Monday, 31 December 2018

Resensi Buku : Bahagia di Masa Sulit

Penulis : Adrew Matthews

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah ayat 155)

Setiap manusia pasti kan mendapatkan cobaan atau ujian dalam hidupnya. Karna sejatinya hidup ini adalah ujian, yang jika kita lulus menghadapi ujian tersebut maka Allah akan menaikan derajat kita. Namun hampr semua orang menganggap bahwa ujian adalah masa paling sulit dalam hidup, sehingga tidak jarang orang mengeluh, bahkan ada yang ingin mengakhiri hidup ketika menghadapi ujian. .

Inilah jawaban dari semua pertanyaan itu. Adrew Matthews menulis buku berjudul “Bahagia di Masa Sulit” yang telah diterbitkan dalam 35 bahasa di 60 negara. Buku yang sangat apik (bagus) berisi tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupan ini, menjalani permainan hidup dengan bahagia, bersyukur dan puas. Buku ini menjawab semua kebutuhan manusia di seluruh dunia, berkenaan dengan “formula bahagia di masa sulit”. Apalagi semakin bertambahnya zaman, maka semakin pula bertambahnya permasalahan hidup.

Di setiap babnya, pembaca akan menemukan karikatur-karikatur indah, menggambarkan bagian yang sedang dibahas. Dari segi isi, setiap bab akan selalu muncul kisah-kisah nyata dari seluruh dunia, yang dikirim langsung lewat e-mail oleh para pelaku kejadian. Sehingga dari situ pembaca akan paham, bahwa ternyata ada orang yang memiliki problem melebihi saya (pembaca). Namun mereka masih bertahan hidup dan sekarang mereka menginspirasi orang lain. Kenapa saya (pembaca) tidak ? Dilihat dari segi bahasa, bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami oleh pembaca. Buku ini, praktis dan mudah untuk dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi bahagia dalam segala hal. Adalah hal yang bisa kita dapatkan.

Buku “Bahagia di Masa Sulit” terdiri atas 12 bab. Bab 1 menjelaskan bagaimana cara kita menghadapi serta menerima keadaan. Banyak dari kita yang sekarang bangkrut, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang tercinta atau mungkin sedang sakit. Kemudian kita berkata, “Aku tidak tahu harus melakukan apa. Mengapa hidup ini begitu sulit ? Atau kalau bukan karena ini (masalah) saya pasti akan bahagia.” Maka penulis memberikan beberapa tips yaitu; (1) Kita harus menerima keadaan. Karena menerima keadaan adalah sumber dari kekuatan (Hal. 2). (2) Orang-orang yang paling bahagia tidak peduli, apakah hidup ini adil atau tidak. Mereka hanya memusatkan perhatian pada apa yang mereka miliki (Hal. 11). (3) Dalam kehidupan sehari-hari orang lain tidak akan mengubah hidup kita. Namun sebenarnya kitalah yang mengubahnya (Hal. 21).

Bab 2 menerangkan bagaimana kita menaklukkan masalah. Bagaimana satu pikiran negatif menarik pikiran negatif lainnya. Sehingga ketika memiliki masalah dan tidak memikirkan solusinya seperti apa. Maka tidak akan selesai suatu masalah itu. Sebaliknya malah bertambah (Hal. 28).  Bagaimana kita menerima masalah yang terjadi. Sehingga masalah itu akan selesai dan jalan keluar akan didapat (Hal 40). Bab 3 menjelaskan tentang kekuatan pikiran dan mengelolanya. Bagaimana pikiran kita menarik segala hal yang dipikirkan. Karena apa yang kita pikirkan itu yang kita dapatkan. Itulah yang dinamakan dengan hukum ketertarikan (Hal. 49). Bab 4 dan 5 menjelaskan orang yang ingin menjadi bahagia itu harus mencintai dirinya sendiri. Kemudian juga harus pandai memaafkan kesalahan orang lain. Walaupun yang salah bukan diri kita pribadi.

Bab 6 dan 7 menjelaskan tentang uang dan kekayaan. Dimana dua hal tersebut merupakan dua faktor dasar yang ingin dimiliki oleh setiap orang. Namun permasalahan yang terjadi sekarang, mereka mencari dua hal tersebut. Tapi melupakan yang namanya “kebahagiaan.” Sehingga banyak kita melihat, orang gila gara-gara harta, orang berperilaku seperti hewan hanya karena uang dan kekayaan. “Kita menjadi sangat terikat dengan apa yang kita percaya. Seringkali, kita lebih memilih merasa benar daripada bahagia. Atau lebih memilih merasa benar daripada kaya (Hal 105).”

Bab 8, 9, 10 dan 11. Penulis menerangkan tahap-tahapan mencapai kebahagiaan dalam segala kondisi dan situasi. Pertama melakukan terobosan dan memusatkan perhatian pada apa yang kita inginkan. Kemudian menciptakannya (Hal. 133).Kedua bersyukur (Hal. 151). Dalam Islam dijelaskan, ketika kita bersyukur maka nikmat itu akan ditambah. Namun ketika kita tidak bersyukur, maka nikmat itu akan menjadi adzab atau bencana. Ketiga merelakan atau puas dengan apa yang kita dapatkan sekarang. Ketika apa yang kita inginkan belum atau tidak bisa tercapai. Relakanlah sekarang juga ! Kemudian mulailah dengan merasa bahagia sekarang juga dan selamanya (Hal. 161). Keempat meminta bantuan kepada orang lain dan kepada Tuhan (Hal. 171). Karena manusia adalah makhluk sosial.

Bab 12, Adrew menutup dengan sub judul “Pentingnya menjadi bahagia.” Sub judul yang merupakan konklusi dari buku ini. Bahagia itu sangatlah penting, karena itu adalah hak setiap manusia. Karena bahagia akan menjadikan diri kita bisa berbagi, berhasil dan sukses dalam menjalani kehidupan ini (Hal. 181).

Sekarang bila kondisi kita belum bahagia. Atau tidak pernah bahagia. Berarti ada kesalahan yang terjadi dalam diri kita. Bukan kesalahan dari dunia. Karena “bahagia” itu adalah hak. Maka kita harus mendapatkannya. Bila masih belum mendapatkan yang namanya “kebahagiaan.” Maka segeralah miliki, baca dan aplikasikan intisari yang terdapat dalam buku ini. Selamat bahagia selamanya.

Resensi ini ditulis oleh Usman Abdul Muluk. Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB angkatan 2017. IG : @usmanabdulmuluk14
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com