Saturday, 19 May 2018

Prinsip

Prinsip? Bagimana menurutmu?

Omong kosong? Atau justru menjadi motivasi?

Tentang prinsip, beberapa temanku memiliki prinsip yang rasanya patut untuk kita renungkan. 

Allah burdens no soul beyond what it can bare
Do the best, and let Allah do the rest
Bisa jadi contoh tentang penghambaan kepada Allah.


Tandang ke gelanggang walau seorang
Sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang
 Bisa jadi contoh tentang keberanian.
Jomblo fii sabilillah
Yang terjaga hanya untuk yang menjaga
Bisa jadi contoh tentang penjagaan diri.


Setia? Kenapa tidak?
Sumber: Potongan koran Minggu pagi 
Satu kata, satu makna. 
Prinsip, secara sederhana bisa diartikan sebagai suatu nilai yang dijadikan pedoman oleh seseorang dalam melakukan sesuatu. Pertanyaannya adalah sudahkah dirimu memiliki prinsip? Begitu banyak yang memiliki asa tinggi, tapi begitu banyak pula yang harapnya patah dan terhempas dari langit tertinggi.

Mereka yang menginspirasi, selalu mempunyai prinsip sekokoh karang yang bersemayam di dalam hati. Tengoklah mereka yang tidak berprinsip, dapat kita temukan mereka seperti daun yang terjatuh di aliran sungai. Setelah memiliki prinsip pun bukan berarti kehidupan menjadi mudah, justru setelah memiliki prinsip lah kehidupan akan mengirimkan jutaan badai untuk menguji prinsipmu. Mungkin itulah mengapa mudah kita temukan yang tidak berprinsip. 
Berprinsip itu konsekuensinya berat!
Akhirnya, seberapa pun indahnya prinsip yang engkau miliki semua takkan berarti, kecuali engkau siap membuktikannya. Para pemilik prinsip memang bukan untuk kebanyakan manusia, hanya para pemberani lah yang pantas memilikinya.

Jadi, sudah siapkah dengan segala konsekuensi dari prinsipmu?


MNA
Share:

Tuesday, 15 May 2018

Visi Menentukan Segalanya

Pernahkah kita berpikir, apa yang membedakan orang sukses dengan orang yang biasa saja? Apa yang membedakan mereka yang memiliki pencapaian di atas rata-rata dengan mereka yang untuk menyelesaikan masalah kecil dalam hidupnya saja kesulitan?

Jika kita perhatikan orang yang memiliki pencapaian-pencapaian hebat dalam hidupnya, kita akan menemukan perbedaan dibanding orang yang pencapaiannya biasa saja. Bahkan, perbedaan itu nampak kontras jika dibandingkan.

Orang yang pencapaiannya hebat, pastilah memiliki kebiasaan yang hebat pula. Waktunya tidak pernah disia-siakan, sangat menjaga relasinya, tutur katanya baik dan terjaga, tidak mudah menyerah, dan sifat-sifat lainnya yang secara kasat mata maupun tidak, dapat menjadi pembanding nyata jika dibandingkan dengan orang yang pencapaiannya biasa saja.

Lalu sekarang, mengapa mereka bisa memiliki sifat dan kebiasaan seperti itu namun sebagian besar orang lain tidak?

Jawabannya adalah karena mereka memiliki VISI. Apa itu visi?


Sumber : http://s2kebidanan.fk.unand.ac.id

Menurut Anthony D'Souza, visi adalah, 
"Sesuatu yang pantas untuk diraih dan bisa dijadikan dokumen hidup yang selalu bisa dikembangkan."
Sedangkan menurut Jackie Ambadar, Miranty Abidin, dan Yanty Isa, visi adalah
"Penentu faktor kualitas untuk menjalankan suatu kegiatan secara rutin dan menghilangkan kebosanan."

Mudahnya, visi adalah suatu pandangan mengenai cita-cita atau kondisi ideal yang diinginkan seseorang untuk hidupnya dan lingkungannya, di masa depan. Visi membuat seseorang dapat melihat keadaan yang tidak dapat dilihat orang lain. Visi inilah yang menjadi generator pembangkit energi disaat kesulitan dan masalah melanda. Dengan memiliki visi seseorang akan senantiasa mengingat apa yang benar-benar diinginkannya di masa depan. Oleh karena itu, halangan dan rintangan dipandangnya sebagai batu loncatan untuk menggapai visinya tersebut, bukan sebagai hambatan yang membuatnya lemas dan tak berdaya.

