Monday, 29 October 2018

Sebuah Perspektif Tentang Pergerakan

Perspektif. Kata yang sering kita dengar jika terjadi perbedaan dalam menanggapi suatu masalah. Jadi apa itu perspektif?
Perspektif adalah suatu cara pandang terhadap suatu masalah yang terjadi, atau sudut pandang tertentu yang digunakan dalam melihat suatu fenomena (Martono : 2010)
Tetapi, menurut saya pribadi, perspektif itu merupakan sudut pandang tentang bagaimana kita melihat suatu permasalahan dari berbagai sisi. Setiap orang pasti memiliki perspektifnya masing-masing. Paradigma setiap orang juga mempengaruhi bagaimana dia melihat suatu permasalahan yang terjadi.
Paradigma terbentuk seiring dengan berjalannya waktu dan seberapa seringnya kita menghadapi suatu masalah. Faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi terbentuknya paradigma ini. Jika lingkungan disekitar kita baik, mungkin paradigma yang akan terbentuk juga akan baik, karena setiap masalah, pasti mempunyai solusi, kan? Jika suatu solusi yang diciptakan dari lingkungan yang baik, hasilnya pun akan baik juga.
Semakin kita menemukan banyak masalah, Pola pikir atau paradigma itu pun akan semakin tertantang untuk terus menemukan solusi terbaiknya. Begitu juga dengan perspektif. Perspektif ada yang mengarah ke hal yang positif dan ada juga yang mengarah ke hal yang negatif. Di dalam permasalahan, kita dituntut untuk open minded. Untuk itu, sebuah perspektif sangat diperlukan untuk menemukan suatu solusi yang terbaik. Paradigma dan Perspektif merupakan kedua hal yang selaras dan tak bisa dipisahkan. Untuk itu, menemukan yang terbaik atas kedua hal tersebut sangat diperlukan.
Kali ini, saya ingin membahas sebuah permasalahan yang sering muncul di dunia perkuliahan. Sebuah perspektif mengenai Aksi atau yang sering disebut dengan Demo. Aksi ini merupakan suatu bentuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah atau bentuk dalam memperjuangkan suatu hal. Banyak perspektif-perspektif yang muncul mengenai Aksi ini. Ada yang beranggapan kalau Aksi turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi itu tidak penting, Aksi itu hanya buat kegaduhan saja, bahkan sampai ada yang berkata "mending kuliah yang bener aja dari pada turun Aksi" dan masih banyak lagi perspektif lainnya. Namun, disini saya ingin membahas berdasarkan perspektif saya pribadi.
Sebagai mahasiswa, kita memiliki peran penting yang dikelompokkan dalam 3 fungsi: Agent Of Change, Social Control, dan Iron Stock. Ketiga fungsi ini lah yang diharapkan akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi.
  1. Peran Mahasiswa Sebagai Agent Of Change
Peran ini lah yang sangat krusial dan sudah terbukti dari jaman sebelum merdeka, sampai sekarang ini. Gerakan mahasiswa mampu membuat suatu perubahan terhadap bangsa. Dimulai dari Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, bahkan pada saat Indonesia ingin merdeka, para pemuda lah yang mendesak agar Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dan pada saat Reformasi tahun 1998, pemuda lah yang menjadi sorotan utama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin bangsa gerah dan cemas. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati diri kita sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia. Namun untuk mengubah sebuah negara, hal utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri.
      2. Peran Mahasiswa Sebagai Social Control
Hari ini korupsi semakin memprihatinkan, hukum bisa dibeli, serta berbagai persoalan lainnya. Peran mahasiswa sebagai social control terjadi ketika ada hal yang tidak beres atau ganjil dalam masyrakat. Mahasiswa sudah selayaknya memberontak terhadap suatu hal yang salah dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa? Kita sebagai mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian sosial yang peduli terhadap masyrakat karena kita adalah bagian dari mereka. Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dengan demo atau turun kejalan saja. Melainkan dari pemikiran-pemikiran cemerlang mahasiswa, diskusi-diskusi, atau memberikan bantuan moril dan materil kepada masyarakat dan bangsa kita. 
     3. Peran Mahasiswa Sebagai Iron Stock
Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan memiliki kemampuan, ketrampilan, dan akhlak mulia untuk menjadi calon pemimpin siap pakai. Intinya mahasiswa itu merupakan asset, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan. Mahasiswa tidak cukup jika hanya sebagai akademisi intelektual yg hanya duduk mendengarkan dosen dalam ruangan perkuliahan. Kita harus memperkaya diri kita dengan pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seoarang calon pemimpin bangsa masa depan yang akan menggantikan generasi yang telah ada, sehingga tidak cukup hanya dengan memupuk ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill seperti leadership, kemampuan memposisikan diri, dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, Apakah kita sudah memiliki itu semua??
Ketika ada yang beranggapan bahwa Aksi itu tidak penting, dan lebih baik belajar yang bener aja supaya dapat IPK bagus dan cepet lulus mendapatkan gelar cumlaude, maka perspektif ini salah besar. Jika semua mahasiswa di Indonesia memiliki pola pikir seperti ini, lantas siapa yang akan menjalankan 3 fungsi mahasiswa tersebut? Akan kah ada perubahan besar jika mahasiswanya hanya belajar di dalam kelas dan duduk mendengarkan dosen sementara banyak tuntutan rakyat yang belum terlaksana oleh pemerintah? Kepada siapa rakyat akan meminta tolong jika bukan kepada kita yang sebagai Mahasiswa?
Belajar untuk mendapatkan IPK yang tinggi juga diperlukan, namun jangan lupa kalau kita kuliah ini, sebagian terdapat uang rakyat didalamnya. Ada Hak rakyat didalamnya. Untuk itu kita jangan sampai melupakan 3 fungsi kita sebagai mahasiswa untuk membuat Negeri kita tercinta ini menjadi lebih baik lagi.
Pernah ada yang memberikan saya sebuah pertanyaan yang terbilang simple dan terdengar konyol. Pertanyaannya adalah “Kenapa IPK itu maksimal cuman sampai 4? kenapa engga 100 aja?”. Dan jawaban dari orang tersebut adalah “Karena yang 96 nya lagi, kita gk akan dapetin di bangku kuliah aja”.
Dari pertanyaan tersebut lah yang membuat saya sadar kalau kita sebagai mahasiswa memiliki peranan lebih yang tidak hanya belajar didalam ruang kelas saja, tetapi ada hal yang jauh lebih besar yang patut untuk diperjuangkan!
Namun, di Era Millenial ini, kita bisa melakukan Aksi secara kreatif. Tidak harus selalu turun ke jalan. Bahkan, Aksi yang terus turun ke jalan pun, terkadang tidak ditanggapi secara langsung oleh pemerintah. Jarang dari pemerintah yang menghampiri secara langsung ketika mahasiswa sedang berdemo. Aksi kreatif yang saya maksud bisa dengan tulisan, video, prestasi maupun karya. Hal ini jusrtru yang menjadi perhatian pemerintah karena peran dari teknologi yang sangat cepat menyebar hingga ke penjuru dunia. Jadi, buat kita sebagai mahasiswa, jangan mudah menyerah dalam memperjuangkan hak rakyat dengan berbagai cara yang kita bisa!
 

