Saturday, 28 April 2018

Kekecewaan yang Berakhir Rasa Syukur #2


Aku pun langsung menghubungi kedua orang tuaku. Dan mereka memberikan pemahaman yang sangat luar biasa menurutku. Mereka bilang 
“Disetiap doa yang kita mohon, memintalah untuk diberikan yang terbaik, jangan meminta yang spesifik. Kenapa? Karena Allah lah yang tahu masa depan setiap mahkluknya dan Allah sebaik-baik perencana. Maka ketika bagi kita itu yang terbaik, belum tentu bagi Allah itu yang terbaik.”
Dari perkataan itu aku belajar banyak hal terutama tentang makna bersyukur. Setelah diberi pemahaman oleh orang tuaku, aku menemukan sebuah quote yang membuat aku semakin yakin untuk terus bersyukur.

"Saya minta sesuatu pada Allah, jika Allah memberinya padaku, aku gembira sekali saja. Namun, jika Allah tidak memberinya padaku, aku gembira sepuluh kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihan ku, sedangkan yang kedua itu pilihan Allah -Ali Bin Abi Thalib"

Akhirnya, aku mencoba menjalani dengan ikhlas apa yang sudah aku dapatkan. Dan ketika awal masuk Asrama. Sempat terbesit di pikiranku bahwa apakah aku harus mengambil SBMPTN lagi tahun depan? Namun aku memilih untuk menjalani terlebih dahulu berkuliah di IPB. Fyi, di IPB, tahun pertama mahasiswa baru diwajibkan untuk berasrama. Karena yang berkuliah di IPB, banyak yang dari daerah-daerah. Dari Aceh hingga Papua pun ada. Aku berpendapat bahwa IPB merupakan miniatur indonesia. Karena kita bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai macam daerah. Aku belajar banyak hal disini. Mulai dari budaya, bahasa, hingga adat dari berbagai macam daerah.

Menurutku, tahun pertama kita diwajibkan untuk berasrama agar kita mengenal lebih dekat dengan teman-teman kita yang dengan latar belakang yang sangat beragam. Selain itu juga, dengan sistem asrama, kita dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan budaya dan bahasa dari berbagai macam daerah. Aku sempat membayangkan, apa jadinya jika ditahun pertama kita tidak asrama? Mungkin yang ada kita hanya akan bergaul dengan sesama daerah kita saja. Kita bergaul dengan teman-teman SMA saja. Dan asrama lah salah satu solusi dari permasalahan tersebut.

Dan karena di asrama juga, aku menemukan bahwa orang-orang daerah memiliki pemikiran yang kreatif dan daya juang yang tinggi. Di IPB aku baru mengenal apa yang namanya Startup. Dan ternyata, di IPB pun sudah merajalela yang namanya Startup. Disini juga banyak yang sudah memulai bisnis. Hal itu pun yang mengubah pemikiranku. Aku pun jadi terpacu untuk membuat Startup dengan dikelilingi teman-teman yang memiliki pemikiran yang kreatif ini. Alhasil, aku dan teman-temanku berhasil membuat startup kecil-kecilan yang bernama younginspirer.id.

Selain orang-orangnya yang memang memiliki pemikiran yang kreatif dan semangat juang yang tinggi, di IPB juga terkenal dengan suasana islaminya yang kental. Di IPB banyak sekali ku jumpai wanita-wanita yang sudah menutup auratnya. Mayoritas pun sudah memakai kerudung. Dan suasananya pun tenang dan tentram sekali.

Aku sangat bersyukur berkuliah di IPB. Dikelilingi orang-orang yang mempunyai pemikiran kreatif dan daya juang yang tinggi, lingkungan IPB yang islami dan penuh ketenangan, dan Kualitas dosen-dosen IPB yang tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri yang lain. Aku sempat membayangkan, apa jadinya jika aku tidak berkuliah di IPB? Akankah aku bertemu dengan teman-teman yang kreatif dan berorientasi untuk membuat karya demi memajukan Indonesia? Akankah aku terjaga jika tidak berkuliah di IPB? Apakah aku akan menjadi sosok yang hedonisme jika berkuliah di tempat lain?

http://wilayah1.ilmpi.org

Semuanya tidak ada yang tahu kecuali Allah yang tahu akan masa depan setiap makhluknya. Untuk itu, kita hanya perlu percaya dan bersyukur atas pilihan yang telah Allah berikan. Karena setiap pilihan yang diambil, pasti selalu ada hikmah didalamnya. Jalani dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Jangan jadikan kekecewaan membuat diri kita terhambat akan segalamya.Tetapi, ubahlah rasa kekecewaan tersebut dengan rasa syukur.