Untuk lebih memahami apa yang dimaksud visi, simak kisah berikut.

Alkisah di belakang suatu gunung ada sebuah desa yang sering mengalami kekeringan. Namun ternyata, di balik gunung itu justru mengalir sungai yang airnya sangat deras. Andai kata ada yang mampu memindahkan gunung, dan mengubah aliran sungai, desa itu bakal memiliki air cukup dan tak akan lagi kekeringan. Namun di desa itu tak ada seorang pun yang berani berpikir untuk memindahkan sang gunung. Sesuatu yang tak mungkin.                                                                                                               
Uniknya, ada seorang lelaki setengah baya yang tinggal di tepi desa tadi yang akhirnya
terpanggil untuk menyelesaikan tantangan yang tidak mungkin itu. Suatu hari, setelah fajar, sang lelaki membulatkan tekadnya. Ia mengambil pacul dan mulai berjalan ke gunung. Ia bekerja dari subuh hingga matahari tenggelam, tak kenal lelah. Mencangkul dan mencangkul.

Setelah seminggu ia bekerja, akhirnya anak-anaknya pun mulai memperhatikan ulah sang ayah. Ketika diceritakan bahwa sang ayah ingin memindahkan gunung, ketiga anaknya terbahak-bahak. Mereka menganggap ayahnya gila, dan mau melakukan hal yang tak mungkin. Sang ayah terdiam saja. Ia terus melanjutkan pekerjaannya dari hari ke hari.                                                                                                                                                                                             
Sebulan kemudian, cerita ini menyebar ke seluruh desa. Sang lelaki itu kini malah dijuluki gila oleh semua warga desa. Ketiga anak lelaki itu lama-lama malu dengan olokan warga desa. Hingga suatu hari mereka memutuskan membantu ayahnya.                                                                                                     
Sejak itu, keempat lelaki itu selalu berangkat subuh, dan mencangkul gunung hingga matahari tenggelam. Setelah beberapa bulan mereka bekerja, warga desa mulai melihat sebuah lubang besar di gunung. Tak lama kemudian, seluruh desa ikut bergabung.

Setahun lebih, gunung itu akhirnya berhasil dilubangi. Aliran sungai pun berhasil dibelokkan. Alhasil, air yang deras mengalir lewat terowongan dan melewati desa tersebut. Desa itu tak pernah lagi kekeringan.

Itulah visi. Suatu pandangan yang mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu perbaikan bagi dirinya dan lingkungannya. Tidak peduli apapun yang akan diterima, baik itu sesuatu yang menyenangkan seperti ungkapan semangat dari orang lain, atau bahkan padangan meremehkan dan sebutan gila seperti yang diterima oleh lelaki tadi, seseorang yang memiliki visi akan tetap melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai target yang diinginkannya. Selama Ia merasa bahwa visi yang dimilikinya membawa kebaikan, maka segala cara akan dilakukan, termasuk bekerja keras tak kenal lelah demi mencapai tujuannya.



Sumber : google.co.id


Setiap orang besar memiliki visi hidup. Visi yang mereka miliki kemudian ditanamkan dalam-dalam di alam bawah sadar mereka, yang kemudian menjadi penggerak dalam setiap aktivitas mereka. Secara kasat mata pun akan mudah membedakan mana orang yang memiliki visi hidup dan mana yang tidak. Mereka yang memiliki visi hidup cenderung akan terlihat bersemangat dan dipenuhi oleh aura positif dibanding mereka yang tidak. Dalam keseharian pun kebiasaan yang mereka miliki berbeda dibanding orang lainnya. Orang yang memiliki visi hidup memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Lalu bagaimana cara membuat visi?

Pertama, cari tahu apa yang benar-benar kamu inginkan.

Dalam hidup ini tentunya kita sering menginginkan banyak hal. Namun dari sekian banyak keinginan kita, pastilah ada hal-hal yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. Cobalah renungi hal-hal tersebut. Kemudian kombinasikan menjadi sesuatu yang saling berkaitan.

Kedua, pastikan visi tersebut membawa dampak positif bagi lingkungan.

Jangan jadikan visi hidup kita hanya berorientasi pada diri kita saja. Visi hidup yang baik haruslah dapat menyelesaikan permasalahan orang banyak. Ketika kita berusaha menyelesaikan masalah orang lain, masalah yang kita hadapi pun akan lebih mudah terselesaikan. Dan juga, apa yang kita inginkan akan lebih mudah kita gapai.

