semua orang mulai dari orang sekolahan hingga CEO untuk ikut dalam gerakan revolusi mental tersebut, dengan harapan adanya perubahan dari mental “penumpang” menjadi mental “pengemudi”.
Membuat mental seseorang berubah dari seorang penumpang yang cenderung pasif, tidak berani mengambil resiko, sudah puas dengan keadaan sekarang, menyerahkan masalah pada atasan atau orang lain, terlalu membanggakan apa yang telah dicapai sehingga menjadi seorang dengan mental pengemudi yang cirinya adalah seorang inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi seorang tokoh panutan bagi banyak orang bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh kemauan kuat dan beberapa tahapan proses (juga latihan) yang harus dijalani. Di buku bersampul merah yang saya anggap melambangkan passion atau semangat (sehingga lewat buku ini penulis memacu pembaca untuk berani berubah), banyak hal dijelaskan dengan terperinci untuk kita pelajari dan aplikasikan dalam kehidupan keseharian. Di samping gagasan-gagasan mencerahkan yang diberikan penulis disertakan artikel-artikel penunjang yang mampu memberi gambaran yang lebih baik bagi pembaca. Sejauh yang saya baca semua hal ditulis dengan sangat menarik dan aplikatif.
          Prof memberi contoh pada kondisi sekarang. Misal seorang Guru besar Ilmu Teknik (Sipil) yang pintarnya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan.

          Contoh lain adalah keteladanan KH Ahmad Dahlan. Ketika kaum muda baru tertarik berwirausaha di abad ke 21, Ahmad Dahlan sejak muda sudah dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil berdagang batik. Namun, berbeda dengan sebagian besar wirausaha yang steril terhadap perjuangan bangsa, ia justru terlibat dalam organisasi Budi Utomo, Serikat Islam, dan organisasi kepemudaan pada masanya. Pada umur 15 tahun, misalnya, ia pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Di sana, ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran para pembaru Islam. Sejak itulah tekadnya menjadi pembaru begitu kuat. Ia berhasil melepaskan bangsa ini dari aneka belenggu mitos dan kemiskinan. Itu sebabnya pendidikan dan kesehatan menjadi perhatian besar dalam gerakan yang dipimpinnya, yakni. Muhammadiyah, Social Enterprise terbesar dan tertua di Indonesia Seperti salah satu poin di dalam buku ini mengenai disiplin. Saya menyadari buku sebagus apapun jika kita tidak mengaplikasikannya akan mubazir. Hal-hal aplikatif bisa kita jalani dengan terlebih dahulu kita menyelesaikan membaca buku ini. 

          Kalau kalian adalah anak SMA, Mahasiswa Baru, sedang kuliah semester berapa pun dan tingkatan apa pun atau fresh graduate, beli deh buku ini. Karena bagi saya buku ini mampu membuat pikiran saya terbuka sejak baca buku ini. Sadar bahwa sebenernya ilmu tuh banyaknya bukan di kuliah, tapi di luar kuliah. Gimana caranya belajar dari hal-hal sekitar kita.


SELF DRIVING  sederhananya soal memimpin diri kita, tapi memimpin melalui pemikiran-pemikiran, kita diajak berpikir terbuka dengan cara yang asik. Buku yang sangat baik ini isinya ditujukan untuk para pemimpin, para pengajar, namun dapat juga dibaca oleh kita yang masih muda. Tentunya dengan kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Salam Perubahan. 


Share:

