Thursday, 3 May 2018

Kisah Pilu Anak Negeri

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan di luar sana yang  jauh dari tempat tinggalmu?

Pernahkah kamu merasa  ada sesuatu yang mengusik batin dan membuatmu penasaran akan kehidupan di sudut kota?

Pernahkah kamu menduga ada sesuatu yang sedang tidak beres di sana?


Dreamstime.com

Semua pertanyaan di atas harus kujawab dengan “ Ya, Aku pernah”. Seringkali aku mendengar celotehan teman – temanku yang berasal dari kota bahwa kehidupan malam amat mengerikan. Sudah banyak program televisi yang kutonton menyuguhkan berita berita patroli yang dilakukan pada malam hari. Pesta miras, balapan liar, kumpul – kumpul anak muda yang melewati batas, bahkah peringkusan pengedar narkoba sudah pernah kulihat, tapi melalui televisi dan media lainnya. Kadang raga ini tergerak untuk menyaksikan realita itu secara langsung.

Minggu itu aku bersama kedua temanku berjanji untuk saling jumpa hanya sekedar untuk berbincang dan menjalin rasa kekeluargaan yang sedikit mulai pudar karena frekuensi komunikasi yang mulai mengurang pula. Singkat cerita kami pergi ke salah satu kebun yang terkenal di Kota itu dengan tujuan menghilangkan kepenatan setelah terpapar hiruk pikuknya Ibukota. Untuk mencapainya, kami harus berjalan beberapa kilometer dari tempat terakhir yang kami singgahi. Selama perjalanan, aku menemukan suatu keanehan atau mungkin sesuatu yang tidak biasa kulihat atau juga sesuatu yang lumrah bagi orang lain tetapi bagiku hal yang kulihat ini adalah kali pertama selama aku ada disini.

Bukan permen, bukan mainan, bukan pula benda-benda yang seharusnya melekat pada anak anak usia 9 – 12 tahun, tetapi yang kulihat adalah kamera DSLR, kamera SLR, kamera mirrorless, tongsis( tongkat narsis ), dan merek – merek smarphone canggih beralih dari tangan satu ke tangan yang lain. Aku mengerti jika kita berada pada era digitalisasi, ‘Generasi Millenial’ katanya ada juga yang menyebutkan ‘Generasi Z’. Kawan aku tidak merasa aneh dengan pemandangan ini. Puncak dari kegelisanku selama ini terletak bukan pada benda yang mereka genggam, tetapi pada alasan mengapa benda itu ada ditangan mereka dan sikap mereka yang menurutku sudah melewati batas jika dibandingkan dengan usia.

Aku tidak menemukan seorangpun yang berpakaian pantas selain aku dan kedua temanku disana. Sekali lagi kutegaskan, tidak kutemukan satupun pakaian yang pantas selain kami bertiga.  Sempat aku mengira bahwa kami ‘salah jalur’ . Tidak kawan, kami tidak pada tempat yang salah. Kumpulan anak muda baik dari rentang usia SD sampai SMP ada disana. Kuteliti baik – baik , kupastikan sekali lagi bahwa penglihatanku salah, namun inilah kenyataanya. Anak –anak gadis yang seharusnya terjaga, disana mengekspos setiap inci kulit tubuhnya. Mereka memakai baju tetapi transparan dan membuat pusar terlihat entahlah aku merasa miris, mereka memakai celana tetapi sobekan – sobekan disana ikut menyobek batin ini pula, mereka memakai bedak tapi blush on, lipstik, eyeshadow, dan segala macam makeup lainnya ada diwajah itu pula.   Gemetar tangan menulis cerita ini, karena aku harus membayangkan bahwa adik – adik kecil tersebut yang seharusnya dijaga kini dibiarkan dengan keadaan  antah berantah.

Sama halnya dengan anak lelaki disana, bukan kelereng, bukan mobil tamiya, tetapi batangan rokok dimulut dan korek disaku celana. Mereka berpose berhimpitan dengan anak – anak perempuan, tangan berkeliaran, tidak ada batasan dalam pergaulan. Di sudut – sudut ada yang beruduaan, berangkulan, keduanya menggunakan rokok secara bergantian. Sesak dada ini mengingat kembali kejadian itu. Cukup dengan pengalaman di siang itu, aku bisa memperkirakan bagaimana kehidupan di sana pada malam hari.



portalsatu.com

Kawan apa yang salah dengan anak negeri ? Begitu cepat teknologi dan informasi berkembang, begitu cepat pula moral dan norma tiada. Asumsiku kuat bahwa mereka yang berada pada jalur yang salah juga dapat menularkannya kepada mereka yang belum tahu apa – apa. Lingkungan bermain memiliki pengaruh dalam pembentukan moral seorang anak. Jadi siapa yang harus kita prioritaskan ? Memperbaiki mereka yang sudah terkena dampak atau menjaga mereka yang belum terkena dampak dari pergaulan yang tidak sehat ? Perlu ada peran orang tua, peran keluarga, dan peran kita sebagai sesama anak bangsa untuk menuntun dan membina anak – anak negeri ini.

Saranku, kita sebagai orang yang lebih tahu dan lebih dewasa bisa memberikan contoh yang teladan pula baik untuk adik – adik kita sendiri, sepupu, keponakan, maupun anak – anak di lingkungan sekitar. Berangkat dari niat yang tulus, kita akan sampai pada titik dimana perubahan akan mengarah pada arah yang lebih baik pula. Tetap semangat Inspirers, jadilah anak negeri yang berani, berprestasi, dan mampu membawa perubahan yang berarti J .




Share:
Lokasi: Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia academics blog
academics blog

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com