Friday, 29 June 2018

Belajar untuk Mencari Nilai atau Ilmu?


Pernahkah kalian terlintas di benak kalian untuk apa selama ini kita belajar? Lalu, ketika sudah belajar, apakah kita akan sukses? Apakah pekerjaan kita nanti sesuai dengan apa yang kita pelajari di bangku sekolah atau perkuliahan? Pemikiran seperti itu sempat terlintas di pikiranku. Untuk itu, mari kita sama-sama bahas!

https://www.plukme.com/

Menurutku, apa yang kita pelajari dari SD sampai di bangku perkuliahan itu merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk kita dapat meng-upgrade diri kita agar menjadi pribadi yang berakal, berwawasan, dan berwibawa dengan ilmu yang kita dapat. Bahkan, tidak banyak orang yang memiliki kesempatan yang sama seperti kita yang bisa merasakan belajar dari SD sampai perguruan tinggi. Masih banyak yang tidak bersekolah, tidak bisa menyelesaikan SD nya, tidak bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dan lain-lain. Padahal, mereka tentu sangat ingin merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan. Bisa bersekolah, mendapatkan teman baru, bersosialisasi mengenai pelajaran atau bahkan bisa merasakan duduk di bangku perkuliahan. Tetapi, kenapa mayoritas orang malah menyia-nyiakan kesempatan yang berharga itu? Bukankah seharusnya kita bersyukur?

Oke, kita kembali ke pertanyaan di judul diatas. Belajar itu untuk mencari nilai atau untuk mencari ilmu? Menurut saya, belajar itu harus berorientasi dengan ilmu yang kita pelajari. Karena dengan kita berorientasi dengan ilmu yang kita dapat, kita akan belajar untuk ikhlas dalam mempelajari sesuatu hal yang baru. Memang belajar itu tidak gampang, sangat banyak godaan dan hambatannya. Untuk itu, perlu kita belajar untuk sabar dan ikhlas ketika kita belajar sesuatu hal yang baru.
“Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” — Imam Syafi’i
Begitulah yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan Aku sepakat dengan hal itu. Memang ketika kita ingin meng-upgrade diri kita, tentu kita harus belajar untuk berjuang dalam mengahadapi godaan dan tantangannya. Jika kita lemah terhadap diri kita sendiri, maka dunia akan keras kepada kita. Namun, jika kita keras kepada diri kita, maka dunia akan lemah dihadapan kita. Ya, mulailah untuk menguatkan pundak ketika sedang berjuang. Entah itu berjuang untuk menjalankan amanah, atau pun berjuang untuk sesuatu hal yang ingin digapai.

Lalu, kenapa kita tidak terlalu berorientasi kepada nilai? Bukankah Lulus juga harus mendapatkan nilai yang bagus? Jika ingin mendaftar beasiswa juga nilainya harus bagus? Ya, itu semua benar. Namun, ketika kita terlalu berorientasi kepada nilai, makna dari belajar itu lah yang kita tidak dapat. Karena jika kita terlalu berorientasi dengan nilai, maka segala carapun bisa kita lalui untuk mendapatkan nilai yang bagus. Entah itu mencontek, membeli kunci jawaban, dan perbuatan curang yang lainnya. Tentu hakikat belajar yang pada awalnya seakan kita sedang berjihad, dengan cara itu terasa ternodai makna dari belajar itu. Bukannya kita dapat pahala, malah dosa yang kita dapat.

Toh, jika kita mendapat nilai yang bagus tetapi dari hasil yang tidak halal, kita juga akan sulit kedepannya. Karena ilmu yang kita dapatkanlah yang akan kita terapkan. Lalu, ketika nilai bagus, tetapi ilmu yang kita dapat minim, apakah bisa nanti menerapkan di dunia kerja? Apakah bisa menerapkan ilmu yang didapat sesuai bidang di dunia pekerjaan?

Lagi pula, jika kita sudah berorientasi pada ilmu yang  kita dapat, kita sudah berjuang keras dalam belajar tetapi masih dapat mendapat nilai yang kecil, mungkin kita di tuntut untuk lebih keras lagi dalam berjuangnya. Mungkin cara belajar kita yang masih belum efektif dan mungkin kita masih salah dalam proses belajarnya. Tetapi yang saya pahami bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil :)

Semoga menjadi bahan renungan untuk aku dan kalian!

Share:

Thursday, 28 June 2018

Memaknai label 'Ukhti'

“Kamu kapan mau pakai cadar?”


...
...
...


Aku mematung sesaat. Pertanyaannya agak lucu bagiku. Terlebih, yang bertanya adalah seorang laki-laki non muslim teman sekelasku.
“Ah? Hahaha.” Aku sedikit kikuk menanggapinya, kusampaikan padanya bahwa aku tak ada niatan menggunakan cadar.
“Loh, kenapa? Bukankah itu wajib di agama mu?” tanyanya lagi.
Aku agak kebingungan menjelaskannya. Namun kucoba jelaskan dengan ilmuku yang sedikit ini. Ringkasnya, kubilang padanya bahwa cadar bukanlah sesuatu yang ‘saklek’ wajib dalam Islam. (Aku sangat menghormati dan menghargai seorang wanita bercadar meskipun tidak menggunakannya. Terlepas dari aku yang tidak menganggapnya wajib, hanya perbedaan furu’)
“Oh.. begitu.. terus, kamu mau gak disentuh sama laki-laki?” tanyanya lagi, begitu lugu.
“hahahahahahahhahah ngga.”jawabku, tertawa sedikit. Sebenarnya aku agak heran dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Bukankah ketika seorang perempuan menggunakan jilbab tertutup, jilbab mereka telah berbicara sebagai penjagaan diri? Apakah sekarang sudah tak berpengaruh?