Wednesday, 3 April 2019

Resensi Buku : Bob Sadino : Mereka Bilang Saya Gila


 BOB SADINO
Mereka Bilang Saya Gila

Bob Sadino adalah wiraswastawan sukses di bidang agribisnis yang  unik. Jika dilihat dari riwayat hidupnya, Bob Sadino berasal dari keluarga kaya raya. Bob sempat tinggal di Hamburg dan Amsterdam selama kurang lebih 9 tahun. Pada masa puncak kejayaannya sebagai orang kaya, Bob berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya tersebut. Ia merasa ingin menjadi orang miskin dan memulai segalanya dari nol. Alasan Bob melakukan ini karena merasa bosan menjadi orang kaya dan ingin mendapatkan kebebasan dengan tidak menjadi karyawan
Dari kehidupan yang serba berkecukupan hingga menjadi miskin adalah hal yang baru dalam hidup Bob. Bob harus berusaha keras mencari uang supaya ia dan keluarganya tetap bisa makan. Kakak-kakaknya sempat menawarinya bantuan dan rela memberikan apapun yang Bob inginkan. Namun, Bob menolak segala bentuk belas kasihan dari saudara-saudaranya. Ia yakin masih bisa mengatasi semuanya sendiri. “Satu-satunya bantuan yang bisa kalian lakukan adalah jangan bantu saya!”, ujar Bob secara tegas meyakinkan saudara-saudaranya.
Karena desakan kemiskinan, Bob tidak ada pilihan lain selain memulai wiraswasta untuk menyambung hidup. Saat itu, Bob melihat peluang pasar yaitu perbedaan telur ayam lokal dan telur ayam layer (negeri). Ia juga melihat peluang untuk menjual telur-telur tersebut kepada kaum ekspatriat yang tinggal di sekitar tempat tinggal Bob di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Akhirnya, Bob meminta bantuan salah seorang temannya di Belanda untuk mengiriminya anak-anak ayam petelur dan ayam broiler serta kumpulan majalah bertema serupa terbitan Belanda. Tanpa bekal ilmu sama sekali, Bob benar-benar memulai usahanya dari bawah. Bob juga mendapat kiriman majalah-majalah kejuruan terbitan Belanda untuk mempermudah dirinya dalam menekuni usaha tersebut.
Wiraswasta adalah spontanitas
Bob selalu menyatakan bahwa ia melakukan segala sesuatu secara spontan. Terlebih lagi pada kondisinya yang miskin serta tidak bertitel sarjana. Rupanya Bob pernah beberapa bulan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan mengundurkan diri dari perkuliahan. Bob hanya melihat peluang ketika dirinya tidak memiliki pilihan lain selain wiraswasta. Terlebih lagi, Bob tidak memiliki rencana terlebih dahulu dalam menjalani usahanya. Semua dilakukan dengan bertindak cepat.
Pada suatu perbincangan, Bob menyatakan bahwa ia ingin berwiraswasta untuk mencari rugi. Bob menyadari bahwa dalam dunia wiraswasta pasti dipenuhi dengan risiko. Orang yang ingin terjun ke dalam dunia wiraswasta harus siap dengan berbagai macam risiko dan kegagalan. Tidak ada dalam sebuah usaha yang selamanya untung. Pasti ada kalanya merugi. Pernah pada suatu ketika Bob melihat peluang pasar di luar negeri yaitu olahan buah-buahan kripik buah. Ketika Bob mengekspor produknya ke luar neger, ternyata produknya tersebut tidak sampai di luar negeri dan menyebabkan dirinya merugi milyaran rupiah. Tapi, Bob menikmati semua proses usahanya dengan baik. Ia tetap berjalan pantang menyerah pada bisnisnya.
Kebanyakan orang membuat rencana untuk memulai bisnis wiraswasta untuk meminimalisir risiko sekecil mungkin. Namun yang terjadi adalah mereka terlalu sibuk membuat rencana dan tak kunjung melangkah untuk memulai usaha. Inilah yang disayangkan Bob ketika ada segelintir orang yang ingin berwiraswasta tapi masih takut dengan risiko dan kegagalan.