Jika belum membaca part 1 Kekecewaan yang Berakhir Rasa Syukur #1
Share:

Penolakan, Harapan, dan Penyerahan Diri


Belakangan, linimasa di berbagai sosial media sedang diributkan perihal pengumuman SNMPTN.

Jujur, aku memang tidak memiliki pengalaman yang mumpuni terkait penolakan pada hasil SNMPTN. Tetapi berbekal beberapa penolakan pada kasus lain yang pernah kualami sebelumnya, setidaknya itu dapat dijadikan modal untuk berbagi melalui tulisan ini.

Pada dasarnya, manusia memang tidak menyukai penolakan. Otak menerima penolakan sebagai sebuah impuls rasa sakit sehingga tidak heran jika kita merasa tidak nyaman ketika mendapatkan penolakan. Harapan adalah ruh yang mengisi ambisi seseorang. Manusia membutuhkan ambisi untuk  menjadi penunjuk, jalan mana yang sejatinya akan dia pilih. Ambisi dalam hal ini bukan sesuatu dengan konotasi negatif yang menyebabkan seseorang menjadi buta arah dan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Aku membicarakan ambisi dalam makna keinginan besar seseorang untuk mencapai sesuatu.

Kembali kepada harapan dan penolakan tadi, atas semua paduan lengkap tersebut, maka terbentuklah keterkaitan mengapa seseorang begitu menyukai harapan meski kadang-kadang harapannya sedikit irasional. Lucunya, ia tetap merasa sakit ketika harapan tersebut pada akhirnya tidak menemukan titik terang pencapaian meski telah disadari sejak awal bahwa harapan itu bersinggungan dengan realitas yang ada. Barangkali, ada yang bertanya-tanya mengapa mekanismenya harus berjalan seperti itu. Jawabannya sederhana saja, sebab manusia membutuhkan harapan untuk tetap bertahan.

Yang menjadi persoalan serius dari fenomena terkait harapan dan penolakan itu sendiri adalah bagaimana seseorang mengelola keduanya agar tetap pada proporsi yang seimbang. Harapan diperlukan, namun akan menjadi penyakit jika tidak mampu dikelola dengan baik. Menciptakan ekspektasi dan mimpi yang tinggi memang diperlukan. Sebagaimana yang diucapkan oleh Soekarno, tidak masalah jika kau membuat harapan setinggi langit sebab jika suatu saat nanti kau terjatuh, maka kau akan tetap terjatuh di antara bintang-bintang.

Harapan dan mimpi yang tinggi memang amat diperlukan. Sebab pencapaian yang besar sendiri dimulai dari mimpi yang besar pula. Namun, yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah, apakah kita mau mengeluarkan usaha sebesar mimpi yang kita tanam? Apakah kita telah siap menghadapi konsekuensi berat yang akan kita jumpai ketika kita hendak berjumpa dengan mimpi besar yang telah dideklarasikan tadi?

Kebanyakan orang hanya sibuk berencana untuk kesuksesan dari mimpi-mimpinya saja. Yang ada di depan matanya hanya persoal hasil sehingga seringkali mengabaikan proses panjang yang ia jalani. Setiap orang suka memperoleh hasil yang sesuai dengan standarnya, itu manusiawi. Namun, jika seseorang hanya terbelenggu dalam standarnya sendiri hingga tidak mampu menghargai pelajaran selama proses yang ada, itu hanya akan menuntun pada ketidakpuasan dan pahitnya kekecewaan.

Selama masa kejatuhan itu, ia hanya akan bertanya-tanya, lantas untuk apa proses panjang yang dia jalani selama ini, jika pada akhirnya hanya akan menuai kegagalan di titik darah penghabisan? Ia melupakan satu fakta bahwa sejatinya, Tuhan memberikan sesuatu yang dia butuhkan, bukan hanya sekadar yang ia inginkan. Keinginan bersifat fana dan kefanaan adalah definisi dari dunia itu sendiri. Dunia ini terlalu tidak berharga untuk dijadikan jaminan bagi mereka yang disayangi Tuhan. Atas dasar itulah, Tuhan menggiring kita pada zona yang kita butuhkan—namun barangkali belum kita sadari urgensinya.