“Eh, kamu kalau salam harus begini dong ya?” tanyanya lagi.
Aku menoleh, memerhatikan ia mendekapkan kedua tanganya—memeragakan gerakan salam antara laki-laki dan perempuan.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kucoba berpikir sejenak, dari sekian banyak muslim di kelasku, mengapa pertanyaan tersebut terlontar padaku?
Ah, mungkin kebetulan saja, batinku.
Atau, karena label ‘ukhti’ yang terpampang jelas pada dahiku?
-Untuk menghindari praduga yang seringkali salah, mari sama-sama yakin bahwa pertanyaan ini keluar dengan refleknya karena posisi dudukku yang berdekatan dengannya.-

Hmm bicara tentang ukhti, sebenarnya siapa sih ukhti itu?
Dia kah seorang anak ustadz?
Dia yang lulusan pesantren?
Dia yang banyak ilmu agamanya?
Atau, dia yang berpenampilan tertutup?
Ah, setahuku, ukhti itu saudari perempuan dalam Bahasa Arab. Namun, kini maknanya sudah beragam di masyarakat.

Menurutku, mereka yang dilabeli dengan sebutan ukhti adalah mereka yang kerudungnya menutup dada a.k.a syar’i dan biasanya menggunakan rok. Terlepas dari bagaimana ia bersikap, asal penampilannya terlihat Islami, dialah ukhti. Begitu kan?
Sampai akhirnya, bisa-bisa muncul istilah “Ukhti-ukhtian”.
Ya, tak lain, karena ekspektasi yang melambung tinggi terhadap si-ukhti.
Berpenampilan Islami dengan prilaku yang belum “baik” dalam pandangan orang kebanyakan, misalnya. Padahal, jelas-jelas antara jilbab dan akhlak adalah perkara yang berbeda. Jilbab adalah bukti taat kepada Allah, sedangkan akhlak adalah prilaku/sifat yang muncul dari pribadi masing-masing.
Terlepas dari harus memperbaiki akhlak, jelas harus diperbaiki.

Tapi apakah dibenarkan memandang buruk ia yang sedang berupaya taat dengan menggunakan jilbab ala ukhti karena kecacatan akhlaknya?
Memang sangat membuat risau. Karena biasanya, ekspektasi orang-orang terhadap ukhti ialah kesholehahannya. Ini membuat terbesit pertanyaan besar, “Apakah aku benar-benar sholehah dengan label tersebut?”
Dianggap sholehah benar-benar bikin resah, meski sebenarnya bisa juga menjadi tameng terhadap menjauhi hal-hal yang terbilang buruk.

Salah satu contohnya:



Awalnya aku tak menemukan ketenangan dalam situasi dianggap sholehah dengan label ukhti. Sampai akhirnya, ketenangan itu datang dengan sendirinya. Maha Baik Allah yang telah memperlihatkan bahwa tak usah risau dengan segala cap, label, penilaian, atau apapun yang datangnya dari manusia.
Pasti semua yang datangnya dari Allah memang membawa kebaikan dan kebermanfaatan.
Yakinkan hati bahwa perintah berpenampilan ukhti style ini adalah bentuk Allah cinta kepada hambanya. Sebagai penjagaan diri. Sebagai pemacu diri untuk berbuat baik.
Dan akhirnya aku sadar, segala hal memang dapat kita pandang secara positif ataupun negatif. Kitalah yang memilih untuk berada dimana. Benarlah Allah yang memerintahkan kita untuk terus berhusnudzan (berprasangka baik).

Segala hal, kalau dilihat dari sisi baiknya, bisa jadi penenang hati. Anggaplah label ukhti seperti do’a, tengadahkan agar diaminkan oleh penduduk langit.
Jangan sampai label ukhti membuatmu mengurungkan niat menggunakan pakaian yang sesuai dengan perintah-Nya ya!

“Kalau tak ingin terkesan sholeh, jadi sholeh beneran aja, bukan sekedar ‘terkesan’!”
-Seseorang
Share:

Wednesday, 27 June 2018

Ambis dalam Belajar, Apakah Optimal?

Pernah punya teman yang sangat ambis dalam belajar? Atau bahkan pengalaman pribadi?

Semangaat belajaarr! 
via ayip7miftah.wordpress.com

Ambis. Kata unformal  dari ambisius yang menurut KBBI berarti ‘berkeinginan keras mencapai sesuatu’.


Ya. Aku pernah mengalaminya, bahkan hingga saat ini pun aku masih mempunyai ambisi dalam belajar. Hanya saja, tingkat ambisiusku berbeda-beda di setiap waktu. Biasanya ambisius dalam belajar sangat tinggi ketika menjelang ujian. Setiap menjelang ujian yang sangat besar atau penting, tingkat ambisiku bisa mecapai the highest ambition.

Ini terjadi sejak UN SD.
Menjelang UN SD, selama satu minggu aku habiskan waktu hanya untuk belajar. "Belajar, belajar, dan belajar". Tiada detik tanpa belajar. Aku mengalihkan pandangan dari buku hanya untuk sholat dan keperluan mendesak seperti ke kamar mandi. Bahkan suatu hari aku mencuci baju sembari membaca rumus. Aku menempel rumus pelajaran di dinding kamar mandi. Bagaimana dengan makan? Makanan selalu dibawakan oleh ibu ke tempatku belajar. Dan aku pun makan sambil belajar. Kejadian high ambition terulang hingga SMP. Saat ujian SMP, aku menyengaja Puasa Daud agar belajarku tidak terganggu oleh makan. 

Lalu ketika SMA, high ambition terulang ketika UN SMA. Aku menghabiskan waktu hanya untuk belajar. Dari pagi hingga malam. Hanya saja intensitas belajar tidak seketat SD dan SMP karena aku masih harus melaksanakan aktivitas boarding (asrama). Akan tetapi, setelah melaksanakan aktivitas asrama, aku fokus belajar. Kejadian menempel rumus di dinding pun terulang, bedanya aku menempel di dinding tempat pencucian piring.

Ambisi itu muncul ketika kita sangat berharap suatu hasil maksimal terhadap apa yang sedang kita usahakan.
Ambisius itu positif. Kita memang harus berambisi. Hanya saja, ambisi harus diiringi dengan aktivitas yang proporsional atau seimbang. Ambisi berasal dari hati yang harus dikontrol oleh pemikiran dan aktivitas yang seimbang. Jika ambisi dibiarkan begitu saja, terjadilah hal seperti yang aku lakukan atau bahkan lebih. Dan hasilnya? Apakah maksimal?