Fase Belajar ala Bob Sadino
Bob Sadino membuat prinsip kehidupan berwiraswasta dengan sebutan Roda Bob Sadino. Roda ini dibagi menjadi empat bagian dengan masing-masing bagian secara urut berisi kuadran TAHU, BISA, AHLI, dan TERAMPIL.
Bagian pertama adalah kuadran TAHU. Kuadran TAHU berisi orang-orang yang sedang menempuh pendidikan baik di bangku sekolah atau perguruan tinggi. Orang-orang pada kuadran ini biasanya memiliki pemikiran yang terstruktur dan belajar berdasarkan teori-teori tanpa praktik. Contohnya adalah orang yang belajar teori dasar menembak. Ia tahu teori-teori menembak tanpa pernah memegang pistol.
Bagian kedua adalah kuadran BISA atau kadang disebut kuadran JALANAN. Kuadran ini berisi orang-orang yang dapat mempraktikkan suatu ilmu dengan baik. Orang-orang dari kuadran BISA belajar dan pengalaman nyata yang sudah mereka alami dalam mengerjakan suatu hal. Orang-orang di kuadran BISA biasanya adalah masyarakat biasa yang tidak sempat menempuh Pendidikan tinggi. Contohnya adalah tukang bangunan yang dapat menyusun paving di jalanan.
Bagian ketiga adalah kuadran AHLI. Kuadran AHLI berisi orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Mereka sudah ditempa dan belajar di kuadran BISA. Orang-orang yang berada di kuadran AHLI ini sudah dapat melakukan pekerjaannya secara professional.
Bagian terakhir adalah kuadran TERAMPIL. Kuadran ini diisi oleh orang-orang yang menekuni suatu bidang selama kurang lebih 30 sampai 40 tahun. Orang-orang dalam kuadran TERAMPIL sudah mencicipi banyak sekali kegagalan dari bidang yang selama ini ia tekuni.

Share:

Resensi Buku : Dalam Dekapan Ukhuwah


… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpun hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka …” [Al-Anfaal: 63]
Lewat ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’ ini, Salim A Fillah memberikan berbagai gambaran dan permasalahan yang sangat mungkin terjadi dalam jalinan ukhuwah. Kesalahpahaman dalam memahami orang lain, tanpa sadar mengunggulkan diri sendiri, kekhilafan saat berkata-kata, kesabaran menghadapi kelicikan, memaafkan segala bentuk kesalahan, perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan masih banyak kisah sayatan sekaligus bunga ukhuwah yang dituturkan oleh sang penulis.
Saya sangat menyukai hampir setiap contoh kasus yang dipilih oleh penulis dalam menguatkan ilustrasi kejadian dalam tulisan. Seperti ketika penulis menuturkan tentang perihal kerendahan hati, beliau memilih kisah renungan tentang pemuda yang ‘dipermalukan’ di sebuah forum dengan bijak lebih memilih untuk mengalah, padahal saat itu sebenarnya dia mampu mematahkan berbagai argumentasi lawan bicaranya.
Atau ketika penulis menuturkan tentang perihal yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan contoh kasus pelayan yang menampar seorang pelanggan dengan kain serbet. Saya dibuat tertawa, tetapi juga termenung sedalam-dalamnya. Pas dan tepat. Penuturan penulis pun tidak terburu-buru, melainkan mengajak pembaca untuk memahami dengan meresapi dahulu apa yang mungkin dirasakan oleh orang lain.
Saya juga menyukai tulisan yang berkenaan dengan bagaimana seorang muslim harus dapat tetap berlembut hati tanpa harus meninggalkan ketegasan prinsip yang memang harus tetap digenggam. Bukan hal mudah kah? Ketika dimana-mana terdapat tuntutan toleransi yang kerap menggerus keyakinan dan keimanan manusia. Sebuah toleransi yang dibentuk dari kelihaian beberapa pihak dalam membuat pembenaran dengan membolak-balikan fakta, bahkan ayat/ hadist.
Hanya saja, saya tidak terlalu memahami tentang pembagian subbab dalam buku ini, karena menurut saya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh besar. Tapi, ya bisa jadi mungkin adanya subbab tersebut lebih berfungsi sebagai peredam kejenuhan/ istirahat bagi pembaca setelah bertemu dengan 60-an artikel dalam buku ini. Terlihat juga upaya tersebut lewat selipan beberapa puisi dan kutipan renungan dalam setiap subbabnya.
Oiya, satu lagi yang membuat saya salut pada penulis ini adalah caranya dalam menuliskan kisah sejarah, sebagai contoh kasus. Sungguh, saya merasakan bagaimana si penulis begitu menghayati sejarah kenabian dan para sahabatnya. Cara beliau dalam menuturkan sejarah kenabian terkesan luwes dan meninggalkan kekakuan bahasa literatur yang kerap terjadi ketika seorang penulis mengisahkan sejarah dalam tulisannya. Dengan gaya inilah, saya dapat menjadi lebih bisa merasakan dan meresapi kisah sejarah itu sendiri.
Saya juga menyukai sudut pandang penulis dalam menyoroti, tidak hanya sisi positif, tapi juga sisi negatif dari para sahabat Rasulullah, tanpa adanya niat menjatuhkan keunggulan dan keluhuran budi yang dimiliki mereka. Selain itu, membaca berbagai contoh kasus yang diambil dari sejarah kenabian menerbitkan kesadaran betapa masih kurangnya saya dalam membaca atau memahami sejarah Rasulullah dan para sahabatnya.
Share:

Tuesday, 2 April 2019

Resensi Buku : 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah

Judul Buku      : 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah
Penerbit           : Tiga Serangkai
Pengarang       : Aulia Muthiah
Halaman          : 352 Halaman


Anda yang sekarang atau ingin terjun di dunia bisnis, pasti ingin bisnis yang digeluti sukses, konsumennya banyak, dan kekayaannya melimpah. Itu semua adalah sejumlah keinginan yang wajar karena itulah tujuan berbisnis. Apakah hanya sampai di situ tujuan Anda? Jangan! Jangan sampai tujuan Anda sebatas itu. Hidup tidak hanya di dunia yang cukup dengan harta. Ada akhirat menanti Anda. Tambahlah tujuan Anda dengan memperoleh rezeki yang melimpah, berkah, bermanfaat, bernilai ibadah, dan membawa Anda ke surga.

Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain selain mengikuti aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. Buku 77 Cara Sukses Bisnis ala Rasulullah mengajak Anda bersama-sama mempelajari aturan-aturan itu. Agar mudah dipelajari, ada 77 poin yang dirangkum dengan contoh kasus dilapangan. Salah satu poinnya yaitu Uang Muka Memikat Pedagang. Contoh kasusnya yaitu sebuah usaha katering jasa penyedia makanan, dalam sistem pemesanan yang terjadi adalah ketika ada pesanan, konsumen harus membayar uang muka terlebih dahulu sebagai bukti tanda jadi pemesanan. Jika tidak ada uang muka, pihak katering tidak akan mau menyediakan makanan sesuai pesanan.

Di usaha katering sudah menjadi tradisi konsumen memesan suatu produk. Pada waktu hendak memesan, barang tersebut tidak terlihat sama sekali wujud dan jumlahnya. Konsumen memesan suatu produk atau barang pesanan yang diinginkan dengan menyebutkan kriteria tertentu dan bersedia membayar dengan uang muka.


Pada praktiknya, ada kesenjangan antara yang diharapkan dan apa yang terjadi. Ketika pemesan membatalkan pesanannya, pemesan tidak bisa mengambil uang muka yang sudah dibayar. Begitu pula terkadang jika terjadi kesalahan pemesanan, pihak katering tidak mau mengganti uang muka yang sudah dibayar. Itu merupakan salah satu poin dari 77 poin yang ada dibuku ini beserta contoh kasusnya.
Share:

Sunday, 31 March 2019

Resensi Buku : Kun Anta


Judul Buku      : Kun Anta
Penulis             : @negeriakhirat
Penerbit           : Wahyu Qolbu
Tahun Terbit    : 2016
Tebal               : 225 halaman


Inilah kisah-kisah nyata para perempuan yang telah membuktikan bahwa
cantik itu bukan dari lahiriah semata. Cantik yang sesungguhnya adalah
menjadi diri sendiri, percaya diri, & mensyukuri pemberian Ilahi. Itulah cantik dari hari cerminan MUSLIMAH SEJATI
Paras rupawan, rambut panjang, badan tinggi semampai, kulit putih bersih, langsing, bulu mata lentik serta bibir merona. Apakah itu definisi cantik menurutmu? Siapa yang tidak mau jadi cantik sempurna seperti itu? Tapi tahukah kamu bahwa definisi cantik bagi seorang muslimah bukanlah yang seperti itu? Cantik bagi seorang muslimah, bukan hanya cantik secara fisik, namun kecantikan akhlak dan hati lah yang paling utama.

“Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat rupamu, tetapi Allah melihat hatimu.” (HR. Muslim)

Di bab awal buku ini, kita sudah disuguhi  pertanyaan “Who is muslimah?”. Bagi saya seorang laki-laki, Dalam bab ini membahas bagaimana menjadi seorang muslimah sejati, arti cantik menurut Islam, kisah-kisah dari Ghumaisha’ binti Mahlan, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah binti Muzahim. Tentu ini menjadi bekal yang baik bagi para pembaca untuk bisa memaknai arti cantik itu secara benar dan tidak setengah-setengah.

Pada bab lain ada pembahasan mengenai  amalan-amalan yang dapat memancarkan kecantikan seorang muslimah dan amalan saat sedang haid. Ada pembahasan mengenai shalat, mulai dari shalat wajib sampai shalat sunah, ada juga pembahasan tentang puasa, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, cara menjaga kehormatan seorang muslimah, berbusana sesuai ajaran Islam, bahkan hukum menggunakan cadar pun dibahas di buku ini. Bahkan salah satu quotes yang terdapat dalam buku ini membuat saya lebih bersemangat dalam membaca buku ini, berikut quotes yang saya maksud,

“Kebanyakan wanita meletakkan tangan di mulutnya ketika ia sedang menangis dan lelaki meletakkan tangannya di matanya ketika ia sedang menangis, seolah-olah mereka mengetahui dari mana banyak terhasilnya dosa.” (Dr. Khalid Abd. Aziz Muhammad Al Jubair)

Tidak hanya itu, Pembaca juga disuguhi pengalaman berhijrah dari teman-teman, proses bagaimana mereka memaknai arti cantik yang sebenarnya, jadi kayak sharing gitu. Nah, kisah hijrah mereka ditulis selang-seling dari materi utamanya. Di buku ini juga banyak diselipin quotes yang sangat menginspirasi. Banyak banget, tiap bab pasti ada.

Share:

Thursday, 28 February 2019

Resensi Buku : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Buku ini tidak berbicara bagaimana cara meringankan masalah atau rasa sakit. Bukan juga panduan untuk mencapai sesuatu. Namun, sebaliknya buku ini akan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, dan mengubah masalah menjadi masalah yang lebih baik. Khususnya, buku ini akan mengajari untuk peduli lebih sedikit. — Mark Manson

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat ini merupakan buku yang ber-genre pengembangan diri (self-improvement) dan dinobatkan sebagai buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. jelas sekali penggunaan kata kata yang nyeleneh pada buku ini tidak disarankan untuk umur dibawah 17 tahun. Penulis cukup banyak memberikan contoh kasus dalam setiap pembahasan penting, sehingga memberikan pencerahan bagi pembacanya.

Seni #1 : Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda.
Hal yang menarik dari poin ini adalah ketika Mark menjelaskan bahwa faktanya, orang yang masa bodoh itu sebenarnya TERLALU PEDULI. Mereka ada lah orang — orang yang takut menerima dirinya sendiri dan lebih sering terganggu dengan perkataan orang lain dalam berbagai hal yang melekat di dirinya, sehingga akan berusaha sebaik mungkin menampilkan sosok yang istimewa.

Seni #2 : Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesulitan. Pertama tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yanng jauh lebih penting dari kesulitan.

Karena jika anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal — hal yang tanpa makna dan sembrono.
Share:

Resensi Buku : Buya Hamka, Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama

Judul Buku : Buya Hamka, Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama
Penulis        : Yanuardi Syukur & Arlen Ara Guci
Penerbit      : Tinta Medina
Halaman     : 208


Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus yang sangat terkenal di Indonesia. Buya HAMKA juga seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan juga aktif dalam perpolitikan Indonesia. Hamka lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Quotes terkenal dari Beliau yang cukup terkenal adalah Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang
Pesan dari Buya Hamka menganjurkan kita terutama pemuda pemuda muslim agar keluar dari zona nyaman (merantau). Karena menurut Imam Syafi’i merantau itu akan memupuk kedewasaan diri dan banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.