Orang-orang mendeklarasikan betapa penting usaha dan doa, namun melupakan formula penting bahwa berserah diri juga amat diperlukan. Berserah diri adalah dongkrak yang akan membangkitkan seseorang ketika dilanda kekecewaan. Berserah diri itu penting, agar seseorang tak senantiasa dijadikan budak oleh nafsu dan ambisinya sendiri.

Kembali kepada kasus terkait penolakan SNMPTN atau penolakan-penolakan lain, aku ingin mengajak teman-teman Inspirers untuk tidak sekadar mengandalkan kekuatan diri sendiri. Yuk, libatkan Tuhan. Yuk, senantiasa bersyukur meski keputusan yang Tuhan pilihkan untuk kita tidak sesuai dengan standar yang kita mau. Meski, tidak berjumpa dengan pengabulan, sejatinya, kita telah memperoleh hal yang lebih besar dari pencapaian standar itu sendiri. 

Pengalaman pahit cenderung mampu memberikan kita pelajaran mendalam terkait sesuatu yang tidak akan mampu kita pahami hanya dengan membaca buku motivasi. Pengalaman pahit ditujukan untuk mematahkan hatimu sejenak, lantas membiarkanmu bergelung dalam proses pendewasaan agar lebih kuat dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Jadi, mari, belajar menikmati proses. Mari belajar libatkan Tuhan dalam setiap upaya yang kamu lakukan untuk mencapai mimpi-mimpimu.

Percayalah bahwa rencana Tuhan akan jauh lebih indah. Jika hingga saat ini, kamu merasa bahwa rencana itu belum menjadi indah, itu adalah pertanda bahwa rencana Tuhan belum selesai sampai di situ.

Jadi, bersabarlah.
Share:

Saturday, 21 April 2018

Kekecewaan yang Berakhir Rasa Syukur #1


Hi Inspirers! Pada kesempatan kali ini, aku mau sharing tentang perjuanganku dalam menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Institut Pertanian Bogor.


https://walkingbyfaith.tv

Perjuanganku dimulai sejak kelas 12 SMA. Karena kelas 10 dan 11 nya harus fokus di organisasi, jadi baru mulai ngambis sejak kelas 12 SMA. Di awal kelas 12 ini, aku benar-benar ingin fokus ke akademis. Terbukti dari setiap guru yang menjelaskan pelajaran di depan kelas, aku selalu perhatikan betul-betul. Tugas-tugas yang diberikan pun selalu dikerjakan dan dengan sungguh-sungguh. Namun seiring berjalannya waktu, semangat yang membara itu pun mulai padam. Banyak jam kosong yang seharusnya bisa diisi dengan belajar, malah terpengaruh untuk bermain keluar kelas dengan teman-teman.

Sejujurnya, aku sangat mengincar SNMPTN pada saat itu. Karena yang aku tau, SBMPTN itu berat dan seleksinya pun sangat ketat. Aku juga sudah berusaha untuk menyeimbangkan akademis dan organisasi pada kelas 10 dan 11. Namun, rangking paralel aku masih berada di tengah-tengah. Tetapi aku juga bukannya tidak belajar untuk SBMPTN. Di awal kelas 12, aku sudah berniat untuk mencicil materi-materi SBMPTN. Namun, masih sering tergoda ketika diajak teman untuk bermain.

Pada saat menjelang SNMPTN dibuka, alhamdulillah aku masih mendapat kuota untuk mendaftar SNMPTN. Aku langsung berdiskusi dengan orang tuaku untuk menentukan pilihan yang mau aku apply di SNMPTN. Lalu aku memutuskan untuk menaruh Teknik Metalurgi di Universitas Indonesia. Hanya satu pilihan yang aku taruh di pilihan SNMPTN. Dengan harapan bahwa ketika aku hanya mencantumkan satu di pilihan SNMPTN, maka panitia SNMPTN bisa melihat keseriusanku.