Setelah melihat ke belakang, ternyata high ambition tidak menjadikanku optimal dalam ujian. Ketika ujian, terbayang di pikiranku “Aku harus mendapat nilai tinggi, kemarin aku sudah belajar maksimal, aku harus bisa menjawab soal-soal ini”. Dan setelah ujian, aku biasanya merasakan mual dan pusing. Saat UN SMA, aku sempat izin ke kamar mandi untuk muntah.

Ambisius yang tidak dikontrol membuat tubuh stress. Ambisius belajar dapat menjadikan tubuh lemah ketika jadwal belajar padat sehingga melupakan kesehatan tubuh.

Belajarlah dengan proporsional

Untuk mendapat hasil optimal, kita harus proporsional dalam belajar.


Proporsional dalam belajar adalah ketika memaksimalkan belajar pada waktunya,  bukan setiap waktu. 

Inilah mengapa kita selalu dianjurkan untuk membuat jadwal. Buatlah jadwal belajar dengan memberikan jeda untuk mengisi energi bahkan hiburan. Otak kita akan optimal ketika belajar dalam kondisi nyaman tanpa tekanan.


Layaknya larutan, otak kita juga memiliki titik jenuh. 

Kita pasti mengetahui berapa lama otak kita sanggup menyerap pelajaran. Ketika membuat jadwal, jangan memaksakan belajar dalam durasi melewati titik jenuh otak. Selingi belajar dengan hal hal yang membuat otak kita fresh, contohnya membaca Al-Qur’an, makan, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak setiap detik dari hidup kita untuk belajar.

Tidak menjadikan belajar di setiap detik kita bukan berarti berleha-leha. Ketika jadwal belajar, maksimalkan diri hanya untuk belajar. Fokuskan diri hanya pada pelajaran. Untuk sekarang, mungkin godaan terbesar adalah gawai. Oleh karena itu, jangan gunakan gawai selain untuk belajar. Kemudian, kita dapat kembali menggunakan gawai saat break atau bukan saat jadwal belajar.


Atur ambisi dalam diri dengan proporsional dalam belajar untuk hasil optimal. 

Belajar proporsional aku lakukan saat ujian SBMPTN. Aku tidak setiap detik belajar karena saat itu aku sedang pengabdian di asrama. Aku tetap melakukan aktivitas rapat, tugas pengabdian, hingga aktivitas yang aku sukai seperti membuat video yang menghabiskan waktu banyak. Walau demikian, aku memiliki jadwal belajar dan mengikuti sebuah bimbingan belajar. Pada saat itulah aku fokus dan optimal dalam belajar. Pada akhirnya, aku nyaman ketika mengerjakan ujian dan alhamdulillah mendapat hasil SBMPTN sesuai yang aku harapkan.

Selamat mencoba~~

Kalian juga boleh share pengalaman belajar atau tips belajar di kolom komentar. Terima kasih.
Share:

Thursday, 21 June 2018

Bingung Mau Ngapain Saat Liburan? 8 Tips Ini akan Membuat Liburanmu Berbeda!

Waktu liburan tentulah waktu yang menyenangkan. Kita bisa sejenak beristirahat dari rutinitas harian yang terkadang membuat jenuh pikiran dan badan. Namun tidak jarang, kita menjadi kebingungan ingin melakukan apa di waktu liburan yang ada. Bahkan waktu liburan yang harusnya dimanfaatkan sebaik mungkin, secara tidak sadar terlewat begitu saja. 

Nah, buat kamu-kamu yang bingung bagaimana menghabiskan waktu liburan, YoungInspirer.id punya 8 tips nih yang akan membuat liburanmu berbeda! Silahkan disimak 😃



Asyik ya liburan! via pixabay.com


1. Memori gawaimu kepenuhan? Waktu liburan bisa kamu manfaatkan untuk membersihkannya!

Pernah gak sih kamu ingin install suatu aplikasi di hp atau laptopmu tetapi muncul peringatan bahwa memori yang ada tidak mencukupi? Tentunya hal tersebut sangatlah mengesalkan, ya. Padahal files yang ada di gawaimu sebenarnya bukanlah files yang terbilang penting. Hanya saja, kamu suka malas untuk merapihkan dan membersihkannya karena itu memakan waktu yang tidak sebentar. Nah, kamu bisa memanfaatkan waktu luang pada masa liburan untuk membersihkan memori gawaimu!

Yuk bersih-bersih memori! via unsplash.com

2. Membantu orang tua.

Sebagai seorang anak, sudah sepatutnya kita membantu orang tua kita. Mulai dari hal sederhana seperti membuang sampah di rumah, sampai bantuan finansial jika memang sudah sanggup memberikannya. Intinya, berikanlah bantuan kepada orang tua kita sebagai tanda bakti kita kepada mereka. Toh kita bisa seperti sekarang pun karena jasa dari orang tua juga. 

Nah, kalau hari biasa yang penuh dengan rutinitas harian membuat kita kurang optimal dalam berbakti kepada orang tua, gunakan waktu liburan yang senggang untuk membantu orang tua kita ya Inspirers!


Buat orang tuamu tersenyum yaa. via huffpost.com

3. Mengunjungi tempat-tempat baru.

Mengunjungi tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya dapat memberikanmu pengalaman yang berharga. Dari sanalah kamu akan mendapat insight baru yang nantinya akan berguna bagi kehidupan kamu di masa yang akan datang. Maka berkunjung ke tempat-tempat baru bisa menjadi salah satu alternatif liburanmu, nih.

Tempat baru memang menarik. via instagram.com

4. Belajar kendaraan.

Bisa mengendarai kendaraan sendiri merupakan salah satu keahlian yang harus dikuasai di era modern saat ini. Dengan mengendarai kendaraan sendiri, kita bisa menjadi lebih mobile dalam beraktivitas dan tidak bergantung kepada orang lain. Kalau di waktu biasa kamu sulit untuk belajar kendaraan, maka kamu bisa belajar di waktu liburanmu. Mintalah kakak atau orang tua mengajarkanmu kendaraan seperti mobil atau motor. Ngga akan nyesel deh belajar mengendarai kendaraan!