Visi yang hanya berorientasi pada diri sendiri tidaklah baik. Dalam perjalanan mewujudkan visi seperti itu, kita cenderung akan hanya mementingkan diri sendiri dan menjatuhkan orang lain. Tentunya tidak mau kan, jika apa yang kita inginkan dapat tercapai tetapi kita tidak disukai oleh orang banyak?

Ketiga, karena visi ini akan menjadi panduan hidupmu, buatlah dalam jangka waktu panjang dan tidak terpaut akan kondisi saat ini.

Terakhir, rangkum dan tuliskan visi tersebut menjadi suatu kalimat yang akan memandu hidupmu dan menjadi dasar dalam menentukan target-target lainnya.

Sebagai contoh, visi hidup yang aku miliki adalah,

"Masuk surga tanpa hisab, dengan menjadi seorang pebisnis yang memiliki korporasi multinasional sehingga bisa menjadi tumpuan ekonomi ummat."

Tentunya apa yang kutulis di atas sangat terbuka untuk saran dan masukan yaa. Silahkan tuliskan pendapatmu di kolom komentar jika ada yang kurang berkenan atau saran agar tulisan ini lebih baik lagi ^^

Nah, Inspirer, mulai tentukan visi hidupmu dari sekarang ya!





Share:

Saturday, 12 May 2018

Pengaruh Lingkungan Eksternal terhadap Kondisi Psikologis Seseorang




sumber gambar: http://www.alphr.com/science/1008459/depression-language-signs-machine-learning


Kadang-kadang saya berpikir, bahwa kondisi psikologis manusia seperti sebuah machine learning.

Menganalisis dari kata learning itu sendiri, machine learning adalah suatu program yang diibaratkan sebagai sebuah mesin, di mana mesin tersebut “belajar” dari data-data yang masuk saat program dijalankan, sehingga pada saat yang sama, akan terjadi proses update kumpulan data yang ada. Program pun “belajar” dari input tersebut untuk mengambil sebuah prediksi yang berlandaskan data-data yang telah masuk tadi.

Kembali kepada penyataan awal, saya berpikir bahwa kondisi psikologis manusia itu seperti sebuah machine learning. Jika umpamanya, kita menganggap bahwa karakter paling dasar (yang menjadi lapisan terdalam dari sifat seseorang) adalah inti dari sebuah atom, kita dapat membuat perumpamaan bahwa pengaruh dari lingkungan luar adalah elektron yang mengelilingi inti atom itu sendiri.

Elektron yang tersebar dalam kulit-kulit atom memiliki peran aktif dalam memengaruhi sifat kimiawi dari suatu atom, sebagaimana lingkungan eksternal manusia yang berperan dalam pembentukan karakter manusia. Perbedaan antara elektron dalam atom dengan pengaruh lingkungan eksternal adalah kita tidak dapat mendefinisikan bahwa pengaruh tersebut bermuatan seperti elektron, sebab tidak selamanya selalu bernilai negatif.

Selain itu, hal-hal yang berkaitan dengan pengaruh luar ini dapat diklasifikasikan ke dalam opini publik mengenai diri seseorang, penghakiman lingkungan sekitar terhadap diri seseorang—baik itu dalam konotasi positif maupun negatif, dan lain sebagainya.

Pengaruh dari keberadaan elektron dalam sebuah atom dan data-data yang diperoleh dari lingkungan eksternal manusia nyaris serupa, sebab seperti elektron yang memengaruhi sifat kimiawi suatu atom, lingkungan sekitar sangat proaktif dalam membentuk karakter manusia.

Unsur gas mulia yang memiliki delapan elektron valensi, menjadi unsur yang paling stabil karena tidak membutuhkan elektron dari atom lain untuk mencapai kestabilan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa suatu elektron memiliki peran yang amat penting dalam pembentukan sifat kimiawi suatu atom.

Dalam hal keterkaitan dengan pengaruh eksternal dan kondisi psikologis manusia, barangkali kita dapat mengambil contoh sugesti yang seringkali tertanam akibat membaca karakterististik seseorang dengan berlandaskan suatu klasifikasi tertentu. Mudahnya saja, kita seringkali mengait-ngaitkan diri ketika tengah membaca artikel tentang sifat seseorang berdasarkan golongan darah, garis tangan, atau ketika mengisi tes-tes kepribadian. Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disajikan, tak jarang seseorang merasa keliru dalam menarik jawaban karena merasa tersugesti oleh pilihan-pilihan yang ada. Sehingga, akibat dari kekeliruan-kekeliruan ini, mereka menjadi tersesat dalam menentukan karakter diri sendiri.