Allah Subhanah Wa Taala berfirman Barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizki yang lapang…”An-Nisa`: 100.

Perintah untuk berhijrah ataupun merantau sudah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dalam Al Quran, oleh karena itu sebagai pemuda muslim kita tidak boleh takut untuk merantau. Buya Hamka termasuk Tokoh Muslim perantau, dapat dilihat dari sejarah hidupnya ketika berusia muda , Buya Hamka dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.
Share:

Wednesday, 30 January 2019

Resensi Buku : Whatever You Think Think The Opposite

Buku yang ditulis oleh Paul Arden yang mengajak kita agar selalu berpikir apa yang tidak orang lain pikirkan. Buku ini membuat kita tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang sudah di ambil dan akan menjadikannya sebagai sebuah keberuntungan. Banyak ilustrasi yang digambarkan dibuku ini yang membuat kita punya sudut pandang baru dalam menyikapi berbagai hal. Berikut beberapa hal yang menarik bagi saya
Kadang hidup tak seperti yang diharapkan sehingga membuat kamu mengambil keputusan yang aman dan sama dengan yang lain. Hidupmu akan sama dengan yang lain dan itu membosankan. Hal itu membuatmu berandai-andai jika hidupmu bisa berubah. Pilihan lain adalah melakukan yang kamu inginkan dan pastikan meraih impianmu. Kamu akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang dibutuhkan. Tentunya bukan keputusan yang aman dan seperti yang dipikirkan oleh orang lain. Kamu akan bertanggaung jawab dengan hal itu dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang kamu impikan. Bukan hal mudah, tapi akan ada jalan. Percayalah, kamu akan meraih impianmu di waktu yang tepat. Orang-orang yang menyayangimu akan membantumu dengan caranya masing-masing.
Lakukan saja, kemudian perbaiki seiring berjalannya waktu. Jangan biarkan ketakutan menguasai dirimu. Rencana tetap dibutuhkan sebagai pendamping langkah pertama. Alasan yang belum sempurna jang dijakidakan pembenaran untuk tidak mmekakukan rencana tersebut. Rencana harus tetap dijalankan sambil disempurnakan dalam perjalanannya.
Share:

Resensi Buku : Bocah Penjinak Angin

Buku ini berkisah tentang sebuah negara kecil dan miskin di Afrika bagian tenggara, bernama Malawi. Tahun 2002, banjir besar diikuti kekeringan dan kegagalan panen nyaris melanda di seluruh negeri. Bencana ini menjadi penyebab awal kelaparan berkepanjangan yang membunuh ribuan warga. Hasil panen jagung, makanan pokok rakyat Malawi, semakin hari semakin menurun. Harga jagung di pasaran semakin melambung tinggi dan tak terjangkau. Sementara itu persediaan jagung di perusahaan pemasaran pengembangan pertanian milik pemerintah (ADMARC) juga semakin menipis.

Frustasi sosial pun terjadi. Tragedi kelangkaan pangan terburuk sepanjang sejarah Malawi. Optimisme untuk hidup lama-lama menjadi sebuah kemewahan bagi warga. Nama-nama bayi yang dilahirkan warga dalam masa krisis tersebut barangkali bisa menjelaskan tingkat frustasi yang dialami. Ada anak yang dinamai Malazani (Habisi saja aku), Manda (batu nisan), Mdzingmange (bunuh diri), bahkan ada orang tua yang memberi nama Phelantuni yang berarti “cepat bunuh aku”.