Belajar nyetir itu susah-susah gampang lho. via hugtheroads.com

5. Buat tutorial tentang suatu hal dan membagikannya kepada orang lain.

Jika kamu suka main di sosial media dan kamu memiliki sesuatu yang menarik, akan lebih baik jika kamu bagikan. Misalnya kamu pintar dalam berdandan, kamu dapat membuat tutorial make-up kemudian kamu share di Youtube. Atau mungkin jika kamu ahli dalam bidang pemrograman, kamu juga bisa membuat tutorial dan membaginya. Membantu orang lain tak akan merugikanmu kan?


Yuk membuat hal yang berguna. via toonboom.com

6. Memasak

Kamu yang hobi masak, racik segala bahan yang ada di dapurmu dan berkreasilah! Namun, jika kamu yang tak bisa memasak, liburan adalah waktu yang baik untuk belajar memasak. Banyak menu yang bisa kamu cari di Google. Praktekkan dengan perasaan senang, niscaya rasa makananmu juga akan nendang.



Masak kayaknya seru deh. via leafly.com

7. Membersihkan dan merapikan kamar tidur.

Kamar tidur merupakan tempat yang penting karena digunakan untuk beristirahat. Oleh karena itu, kebersihan dan kerapian kamar tidur merupakan hal yang wajib hukumnya. Salah satu cara untuk beristirahat secara optimal pun adalah dengan memperhatikan kebersihan kamar tidur kita. Maka, sempatkan waktu liburanmu untuk membersihkan dan merapikan kamar tidurmu ya, Inspirer!

Kan enak kalo rapi dan bersih kayak gini.. via unsplash.com

8. Istirahat. 

Yap! Waktu liburan merupakan waktu yang paling tepat jika digunakan untuk beristirahat. Tetapi bukan berarti malas-malasan ya, Inspirers! Gunakan waktu luang saat liburan untuk beristirahat dengan baik, agar nantinya dapat beraktivitas dengan optimal saat masa liburan telah berakhir.


Istirahat yang cukup. via afr.com

Itu dia 8 tips dari kami. Kamu mau coba yang mana nih Inspirers? 😜


Share:

Sunday, 17 June 2018

Langkah Awal Untuk Memulai Perubahan

Hi Inspirer! Pada kesempatan kali ini, aku ingin membagikan isi dari Motivation Letter ku pada saat seleksi tahap 1 Beasiswa Rumah Kepemimpinan. Barangkali dapat bermanfaat dan dapat memotivasi para Inspirer. Ini juga merupakan langkah awal untuk memulai suatu perubahanku. Selamat membaca!

Sedikit bercerita tentang diri saya. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Dimana anak pertama dituntut untuk menjadi contoh atau panutan bagi adik-adiknya. Saya berusaha sebaik mungkin untuk menjadi kakak yang bisa memberikan contoh bagi adik-adik saya. Terbukti saya meraih NEM UN tertinggi pada saat sekolah dasar, diterima di salah satu SMP terbaik di Jakarta Selatan, yaitu SMPN 131 Jakarta, diterima di SMA terbaik di Depok, yaitu SMAN 1 Depok, dan bisa berkuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yaitu Institut Pertanian Bogor. 
Saya memiliki prinsip, yaitu seorang pembelajar yang masih bodoh dan akan terus merasa bodoh. Prinsip itu selalu mengingatkan saya untuk tidak pernah puas atas pencapaian yang saya raih. Karena selama hidup, kita belajar banyak hal. Belajar bukan hanya pelajaran eksak saja. Tetapi belajar dari hal-hal yang terjadi disekitar saya. Saya juga cenderung orang yang suka berorganisasi. Karena dengan berorganisasi, saya belajar banyak hal. Belajar tentang bagaimana cara me-manage waktu, belajar tentang kerjasama tim, belajar bagaimana memahami perasaan orang lain dan masih banyak lagi. 
Hal itu yang mendorong saya untuk mendaftar beasiswa rumah kepemimpinan. Saya ingin terus belajar sesuatu yang baru jika seandainya saya masuk beasiswa rumah kepemimpinan. Saya mendapat banyak informasi bahwa di rumah kepemimpinan, para pesertanya dididik untuk mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu memiliki pemikiran kreatif dan inovatif, serta berakhlak yang baik. Rumah kepemimpinan juga bisa dibilang tempat berkumpulnya orang-orang baik yang siap untuk membawa perubahan terhadap bangsa Indonesia ke arah lebih baik. Itu yang selalu saya harapkan, bisa berkumpul dengan orang-orang baik untuk membawa perubahan terhadap bangsa Indonesia agar lebih baik lagi kedepannya. Ada pepatah yang berkata, jika kau berteman dengan seorang penjual parfum, dirimu akan terkena wanginya. Menurut saya, pepatah itu benar dan saya cukup sepakat dengan hal ini. Mencari teman yang baik bisa menjadi sebuah keuntungan bagi diri kita. Memang pada dasarnya kita bisa belajar dengan siapa saja, bisa dari orang yang baik maupun yang tidak baik, bisa dari orang yang sukses, mau pun orang yang gagal. Namun, tentu saja berteman dengan orang-orang lebih baik membuat kita lebih aman. 
Saya merasa bahwa saya layak menerima beasiswa rumah kepemimpinan karena saya memiliki sifat yang ingin terus belajar dan open minded. Menurut saya, para generasi muda perlu memiliki sifat ingin terus belajar dan tidak mudah puas atas pencapaian yang telah diraihnya. Sifat yang tidak mudah puas itu mendorong para generasi muda untuk terus berkarya dan semakin meningkatkan kapasitas dirinya. Lalu di era milenial seperti sekarang, pentingnya kita untuk memiliki sifat open minded atau pemikiran terbuka ini lah yang mendorong kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Tentunya harus didasari dengan jati diri dan pendirian yang kuat. Dan saya merasa, saya memiliki kedua sifat tersebut. 
Terbukti pada saat saya SMA, saya mengikuti organisasi disekolah yang bernama Majelis Perwakilan Kelas atau biasa yang disingkat MPK. Pada saat saya kelas 10, saya ditunjuk untuk menjadi wakil ketua MPK. Menurut saya, amanah itu bukanlah suatu hal yang patut untuk dibanggakan. Tetapi, itu merupakan suatu musibah dan harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat. Namun, karena sudah dipercaya oleh banyak orang, saya harus menjalankannya dengan sebaik-baikmya. Di kelas 11, saya dipercaya untuk mengemban amanah menjadi ketua MPK. Suatu amanah yang besar, namun itu juga merupakan kepercayaan teman-teman terhadap saya. Saya belajar banyak hal ketika itu. Mulai dari cara menyeimbangkan akademis dan organisasi, public speaking, kerjasama tim, yang terpenting adalah saling memahami dan menguatkan.
Tidak hanya pada saat SMA saja. Di IPB pun saya melanjutkan kegemaran saya yaitu mengikuti organisasi BEM PPKU. Saya dipercayai untuk mengemban amanah sebagai Kepala Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa. Organisasi seperti sudah melekat pada diri saya. Karena saya berpikir dengan ikut organisasi, kesempatan saya untuk menyebarkan kebaikan akan semakin terbuka lebar. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat untuk orang lain. Dan saya mencoba untuk menerapkan hal itu di hidup saya. Bermanfaat bagi sekitar dimana pun dan kapan pun saya berada.
Itu isi dari Motivation Letter yang aku buat saat seleksi tahap 1 Beasiswa Rumah Kepemimpinan. Dan Alhamdulillah aku berhasi lolos seleksi Beasiswa Rumah Kepemimpinan. Semoga yang diharapkan di isi Motivation Letter ku bisa terrealisasikan. :)