Kembali kepada keterkaitan antara elektron dari suatu atom, pengaruh lingkungan eksternal manusia, kondisi psikologis manusia, dan machine learning; terdapat korelasi yang erat di antara keempatnya. Kondisi psikologis manusia seperti machine learning, ia mengambil simpulan dari data-data yang dikumpulkan berdasarkan respons lingkungan sekitar terhadap dirinya.

Apa yang dia lihat, dengar, raba, dan terima—seperti opini publik mengenai diri orang tersebut—diumpamakan sebagai data-data tadi. Perbedaan antara machine learning dan kondisi psikologis manusia terletak pada output dari masing-masing proses yang mereka jalankan; machine learning memberikan keluaran berupa prediksi-prediksi yang diambil dari data-data yang telah dikumpulkan, sedangkan psikologis manusia menjadikan data-data tersebut sebagai ideologi baru yang tertanam dalam kepalanya. Ideologi inilah yang akan menjadi prasyarat seseorang dalam mengambil keputusan dan simpulan atas suatu pemikiran, yang akan membentuk pola pikir dan karakter dari manusia itu sendiri,

Sehingga, dengan melihat keterkaitan ini, kita dapat melihat bahwa opini seumpama senjata yang mematikan, sebab memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam pembentukan karakter seseorang. Hal ini yang menjadikan alasan pula, mengapa bullying sejatinya merupakan kejahatan yang besar karena dapat menyerang pola pikir dan psikologis mereka yang menjadi korban. Bullying atau perundungan tidak hanya persoal kekerasan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kekerasan verbal. Dampak dari kekerasan verbal bahkan lebih berbahaya daripada kekerasan fisik, sebab hal tersebut menyerang langsung kondisi psikologis manusia itu sendiri.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan teman-teman, betapa penting untuk berhati-hati dalam melakukan penghakiman. Beropini memang sama sekali tidak dilarang, namun pahamilah batas-batas zona yang dapat kamu masuki agar tidak mengacaukan sistem yang ada. Opini yang kita berikan atau label yang kita tempelkan terhadap diri seseorang dapat memengaruhi kondisi psikologis orang tersebut. Oleh karena itulah, kita harus berhati-hati dengan ucapan yang kita lontarkan kepada orang lain.

Sebuah pepatah tidak akan tercipta jika bukan karena didukung oleh pengalaman yang ada. Pepatah yang berbunyi, “Mulutmu, harimaumu” adalah salah satu pepatah yang ditujukan untuk mengingatkan kita dalam menjaga perkataan. Jika manusia dianggap sebagai makhluk dengan derajat tertinggi karena akal yang dimilikinya, maka kesempurnaan  tersebut pun terbatasi oleh ucapan yang terlontar dari mulut manusia itu sendiri.

Untuk itu, jagalah mulutmu, sebelum ia berbalik menerkammu.
Share:

Thursday, 3 May 2018

Mengelola Rindu



Hasil gambar untuk family quotes

sumber gambar: http://www.quoteambition.com/inspirational-family-quotes-sayings/


Masalah utama mahasiswa baru selain manajemen waktu adalah mengatasi kesedihan ketika dilanda homesick.

Rindu, terutama kepada keluarga, adalah hal yang sangat lumrah, terlebih ketika kita terbiasa dengan keadaan selalu melihat wajah keluarga dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Rindu adalah sebuah kewajaran, ketika rindu itu tetap berada pada tempatnya dan tidak berbalik menjadi sesuatu yang destruktif.

Mengatasi rindu, ingin bertemu, atau rasa ingin tetap bersama adalah hal yang cukup sulit untuk dikelola. Apalagi, bagi mereka yang seringkali didominasi oleh perasaan.

Sejatinya, homesick bukanlah masalah yang besar ketika kita mampu menyikapinya dengan baik. Kemampuan mengelola rindu amat diperlukan agar kerinduan itu tidak berbalik menjadi sesuatu yang menghalangi langkah untuk berkembang. Tujuan kita pergi sedemikian jauh dengan meninggalkan keluarga, teman, dan masa lampau adalah untuk mendaki menuju titik yang lebih tinggi. Rindu adalah suatu kewajaran, namun jangan sampai kita terlampau memanjakan perasaan hingga melupakan kewajiban.