Momen : Ketika Aksi 3 Tahun Jokowi tanggal 21 Oktober 2017

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. – Anies Baswedan
Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka – Soe Hok Gie
Share:

Tuesday, 9 October 2018

Tentang Hati

Orasi, Diskusi.
Bicara, Berdialektika.

Ah, entah...
Rasanya terlalu bising di sini.

Huruf, Kata, Kalimat, Paragraf.
Terlalu banyak, menimbulkan sesak.
Berisik, sampai jeritan hati pun terasa berbisik.

Ah, mungkin ini akibatnya apabila abai mendengarkan. Namun penuh dengan nafsu untuk berbicara.
Sampai-sampai, firman-Nya pun tak bisa menyentuh hati. Patah oleh kata, musnah tanpa terasa.

Ah, mungkin ini waktunya mulai mendengarkan.

Rumah,
MNA


Share:

Monday, 8 October 2018

Tak Apa Menjadi Tidak Sempurna




sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/AVDqmmAFMnZrPUUQFjA02iW1hTbm4TTMEvXOiYvX8v5427n3bfAweLs/

Di dunia ini, tidak ada yang tercipta dalam keadaan sempurna.

Kamu tidak bisa memaksakan semua orang menyukaimu meski sekeras apa pun engkau berusaha untuk menjadi manusia paling baik sedunia. Akan selalu ada pihak yang tidak menyukai apa yang kamu lakukan, dan itu tidak sepenuhnya buruk, sebab terlampau heterogennya persepsi manusia seringkali membiaskan mana yang sejatinya baik dan mana yang memang menyalahi sisi kebenaran.

Tidak ada satu hal pun yang sempurna di muka bumi ini, pun begitu pula dirimu di hadapan orang-orang sekitarmu. Sebaik apa pun kamu berusaha menutupi kecacatan dalam dirimu, persepsi dari masing-masing orang yang begitu beragam, akan mampu mencium semua kecacatan-kecacatan itu. Barangkali, ada satu titik di mana seseorang tidak menyukai apa yang engkau lakukan, namun bagi beberapa pihak, mereka mampu memaklumi itu sesederhana karena mereka memahami niatan yang engkau maksudkan saat terpikirkan untuk melakukan hal tersebut.

Suatu saat, di suatu waktu yang entah kapan, meski sebaik apa pun engkau memperlakukan seseorang, akan selalu ada kecenderungan bagi dirimu untuk melakukan kesalahan—dan itu semata-mata bukanlah suatu hal yang sepenuhnya nista, sebab sejatinya, tidak akan pernah ada kesempurnaan di dunia yang sejak awal telah diciptakan tidak sempurna ini.

Belajarlah untuk sesekali memaafkan kesalahan yang telanjur kamu ciptakan, sebab terlalu berkeras hati kepada diri sendiri sekalipun tidak akan membantumu menjadi lebih baik. Jadikan kesalahan-kesalahan itu sebagai alarm yang senantiasa mengingatkanmu agar tidak kembali terjerumus dalam kecacatan yang sama.

Jadi, tidak mengapa untuk menjadi tidak sempurna.

Kesempurnaan itu tidaklah nyata.

Kamu telah melengkapi kesempurnaan itu sendiri bahkan dengan kekurangan-kekurangan yang kamu miliki.

P.s. tidak bermaksud menggurui. 
Didedikasikan untuk diri saya sendiri :)
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com