Share:

Tuesday, 12 June 2018

Wanita Berkarir Surga #2


Berdasarkan fakta-fakta wanita pada tulisan sebeumnya (baca artikel: Resume Wanita Berkarir Surga #1), islam hadir untuk memberikan solusi.
Islam memberikan keadilan dengan memuliakan wanita sesuai dengan fitrahnya. Pria dan wanita sama-sama mencari ridho Allah swt lewat taklif (hukum dari Al-Qur’an dan Hadist) yang Allah berikan sesuai fitrah mereka, bukan berkompetisi antar gender, tapi BERKOLABORASI.

Memperlakukan pria dan wanita dengan setara justru bentuk KETIDAKADILAN

 


“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat 5 waktunya, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya sebagaimana syariat mengaturnya, dan taat pada suaminya, Maka dikatakan kepada wanita “masuklah ke surge melalui pintu manapun yang kalian inginkan” (HR. Ahmad)






1.   Islam memandang wanita shalihah sebagai perhiasan terbaik


“Dunia itu perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita
shalihah” (HR. Muslim)
Islam memberi aturan khusus bagi wanita agar tetap terjaga AKHLAK dan KEHORMATANNYA.


2.   Islam menjaga dan memberikan penghormatan kepada wanita dari kecil hingga menjadi ibu

Ketika menjadi “anak”, islam memerintahkan agar orangtua memberikan pengasuhan, perhatian dan penjagaan, terutama seorang ayah.
Ketika menjadi “wanita dewasa”, wanita akan dijaga oleh sang suami.
Ketika menjadi “ibu”, islam memerintahkan kepada anak-anaknya untuk menghormati sang ibu.

3.   Pesan Allah khusus bagi kaum wanita
Allah Swt menjaga wanita dengan beberapa peraturan yang  tidak mengekang.


KEMULIAAN WANITA DALAM ISLAM
1.   Mahar
Mahar adalah syarat pernikahan yang diberikan dari pria kepada pihak wanita sebagai bentuk PENGHORMATAN
2.   Islam melarang menyakiti istri
3.   Suami menjaga dan mendidik istri

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana romatisnya Rasulullah saw kepada istinya sebagai bentuk pemuliaan wanita.

Wanita sholihah akan menjadi kebahagiaan orang-orang sekitarnya:
1.   Kebahagiaan orangtua
Orangtua kan terjaga dari api neraka
2.   Kebahagiaan suami
Wanita sholihah membantu, memotivasi dan mendukung suami menyempurnakan setengah dari agamanya.
3.   Kebahagiaan anak-anak
Anak-anak bahagia mempunyai ibu yang mendidik dan mengajarkan islam yang benar.

Islam juga tidak mengekang wanita dalam beraktivitas. Sebagai contoh, seorang wanita diperbolehkan berkarir seperti bisnis dan lainnya dengan izin ayah atau suami mereka. 

Di akhir buku ini juga diceritakan kisah Ummu Alila dalam bentuk komik singkat. Ummu Alila adalah pemilik Hijab Alila dan istri dari Utadz Felix Y. Siaw.

Share:

Wednesday, 6 June 2018

Wanita Berkarir Surga #1

Hallo Inspirers!
Aku mau berbagi rangkuman isi dari buku Wanita Berkarir Surga. Buku ini ditulis oleh Ustadz Felix Y. Siaw dan tim Hijab Alila. Buku yang penuh dengan visual ini ingin menyampaikan pandangan tentang wanita yang akhir akhir ini menjadi trending topic karena munculnya faham feminisme.

https://www.google.com/
Pada awal buku, penulis mengungkapkan sejarah perlakuan terhadap wanita dari 6 peradaban, yaitu Yunani, Romawi, India, Cina, Arab Jahiliyyah, dan Eropa. Wanita mendapatkan posisi tidak terhormat dan perlakuan menyedihkan pada 6 peradaban tersebut. Pada Masa Yunani wanita dari kalangan bawah diperjual belikan seperti halnya China yang memperjual belikan gadis. Janda di India harus melakukan tradisi sati atau membunuh dirinya sendiri sebagai bukti pengabdian terhadap suami. Eropa membantai wanita karena dipercaya penampung setan dan roh jahat bahkan Arab jahiliyyah (sebelum islam masuk) mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Karena penyiksaan-penyiksaan tersebut, akhirnya kaum feminisme bangkit untuk membela wanita.  Tuntutannya sederhana yaitu “Kesetaraan pria wanita”. Kalau pria boleh, wanita juga boleh. Muncullah gerakan-gerakan feminisme yang berpemikiran liberal, marxis, sosial, dan lain-lain. Feminisme juga menuduh islam mendiskriminasi wanita dengan contoh warisan, poligami, talaq, dan lain-lain. Mereka memandang aturan islam membuat wanita jadi terkekang dan terbelakang.