Frustasi ini juga yang dialami oleh keluarga William Kamkwamba. Ayah dan Ibu William adalah seorang petani jagung. Bencana kekeringan yang parah membuat mereka gagal panen. Dan itu berarti tidak ada uang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. William pun harus putus sekolah ketika SMP karena ketiadaan biaya. Ia menangis ketika ayahnya mengatakan tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Meski sedih, William tidak putus asa. Ia justru ingin membuktikan bahwa di tengah kondisi yang serba sulit, ia masih bisa membanggakan keluarga.

Dan buku Bocah Penjinak Angin ini menjadi saksi betapa kerja keras yang dilakukan oleh William akhirnya dibayar lunas dengan sebuah kesuksesan. Remaja putus sekolah tersebut berhasil membanggakan keluarga bahkan negaranya. Buku ini merupakan kisah keberhasilan William yang ia ceritakan kepada wartawan AP Bryan Mealer. Bryan Mealer adalah wartawan yang lama berkutat menulis berita-berita mengenai Afrika.
Bekerja dan Belajar

Buku ini menceritakan bagaimana setelah putus sekolah, William tetap rajin belajar mengasah pemikirannya. Sembari membantu ayahnya di ladang, William meluangkan waktu untuk membaca di  perpustakan yang didirikan Malawi Teacher Training Activity. Di perpustakaan ini, ia menemukan buku yang nanti akan mengubah total nasib William dan keluarganya. Judulnya, Using Energy.

Buku itu menarik perhatian William karena di dalamnya berisi pengetahuan tentang energi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ide untuk menghasilkan pembangkit listrik kemudian muncul. Listrik memang menjadi masalah di Malawi selain kekeringan dan kelaparan. Tercatat hanya ada dua persen dari sebelas juta penduduk yang mampu mengaksesnya. Untuk mengakses listrik pun bukan perkara mudah. Butuh uang yang mahal dan kesabaran yang ekstra.

Sumber tenaga listrik satu-satunya berasal dari perusahaan listrik milik pemerintah (ESCOM). Untuk bisa meminta ESCOM mengaliri listrik ke rumah di kampung William, diperlukan perjalanan sejauh 100 kilometer dengan menumpang mobil bak terbuka ke ibu kota Lilongwe. Setelah membayar ribuan Kwacha (mata uang Malawi), beberapa formulir harus diisi. Formulir ini harus mencantumkan peta menuju rumah tempat listrik akan disambung supaya  petugas ESCOM tidak tersesat. Orang yang meminta pemasangan listrik pun masih harus membayar biaya kabel dan tiang listrik. Tidak hanya itu, sang pelanggan harus siap dengan pemadaman listrik yang biasanya dilakukan pemerintah pada malam hari (halaman 117). Susahnya akses listrik inilah yang membuat mayoritas warga Malawi menghentikan aktivitas ketika matahari sudah terbenam.

Berangkat dari situ, William memulai serangkaian eksperimen yang ia pelajari dari buku Using Energy. Salah satunya membuat pembangkit listrik tenaga angin. Untuk itu, tentu ia harus membuat kincir angin terlebih dahulu. Setiap hari ia pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari rongsokan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kincir. Ia memperoleh kabel bekas, kipas, pipa PVC, baterai radio, sampai rantai sepeda yang semuanya dirakit di dalam kamarnya.

Upaya ini bukan tanpa hambatan. Ketika ia sedang mencari rongsokan, anak-anak sekolah mengejeknya dengan sebutan misala, orang gila. Tetangga-tetangga pun menganggap bahwa ia sudah terlalu frustasi karena kelaparan. Ibunya pun bahkan marah-marah karena peralatan masak di dapur selalu hilang digunakan untuk eksperimen William. William tak mendengarkan itu semua. Bersama dua sahabat karib, Geoffrey dan Gilbert, proyek pembuatan kincir angin itu terus ia kerjakan. Dibarengi dengan harapan-harapan untuk membanggakan keluarga dan berguna bagi Malawi.

