Thursday, 28 June 2018

Memaknai label 'Ukhti'

“Kamu kapan mau pakai cadar?”


...
...
...


Aku mematung sesaat. Pertanyaannya agak lucu bagiku. Terlebih, yang bertanya adalah seorang laki-laki non muslim teman sekelasku.
“Ah? Hahaha.” Aku sedikit kikuk menanggapinya, kusampaikan padanya bahwa aku tak ada niatan menggunakan cadar.
“Loh, kenapa? Bukankah itu wajib di agama mu?” tanyanya lagi.
Aku agak kebingungan menjelaskannya. Namun kucoba jelaskan dengan ilmuku yang sedikit ini. Ringkasnya, kubilang padanya bahwa cadar bukanlah sesuatu yang ‘saklek’ wajib dalam Islam. (Aku sangat menghormati dan menghargai seorang wanita bercadar meskipun tidak menggunakannya. Terlepas dari aku yang tidak menganggapnya wajib, hanya perbedaan furu’)
“Oh.. begitu.. terus, kamu mau gak disentuh sama laki-laki?” tanyanya lagi, begitu lugu.
“hahahahahahahhahah ngga.”jawabku, tertawa sedikit. Sebenarnya aku agak heran dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Bukankah ketika seorang perempuan menggunakan jilbab tertutup, jilbab mereka telah berbicara sebagai penjagaan diri? Apakah sekarang sudah tak berpengaruh?

“Eh, kamu kalau salam harus begini dong ya?” tanyanya lagi.
Aku menoleh, memerhatikan ia mendekapkan kedua tanganya—memeragakan gerakan salam antara laki-laki dan perempuan.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kucoba berpikir sejenak, dari sekian banyak muslim di kelasku, mengapa pertanyaan tersebut terlontar padaku?
Ah, mungkin kebetulan saja, batinku.
Atau, karena label ‘ukhti’ yang terpampang jelas pada dahiku?
-Untuk menghindari praduga yang seringkali salah, mari sama-sama yakin bahwa pertanyaan ini keluar dengan refleknya karena posisi dudukku yang berdekatan dengannya.-

Hmm bicara tentang ukhti, sebenarnya siapa sih ukhti itu?
Dia kah seorang anak ustadz?
Dia yang lulusan pesantren?
Dia yang banyak ilmu agamanya?
Atau, dia yang berpenampilan tertutup?
Ah, setahuku, ukhti itu saudari perempuan dalam Bahasa Arab. Namun, kini maknanya sudah beragam di masyarakat.

Menurutku, mereka yang dilabeli dengan sebutan ukhti adalah mereka yang kerudungnya menutup dada a.k.a syar’i dan biasanya menggunakan rok. Terlepas dari bagaimana ia bersikap, asal penampilannya terlihat Islami, dialah ukhti. Begitu kan?
Sampai akhirnya, bisa-bisa muncul istilah “Ukhti-ukhtian”.
Ya, tak lain, karena ekspektasi yang melambung tinggi terhadap si-ukhti.
Berpenampilan Islami dengan prilaku yang belum “baik” dalam pandangan orang kebanyakan, misalnya. Padahal, jelas-jelas antara jilbab dan akhlak adalah perkara yang berbeda. Jilbab adalah bukti taat kepada Allah, sedangkan akhlak adalah prilaku/sifat yang muncul dari pribadi masing-masing.
Terlepas dari harus memperbaiki akhlak, jelas harus diperbaiki.

Tapi apakah dibenarkan memandang buruk ia yang sedang berupaya taat dengan menggunakan jilbab ala ukhti karena kecacatan akhlaknya?
Memang sangat membuat risau. Karena biasanya, ekspektasi orang-orang terhadap ukhti ialah kesholehahannya. Ini membuat terbesit pertanyaan besar, “Apakah aku benar-benar sholehah dengan label tersebut?”
Dianggap sholehah benar-benar bikin resah, meski sebenarnya bisa juga menjadi tameng terhadap menjauhi hal-hal yang terbilang buruk.

Salah satu contohnya:



Awalnya aku tak menemukan ketenangan dalam situasi dianggap sholehah dengan label ukhti. Sampai akhirnya, ketenangan itu datang dengan sendirinya. Maha Baik Allah yang telah memperlihatkan bahwa tak usah risau dengan segala cap, label, penilaian, atau apapun yang datangnya dari manusia.
Pasti semua yang datangnya dari Allah memang membawa kebaikan dan kebermanfaatan.
Yakinkan hati bahwa perintah berpenampilan ukhti style ini adalah bentuk Allah cinta kepada hambanya. Sebagai penjagaan diri. Sebagai pemacu diri untuk berbuat baik.
Dan akhirnya aku sadar, segala hal memang dapat kita pandang secara positif ataupun negatif. Kitalah yang memilih untuk berada dimana. Benarlah Allah yang memerintahkan kita untuk terus berhusnudzan (berprasangka baik).

Segala hal, kalau dilihat dari sisi baiknya, bisa jadi penenang hati. Anggaplah label ukhti seperti do’a, tengadahkan agar diaminkan oleh penduduk langit.
Jangan sampai label ukhti membuatmu mengurungkan niat menggunakan pakaian yang sesuai dengan perintah-Nya ya!

“Kalau tak ingin terkesan sholeh, jadi sholeh beneran aja, bukan sekedar ‘terkesan’!”
-Seseorang
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com