 Feminisme menghasilkan pemikiran wanita bebas tanpa batas. Wanita dapat bersaing dengan pria dari mulai kekayaan, jabatan, dan aktivitas lainnya. Akibatnya, banyak terjadi broken home (perceraian) karena gugatan dari perempuan. Data dari Puslitbang Kementrian Agama tahun 2016, 70% dari kasus perceraian adalah karena gugatan cerai dari perempuan. Beberapa alasan dominan adalah persoalan ekonomi dan tanggung jawab terhadap anak. Selain itu, free sex pun banyak terjadi karena wanita menganggap pernikahan adalah perkekangan. Eksploitasi wanita pun terjadi dari mulai periklanan, dunia hiburan, dan lain-lain dengan memanfaatkan tubuh wanita yang menarik.

ANTI FEMINISME
Pada faktanya, pria dan wanita memang berbeda.
1.   Otak (Roger Sperry,1962)
Otak kanan kiri pria bekerja sendiri sendiri. Wanita bisa memiliki hingga 30% lebih koneksi antara otak kanan dan kirinya karena korpus kolasum yang lebih tebal dari pria.
Hal itu membuat pria FOKUS dan wanita MUTITASK.

2.   To d’point vs cerewet
Wanita dapat mengeluarka 16.000 kata/hari sedangkan pria 7.000 kata/hari
Pada usia 3 tahun, anak perempuan memiliki kosakata 3kali lipat dari anak laki-laki.

3.   Logika vs emosional
Pria mengedepankan logika karena otak kirinya berkembang lebih lama dibanding otak kanannya. Wanita cenderung emosional karena menggunakan otak kiri dan kanan dengan seimbang sehingga menghubungkan pikiran dan perasaan dalam waktu yang bersamaan.
4.   Tubuh pria dan wanita
Sejak dulu, pria berperan sebagai pemburu dan wanita sebagai pengasuh dan pemelihara. Postur dan struktur tubuh pria wanita berbeda menyesuaikan perannya.

5.   Hormon oksitoksin
Wanita memiliki hormon oksitoksi yang berperan merangsang timbulnya dorongan untuk disentuh dan menyulut reseptor sentuhan. Dengan demikian, wanita 10x lebih peka terhadap sentuhan dan tekanan disbanding pria.

6.   Hormone testosteron
Hormon testosterone melimpah pada tubuh pria untuk menghasilkan oto-otot yang kuat disbanding wanita.

7.   Lemak
16% lemak pada tubuh pria dan 27 % lemak pada tubuh wanita. wanita membutuhkan banyak lemak untuk membuat system saraf dan mengandung DHA (Docosahexaenoic acid).


“Perbedaan-perbedaan pria dan wanita bukan ditujukan untuk bersaing, tapi untuk saling melengkapi”
























Share:

Saturday, 2 June 2018

Berawal dari Mimpi Menjadi Sebuah Capaian Prestasi


Salam Inspirers! Beberapa waktu lalu aku mengikuti lomba menulis cerita inspiratif yang diadakan di Universitas Bangka Belitung. Ini merupakan pertama kalinya aku mengikuti lomba saat di bangku kuliah,dan ternyata ini juga merupakan pertama kalinya aku mendapat suatu keajaiban dapat menjadi juara dalam lomba tingkat nasional. 

Berawal dari keinginan dan mimpi yang besar untuk bisa merasakan sensasi pergi keluar kota "gratis" saat kuliah, aku memberanikan diri untuk ikut lomba ini walaupun ya masih sangat pemula dan benar-benar mengerjakan sendiri tanpa ada bimbingan dari siapapun. Karena keinginan yang kuat ini, hanya dengan bermodalkan mimpi dan kerja keras serta tidak putus-putusnya aku meminta doa dari orang tua ku untuk dimudahkan--walaupun mereka sebenarnya tidak tahu aku ikut lomba apa--, tetapi berkat doa orang-orang yang selalu mendukungku alhamdulillah aku berhasil lolos menjadi salah satu finalis diantara 45 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Berikut aku lampirkan pula cerita yang berhasil membawa anak Jakarta ini pergi ke salah satu tempat impiannya sejak SMP yaitu Bangka Belitung, sebenarnya mimpiku ingin pergi ke Pulau Belitung tempat pembuatan film serta latar cerita dari buku best seller Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tetapi ternyata aku diberi jalan lain, pergi ke pulau seberangnya dahulu yang tidak kalah cantiknya dengan Belitung, mungkin suatu saat nanti akan ada saatnya aku pergi ke Belitung.

Pantai Tikus Emas, Bangka

Semoga kisah ku ini bisa menjadi sedikit inspirasi bagi sobat Inspirers dimanapun berada, karena apabila kita berani untuk bermimpi, insyaallah semua mimpi itu akan datang satu persatu kepada kita. Sejalan dengan salah satu quotes favoritku dari penulis hebat yang sudah ku sebutkan di atas, yaitu Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

Selamat membaca.


BERAWAL DARI MIMPI, ANAK SECURITY MASUK PERGURUAN TINGGI

Ini kisah ku, kisah anak kota yang menjadi anak pertama dan juga cucu pertama keluarga yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Disaat semua sepupu dan juga kakak kandungku satu-satu  nya memilih untuk bekerja dan menikah setelah lulus sekolah menengah atas, akulah yang bisa dibilang menjadi anak paling beruntung karena bisa tetap melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.

