Monday, 16 July 2018

Berani Tidak Takut


Don’t be afraid to fail. Be afraid not to try.
www.lenterahidup.com


Ketika melakukan kesalahan menjadi sebuah ketakutan besar, maka pertanyaanya adalah, guru terbaik manakah yang dapat menggantikannya untuk memberi pengalaman yang seringkali mengajarkan kita dari kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan? Manusia melakukan kesalahan adalah sebuaheniscayaan. Jika takut salah, kita malah tidak akan bertumbuh.

Pernah dengar sejarah asal-usul brownies? Konon katanya, ada seorang koki yang melakukan kesalahan dalam pembuatan kue coklat. Koki tersebut lupa memasukkan baking powder ke dalam adonan. Sehingga setelah dipanggang, kue coklat menjadi bantat (tidak mengembang). Namun ketika disuguhkan kepada para pembeli, pembeli malah mengira ‘kue gagal’ itu adalah kue dengan resep baru. Ini adalah salah satu contoh melakukan kesalahan yang berakhir keberuntungan.

Sudah banyak contoh tokoh-tokoh yang berhasil menemukan penemuannya dengan melewati fase ‘melakukan kesalahan’. Mereka yang takut salah, barangkali memang selalu dituntut menjadi benar. Atau, tidak mau berbeda dengan kebanyakan orang. Padahal, tak ada yang salah dengan berbeda. Berbeda untuk kebaikan, misalnya.

Menyuarakan opini bertajuk kebenaran seringkali dihindari oleh mereka yang sebenarnya bisa menyuarakan kebenaran. Sebab tolak ukur kebenaran menjadi runyam dimasyarakat. Entah mana yang benar, mana yang salah. Seringnya, semua yang dilakukan—terlebih di sosial media—pasti saja dianggap salah. Gelar Maha Benar seakan terpatri pada warga net. Pada akhirnya, orang-orang memilih diam.

Diam ketika pelaku cyberbullying seperti sudah tak bernurani. “Sebab kata netizen, itu biasa saja.”

Diam ketika ada yang mencela pedoman hidup. “Bercanda, wajar saja.”

Diam ketika ajakan kebaikan menjadi tabu. “Ah, nanti dianggap cari sensasi.”

Diam. Bisu. Takut dianggap salah. “salah” yang bertajuk pada kebenaran masyarakat yang entah dari mana pedomannya. Padahal, hati jelas mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, namun Maha Benar zaman ini yang membuat kebenaran dan kebathilan ibarat suatu larutan yang teraduk sempurna sehingga sangat sulit membedakannya. Abu-abu.

Solusi terbaik adalah berani untuk tidak takut.

Berani menjadi seorang yang beda. Berani menjadi penggiring opini, bukan pengekor. Berani berulangkali salah, hingga menemukan titik terang kebenaran. Berani dianggap salah dalam menyuarakan kebenaran.

Hidup bukan hanya tentang sekolah, kerja, bahagia, dan mati. Lebih kompleks dari itu, ini tentang kebermanfaatan apa yang sudah dirasakan orang-orang ketika kita hidup. Jika menerus takut melangkah karena takut jatuh—salah—pertanyaannya, kapan penemuan hebat dapat ditemukan tanpa kesalahan yang banyak, tanpa pengorbanan yang rumit, tanpa resiko?

Mustahil. Sebab keajaiban tidak dilahirkan pada setiap jiwa. Namun ia bisa diciptakan dengan kesungguhan.

Melangkahlah. Buang keraguanmu dan jangan takut salah. Banyak orang-orang yang menantikan karya hebatmu. Ketahuilah, Ketakutan hanya menjadi hambatan. 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com