Sejatinya, rindu kepada keluarga adalah emosi yang dapat dijadikan amunisi. Suatu keadaan yang sebelumnya dirasa sebagai sebuah titik lemah, dapat dikonversi menjadi senjata yang dapat memotivasi sehingga kita mampu memanfaatkan waktu menjadi lebih optimal lagi. Misalnya, ketika dilanda rindu, hal tersebut dapat menjadi pemicu yang mengingatkan kita perihal tujuan dan mengapa kita berada di titik saat ini. Bahkan, kerinduan dapat dijadikan katalis yang mempercepat proses untuk meraih cita-cita, sebab kerinduan itu sendiri adalah penunjuk jalan agar senantiasa fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Selain itu, dengan adanya kerinduan, kasih sayang yang sebelumnya tidak mampu disadari, perlahan-lahan akan timbul ke permukaan. Ketika awalnya, kita merasa bahwa kasih sayang dari keluarga adalah suatu yang lumrah sehingga tidak begitu memahami betapa istimewanya hal itu, dengan merenggangnya jarak dan berkurangnya intensitas bertemu, kita akan lebih mengerti makna dari kasih sayang itu sendiri. Rindu seumpama gula yang menjadi pemanis dalam suatu hubungan, sebab tanpa adanya jarak, kita seringkali tak memahami nilai dari kasih sayang yang diberikan oleh lingkungan sekitar.

Jadi, daripada galau sepanjang hari dan meraung-raung kepada semesta—merasa tidak adil sebab rindumu tidak mampu terobati dengan berjumpa dalam waktu dekat, yuk, belajar menjadi lebih kuat. Keadaan emosional dan psikologismu bergantung kepada bagaimana kamu mengontrol keduanya. Jika sejak awal ketika dilanda homesick, kita sudah menyerah kepada rindu itu sendiri dan membiarkannya menjadi destruktif dengan menguasai niat kita untuk melakukan segala hal, maka jangan menyalahkan siapa-siapa jika momen saat kita betul-betul mampu meraih tujuan akan semakin ditunda kehadirannya.

Ayo, jadikan rindumu sebagai amunisi. Jangan merasa ragu untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi masa-masa nelangsa karena menelan rindu kepada keluarga. Akan ada saatnya di mana kamu kembali ke pelukan mereka. 

Yang tengah kamu lakukan saat ini adalah memberikan sedikit jeda antara hubunganmu dengan keluarga, mempermanis kasih sayang di antara kalian dengan menyisipkan spasi dalam hubungan itu sendiri, dan berupaya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik agar ketika kembali kepada mereka; kamu telah menjadi manusia yang betul-betul bisa diandalkan.

Manfaatkanlah kesendirianmu saat ini untuk membangun cabang-cabang kasih sayang baru dengan lingkungan baru di sekitarmu. Semakin banyak cabang dalam pohon kasih sayang yang kamu miliki, maka akan semakin melimpah pula rasa syukurmu terhadap kehidupan yang kamu jalani saat ini.

Jadi, jangan merasa ragu untuk berupaya lebih keras, dengan atau tanpa kehadiran keluarga di sisimu saat ini. Sebab sejatinya, meski dilumat oleh jarak dan intensitas bertemu, keluarga akan tetap di hatimu untuk menjadi pihak pertama yang mendukung kesuksesanmu.




P.s. postingan ini tidak bermaksud menggurui, hanya ditulis untuk membagi pengalaman dan pelajaran yang dituai ketika berada di titik kelam yang sama :) 
Share:

Kisah Pilu Anak Negeri

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan di luar sana yang  jauh dari tempat tinggalmu?

Pernahkah kamu merasa  ada sesuatu yang mengusik batin dan membuatmu penasaran akan kehidupan di sudut kota?

Pernahkah kamu menduga ada sesuatu yang sedang tidak beres di sana?


Dreamstime.com

Semua pertanyaan di atas harus kujawab dengan “ Ya, Aku pernah”. Seringkali aku mendengar celotehan teman – temanku yang berasal dari kota bahwa kehidupan malam amat mengerikan. Sudah banyak program televisi yang kutonton menyuguhkan berita berita patroli yang dilakukan pada malam hari. Pesta miras, balapan liar, kumpul – kumpul anak muda yang melewati batas, bahkah peringkusan pengedar narkoba sudah pernah kulihat, tapi melalui televisi dan media lainnya. Kadang raga ini tergerak untuk menyaksikan realita itu secara langsung.