Aku tinggal bersama kedua orang tua ku di pemukiman padat penduduk daerah Jakarta Timur. Kontrakkan tiga petak menjadi tempat kami tinggal dan menghabiskan waktu, dengan jalan tikus yang hanya bisa dilewati oleh satu sepeda motor, sehingga kalau ada dua sepeda motor berpapasan, salah satu nya harus mengalah atau kalau tidak maka terjadilah kemacetan kecil-kecilan disana hehehe. Ayahku bekerja di pasar tanah abang yang berjarak sekitar 16km dari rumah,pergi dan pulang dengan mengendarai sepeda motornya yang baru lunas beberapa waktu lalu. Setiap hari ayahku bekerja, jadi begini jadwal nya, misal hari ini beliau masuk pagi lalu pulang malam, besoknya beliau kerja malam dan pulang lusa. Begitu seterusnya, walaupun itu hari minggu atau libur tanggal merah, ayahku tetap bekerja sesuai jadwal yang ada. Iya, ayahku bekerja sebagai satpam di sana. Aku sering ditanya oleh orang apa pekerjaan ayahku, disaat teman-teman yang lain menjawab orang tua nya kerja di perusahaan ini, perusahaan itu, pegawai ini, pegawai itu. Akupun menjawab kalau ayahku bekerja sebagai satpam, aku tetap bangga dengan ayahku, karena keringat beliaulah aku bisa terus melanjutkan sekolahku dari SD-SMA.

Sampai saat ditahun akhir sekolah ku, aku sempat takut untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan kondisi ekonomi keluargaku, karena yang aku tahu kalau biayanya pastilah tidak murah. Tetapi ibu dan ayahku, selalu tetap menyemangatiku agar aku tidak usah memikirkan hal tersebut, mereka yakin kalau aku berusaha dan yakin maka pasti akan ada jalannya.

Ohiya bicara tentang ibuku, kesibukan sehari-harinya adalah mengurusi banyak hal dari pagi sampai pagi lagi di suatu tempat yang biasa kita sebut rumah. Ya beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Tuntutan saat kecilnya dulu sebagai anak kedua dari tujuh orang bersaudara memaksanya untuk membantu nenekku dan mengurusi adik-adiknya. Itu juga yang menjadi salah satu alasan ibuku tidak melanjutkan sekolahnya, dulu beliau hanya lulus dari sekolah dasar yang sekarangpun tidak tahu ada dimana ijazahnya. Mungkin karena itulah ibuku sangat ingin aku untuk terus melanjutkan dan juga berprestasi di sekolah. Saat SD ayah yang mengantar aku ke sekolah sekaligus berangkat kerja, lalu siang harinya ibu yang menjemputku di sekolah. Seperti itulah sekiranya sampai aku bisa pulang dan pergi bersama teman-teman sekolah saat kelas 3 SD. Ibuku selalu menemani kegiatanku sejak SD, seperti saat aku mengikuti lomba-lomba dari lomba matematika, mewarnai, menggambar, dan menari. Ibuku selalu setia menemani, dan mungkin karena kehadiran beliaulah aku jadi semangat dan bersungguh-sungguh sehingga sudah biasa aku berhasil mebawa piala setelah mengikuti lomba tersebut.

Dengan keadaan keluarga yang seperti ini membuatku termotivasi untuk selalu berprestasi dan membanggakan kedua orang tuaku, aku tidak ingin pengorbanan yang mereka berikan untukku terbuang sia-sia. Alhamdulillah aku bisa dibilang sebagai siswa yang aktif dan berprestasi sejak di sekolah dasar, saat SD aku selalu berhasil menduduki peringkat 1 sejak kelas satu sampai kelas enam. Saat kelas enam, aku berhasil menjadi peraih nilai UN tertinggi di sekolahku. Lanjut ke SMP, prestasi akademikku terus ku pertahankan sehingga kelas tujuh sampai kelas sembilan aku selalu masuk kedalam peringkat 5 besar. Saat SMP, kegiatan ku tidak hanya sekolah saja tapi aku juga mengikuti OSIS dan mengikuti berbagai lomba dari tingkat kecamatan, provinsi, dan Jabodetabek.

Saat di SMA aku tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuaku, aku aktif di OSIS, aku sering mengikuti lomba di sekolah bahkan sampai ke tingkat nasional. Aku berhasil menjadi salah satu pelajar yang mewakili DKI Jakarta sebagai Duta Sanitasi di acara yang diadakan Kementerian Pekerjaan Umum saat itu.

Perjuanganku di SMA berlanjut sampai saat untuk menentukan kemana nanti aku akan melanjutkan pendidikan. Saat aku sempat kebingungan untuk masalah biaya nanti, aku mendapat informasi dari guru BK ku kalau ada pendaftaran beasiswa bidikmisi, akupun yang mendengar hal tersebut langsung mecari tahu bagaimana cara agar aku bisa menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut, dari mencari di internet dan bertanya sana sini pun aku lakukan sampai akhirnya aku terdaftar sebagai salah satu calon penerimaa beasiswa bidikmisi. Aku mengikuti berbagai jalur masuk ke PTN, sayangnya aku tidak berhasil lolos di jalur pertama yaitu SNMPTN. Akupun berusaha tegar dan tidak menyerah, aku mengikuti SBMPTN dan juga UMPN (Ujian Masuk Poleteknik Negeri). Sampai saat pengumuman ujian tersebut, aku berhasil lolos di keduanya. Suatu kebanggaan yang kupersembahkan untuk kedua orang tua ku.