Usahanya tak sia-sia. Berbulan-bulan setelah berkutat dengan benda-benda rongsokan, kincir angin pun berhasil dibuat. Kincir angin itu dipasang di belakang rumahnya. Ketika anak itu hendak memanjat kincir anginnya, tetangga-tetangga di dekat rumah berkumpul. Sambil mengejek mereka menanti tingkah apalagi yang akan dilakukan oleh anak berusia 14 tahun tersebut. Angin berembus kencang dan kincir pelan-pelan berputar semakin kencang. Keajaiban terjadi! Kincir yang memutar dinamo sepeda bertegangan 12 volt ini mampu menyalakan lampu neon yang dipasang William.

Para penduduk yang tadi mengejek pun terdiam dan menjadi saksi bahwa “kegilaan” William terbukti berhasil. Setelah eksperimen awal tersebut berhasil menyalakan lampu neon, William kemudian mampu mengalirkan listrik untuk menerangi rumahnya. Tetangga-tetangganya pun berdatangan sekadar untuk menumpang men-charge telepon genggam. Tidak hanya itu, ia juga mampu menyalakan pompa air untuk mengaliri ladangnya. Setelah itu, kabar mengenai keberhasilan William tersebar ke seantero negeri. Ia bahkan menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional mengenai energi.

Buku ini, menjadi penanda sebuah kisah yang inspiratif. Sebuah kisah tentang kerja keras yang tak kunjung habis. Kisah seorang anak yang putus sekolah, nyaris meninggal karena kelaparan parah, namun mampu bangkit dan menjadi pahlawan bagi keluarga dan negerinya.

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari buku yang menginspirasi khususnya bagi saya ini. Bahwa saat ia tersingkir dari bangku sekolah ternyata tidak membuat ia patah semangat. Sementara terus bekerja membantu orangtuanya, William terus belajar. Sejumlah buku fisika dan teknik listrik dari perpustakaan dilalapnya. Meskipun banyak hal yang tidak ia mengerti, namun kemauan keras telah membuka jalan kepadanya untuk memahami hal-hal tersebut. Apa yang sebelumnya dipahami secara samar, dengan studi pustaka, hal itu menjadi lebih jelas. Kesungguhan itu akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendirikan sebuah kincir angin yang menghasilkan tenaga listrik. Orang-orang yang semula menganggap William "tidak waras" akhirnya mengakui kehebatannya. Sukses inilah yang mengantarkan William menghadiri konferensi TED (Technology, Entertainment and Design). TED adalah sebuah pertemuan tahunan dimana para penemu, ilmuan dan pencipta, berbagi gagasan dan ide. Dari apa yang dialami William, kita dapat belajar bahwa keterbatasan dan kekurangan tidak selalu menghambat usaha atau mimpi seseorang. Sebaliknya kendala itu sesungguhnya mendorong seseorang untuk lebih kreatif. Barang bekas, benda-benda rongsokan misalnya, dapat diubah menjadi benda-benda yang lebih berguna. Bagi William tujuannya adalah satu, membangun sesuatu yang ia percaya kelak dapat melepaskan keluarganya dari kemiskinan dan kelaparan.

Pencapaian William tidak diraih dengan mudah. Kewajiban untuk membantu orangtua di ladang, kemiskinan, dukungan yang minim dari orang-orang di sekitarnya, adalah bukti bahwa mimpinya sulit untuk dicapai. Namun, keinginan yang kuat telah membalikkan keadaan itu. William pun menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di desanya. Ia tidak banyak bicara. Namun karyanyanyalah yang berbicara dan menunjukkan siapa William sesungguhnya. Selain sepak terjang William, buku ini juga mengisahkan selintas mengenai Afrika secara antropologis. Kepercayaan tradisional Afrika ternyata menjadi salah satu penghambat kemajuan. Sihir dan tahayul lebih sering mendapatkan tempat lebih luas dalam jalan pikiran mereka ketimbang hal-hal yang rasional. Sementara itu, dari dunia politik, diceritakan selintas dalam buku ini bagaimana lembaga-lembaga resmi di negeri itu telah melakukan korupsi yang tidak tanggung-tanggung. Akibatnya kemiskinan kian meluas. Pemerintah yang tidak memedulikan rakyatnya turut memperparah kondisi ini. Namun, mimpi dan semangat perubahanlah yang dapat merombak keadaan.
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com