Minggu itu aku bersama kedua temanku berjanji untuk saling jumpa hanya sekedar untuk berbincang dan menjalin rasa kekeluargaan yang sedikit mulai pudar karena frekuensi komunikasi yang mulai mengurang pula. Singkat cerita kami pergi ke salah satu kebun yang terkenal di Kota itu dengan tujuan menghilangkan kepenatan setelah terpapar hiruk pikuknya Ibukota. Untuk mencapainya, kami harus berjalan beberapa kilometer dari tempat terakhir yang kami singgahi. Selama perjalanan, aku menemukan suatu keanehan atau mungkin sesuatu yang tidak biasa kulihat atau juga sesuatu yang lumrah bagi orang lain tetapi bagiku hal yang kulihat ini adalah kali pertama selama aku ada disini.

Bukan permen, bukan mainan, bukan pula benda-benda yang seharusnya melekat pada anak anak usia 9 – 12 tahun, tetapi yang kulihat adalah kamera DSLR, kamera SLR, kamera mirrorless, tongsis( tongkat narsis ), dan merek – merek smarphone canggih beralih dari tangan satu ke tangan yang lain. Aku mengerti jika kita berada pada era digitalisasi, ‘Generasi Millenial’ katanya ada juga yang menyebutkan ‘Generasi Z’. Kawan aku tidak merasa aneh dengan pemandangan ini. Puncak dari kegelisanku selama ini terletak bukan pada benda yang mereka genggam, tetapi pada alasan mengapa benda itu ada ditangan mereka dan sikap mereka yang menurutku sudah melewati batas jika dibandingkan dengan usia.

Aku tidak menemukan seorangpun yang berpakaian pantas selain aku dan kedua temanku disana. Sekali lagi kutegaskan, tidak kutemukan satupun pakaian yang pantas selain kami bertiga.  Sempat aku mengira bahwa kami ‘salah jalur’ . Tidak kawan, kami tidak pada tempat yang salah. Kumpulan anak muda baik dari rentang usia SD sampai SMP ada disana. Kuteliti baik – baik , kupastikan sekali lagi bahwa penglihatanku salah, namun inilah kenyataanya. Anak –anak gadis yang seharusnya terjaga, disana mengekspos setiap inci kulit tubuhnya. Mereka memakai baju tetapi transparan dan membuat pusar terlihat entahlah aku merasa miris, mereka memakai celana tetapi sobekan – sobekan disana ikut menyobek batin ini pula, mereka memakai bedak tapi blush on, lipstik, eyeshadow, dan segala macam makeup lainnya ada diwajah itu pula.   Gemetar tangan menulis cerita ini, karena aku harus membayangkan bahwa adik – adik kecil tersebut yang seharusnya dijaga kini dibiarkan dengan keadaan  antah berantah.

Sama halnya dengan anak lelaki disana, bukan kelereng, bukan mobil tamiya, tetapi batangan rokok dimulut dan korek disaku celana. Mereka berpose berhimpitan dengan anak – anak perempuan, tangan berkeliaran, tidak ada batasan dalam pergaulan. Di sudut – sudut ada yang beruduaan, berangkulan, keduanya menggunakan rokok secara bergantian. Sesak dada ini mengingat kembali kejadian itu. Cukup dengan pengalaman di siang itu, aku bisa memperkirakan bagaimana kehidupan di sana pada malam hari.



portalsatu.com

Kawan apa yang salah dengan anak negeri ? Begitu cepat teknologi dan informasi berkembang, begitu cepat pula moral dan norma tiada. Asumsiku kuat bahwa mereka yang berada pada jalur yang salah juga dapat menularkannya kepada mereka yang belum tahu apa – apa. Lingkungan bermain memiliki pengaruh dalam pembentukan moral seorang anak. Jadi siapa yang harus kita prioritaskan ? Memperbaiki mereka yang sudah terkena dampak atau menjaga mereka yang belum terkena dampak dari pergaulan yang tidak sehat ? Perlu ada peran orang tua, peran keluarga, dan peran kita sebagai sesama anak bangsa untuk menuntun dan membina anak – anak negeri ini.

Saranku, kita sebagai orang yang lebih tahu dan lebih dewasa bisa memberikan contoh yang teladan pula baik untuk adik – adik kita sendiri, sepupu, keponakan, maupun anak – anak di lingkungan sekitar. Berangkat dari niat yang tulus, kita akan sampai pada titik dimana perubahan akan mengarah pada arah yang lebih baik pula. Tetap semangat Inspirers, jadilah anak negeri yang berani, berprestasi, dan mampu membawa perubahan yang berarti J .




Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com