Karena aku mengikuti SBMPTN sebagai calon penerima bidikmisi dan juga aku berhasil diterima di Institut Pertanian Bogor, salah satu PTN terbaik di Indonesia. Akupun memilih untuk melanjutkan di IPB dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi. Semua persyaratan ku lengkapi, sampai saatnya aku lolos ke tahap wawancara. Kali itu, kali kedua aku pergi ke IPB setelah yang pertama kali waktu itu saat mengikuti open house IPB bersama teman-teman. Saat wawancara aku pergi dari Jakarta bersama ibuku menggunakan angkutan umum dari kopaja, KRL, dan juga angkot. Sesampainya di IPB tepatnya di gedung AHN aku di wawancara dan saat itu sekaligus pengumumannya. Akupun menunggu bersama ibuku, sampai adzan zuhur sudah berkumandang, kamipun melaksanakan sholat berjamaah di musholah terlebih dahulu, dan juga terus berdoa agar aku bisa lolos dan menjadi salah satu penerima bidikmisi. Aku kembali ke tempat wawancara dan menunggu di kursi yang telah disediakan bersama dengan teman-teman yang baru ku kenal disana. Hingga tiba saatnya giliran namaku yang dipanggil, hanya alhamdulillah yang bisa kuucapkan saat itu, aku menjadi salah satu penerima beasiswa bidikmisi. Langsung terbayang wajah kedua orang tuaku di dalam pikiran ku. “Ibu, Ayah.. anakmu ini bisa melanjutkan kuliah di IPB, kampus pertanian terbaik di Indonesia yah.. bu.. aku nanti lulus jadi sarjana bu.. yah.. semua ini aku persembahkan untuk kalian”. Batinku dalam hati.

Terima kasih bidikmisi, karena bidikmisi telah menghidupkan kembali mimpi-mimpi kami, mimpi seorang anak yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan bidikmisi, meraih prestasi, membangun negeri!

Puncak Acara Gebyar Mahasiswa Bidikmisi Nusantara
Universitas Bangka Belitung, Bangka Belitung


Share:

Friday, 1 June 2018

Menghargai Diri Sendiri


Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang menghampiriku ketika aku baru saja selesai menginstruksikan sesuatu dalam sebuah kepanitiaan di kampusku. Orang itu tersenyum sambil bertanya,

“Kamu jurusan apa?”

“Komunikasi dan pengembangan masyarakat!” jawabku dengan sumringah. Orang itu tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kenapa?” tanyaku, penasaran.

“Cocok!” katanya, diiringi tawa tipisnya.

Sebenarnya aku sadar, teman ku ini hanya basa-basi. Aku paham betul, gaya berbicara ku masih terbilang urakan dan tidak tersrtuktur. Tapi inilah the power of kata-kata. Seakan tak peduli dengan skill yang masih minim, setidaknya, ada harapan untuk bisa menjadi lebih baik.

Inilah apresiasi. Sesederhana itu.

Ini tentang mencoba memberi penghargaan pada hal-hal (yang terkesan) sepele. Memang seringkali terlupakan, terlebih pada diri sendiri.

Mengapresiasi orang lain pasti lebih sering kita lakukan. Tapi mengapresiasi diri sendiri? Rasanya jarang sekali dan seakan menjadi hal tabu. Padahal, dengan kita mengapresiasi diri sendiri, kita sedang menghargai diri kita. kita bersyukur atas segala kelebihan dan kekurangan yang telah diberikan Sang Maha Kuasa pada diri kita.

Menghargai diri sendiri bukan berarti ujub (berbangga), hanya saja kita sedang berusaha berterimakasih atas segala upaya yang diri kita lakukan. Sebab se-lelah apapun kita berkarya, se-letih apapun kita berusaha melakukan hal-hal tak terduga, orang lain hanya mengenal hasil. Tak ada yang benar-benar mengerti seberapa capeknya berjalan menembus batas zona nyaman, kecuali diri kita sendiri.

Namun dengan dalih tak mau terkesan ‘narsis’, sebagian orang malah lebih sering merendahkan dirinya. Tak ingin sombong, katanya. Tapi apakah itu dibenarkan?

Aku rasa, semua harus tawazun (seimbang). Menjadi rendah hati sekaligus menghargai diri sendiri, sederhana kan?

Mulai sekarang, hindari kata-kata “Da aku mah apa atuh” yang seakan menjatuhkan diri sendiri. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Berjayalah dengan kelebihan yang kita miliki, namun selalu rendah hati.
(sumber:weknowyourdreams.com)

Percayalah, bodoh dalam aritmatika tidak mengartikan dirimu benar-benar bodoh. Coba lihat lebih jauh, jika ternyata bakatmu adalah bernyanyi dan melukis, itulah dirimu. hargai tiap-tiap langkah pada usaha yang dirimu kerjakan. Jangan memaksanya mengikuti tolak ukur "hebat" orang lain. Akan sangat melelahkan jika terus mengikuti tolak ukur kehebatan orang lain. Mulailah berjalan pada jalan yang sesungguhnya harus kau jalani. Bandingkan dirimu dengan dirimu yang dulu--yang membutuhkan perubahan--bukan dengan orang lain.

Lalu, ketika peningkatan itu akhirnya kau rasakan. Apresiasi dirimu. Mulailah dengan hal-hal yang kecil, tak usah muluk-muluk. Setidanya, hargailah dirimu. Kau yang harus memulai menghargai dan mengapresiasi dirimu sebelum orang lian.

Kalau terus menunggu apresiasi dari orang lain, waktu kita hanya dihabiskan untuk menunggu. Sebab, orang lain memang hanya melihat dari apa yang terlihat. Tak benar-benar mengerti bagaimana upaya kita mencapai tujuan itu.
Lagi pula, untuk apa menunggu penghargaan orang lain?
Lebih baik, kita berbagi peran. Biarkan orang lain menjadi penonton dan pemberi komentar.

Teruslah bergerak menuju pencapaian dan jangan ragu untuk percaya pada diri sendiri.

Kadang, kita harus memandang lebih jauh, mendengar lebih tajam, dan merasakan lebih dalam tentang hal-hal remeh yang kita lakukan hari ini. Salah satunya, menghargai diri sendiri.

Apapun yang hadir di dunia ini, pasti memiliki maksud dan tujuan berada di dunia ini. Tak ada yang dilahirkan dengan sia-sia. Mulailah berprasangka baik terhadap Sang Pencipta. 
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com