Setelah memilih pilihan di SNMPTN, aku juga tetap belajar materi untuk SBMPTN. Tetapi berharap juga agar masuk lewat SNMPTN saja. Karena jujur memang masih takut untuk menghadapi SBMPTN. Setelah beberapa minggu, hari pengumuman SNMPTN pun tiba. Pada saat itu, ayahku yang membukakan pengumumannya. Dan aku dikabarkan tidak lolos SNMPTN. Jujur, rasa kecewa pun muncul pada saat itu. Padahal nilai ku lebih tinggi daripada teman ku yang mendapat SNMPTN Kedokteran di Universitas Padjajajran. Yang berarti bahwa jika aku memilih di kedokteran Unpad, aku bisa saja sudah menjadi mahasiswa di Universitas Padjajaran. Namun, rejekiku tidak disitu dan passion ku pun bukan di kedokteran. Jadi buat apa juga aku memilih jurusan yang tidak sesuai passionku. Yang ada malah menuntut ilmu dengan terpaksa jika aku memilih jurusan yang tidak sesuai passionku.

Ada jalur lain selain lewat SNMPTN, yaitu jalur PPKB. Dan sekolahku banyak dikasih kuota lewat jalur ini untuk masuk Universitas Indonesia. Aku bisa saja mengambil jalur PPKB, namun aku tidak ingin membebankan orang tua ku. Karena yang aku tahu, lewat jalur PPKB membutuhkan biaya uang pangkal yang tidak sedikit. Jadi aku memutuskan untuk fokus SBMPTN yang pada awalnya aku takut.

Akhirnya aku pun fokus belajar SBMPTN. Rasa takut yang pada awalnya muncul, aku buang jauh-jauh dan semangat membara itu pun muncul kembali. Karena yang aku tau bahwa ini lah gerbangku untuk menuju masa depan. Aku tidak mau gagal di kesempatan terakhir ini. Dan dari prinsip itu lah yang membuatku semangat untuk bisa lolos SBMPTN.

Hari demi hari pun aku lewati dengan belajar SBMPTN. Aku tipe orang yang suka belajar lewat Audio Visual. Lebih suka melihat video-video tentang materi-materi SBMPTN. Karena lebih mudah diserap ketika diterangkan dibanding harus membaca. Jadi, temukan cara belajarmu dengan baik. Agar hasilnya pun maksimal.

Ketika pembukaan tes STAN, aku pun disuruh mendaftar oleh orang tuaku. Ya, walaupun aku tidak ada niatan untuk masuk STAN, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Aku pun hanya belajar lewat TPA SBMPTN. Karena yang aku tahu, tes tahap 1 STAN soalnya tidak jauh berbeda dengan tes TPA SBMPTN. Dan Alhamdulillah aku lolos tes tahap 1 STAN. Namun, harus kandas di tes tahap 2 yaitu tes fisik. Karena pada saat itu memang kondisi badanku yang tidak benar-benar fit. Setidaknya sudah mencoba dan memberikan yang terbaik.

Lalu, ketika semakin dekat dengan Hari-H SBMPTN, persiapanku sudah 80%. Aku mengandalkan di bidang Kimia, Matdas, TPA, dan Matematika IPA. Dan Alhamdulillah Aku memang menjawab banyak di Kimia. Karena yang aku tahu bahwa Metalurgi harus kuat dibidang Kimia. Aku memilih pilihan SBMPTN ku yaitu pilihan 1 adalah Teknik Metalurgi UI, pilihan 2 Sistem Informasi UI, dan pilihan ke 3 yaitu Manajemen IPB.

Setelah menjalani SBMPTN, aku pun juga ikut ujian mandiri UGM. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk Tes di UGM nya langsung. Karena kupikir sekalian untuk refreshing walaupun sebenarnya bisa saja aku memilih untuk tes di Jakarta. Namun yang terjadi adalah lebih banyak jalan-jalan dan bermainnya di Jogja daripada belajarnya. Pilihan ku untuk ujian mandiri UGM memang tinggi. Pilihan 1 adalah Teknik Industri, ke 2 Teknik Kimia, dan terakhir adalah Teknologi Informasi. Karena aku memiliki prinsip untuk bermimpi setinggi langit, karena jika terjatuh, maka akan jatuh diantara bintang-bintang.

Setelah ujian mandiri di UGM selesai, aku pun pulang ke Depok dan menunggu hasil-hasil ujian diumumkan. Tawakal dan doa secara terus menerus adalah kegiatanku setalah ujian-ujian berlalu. Aku selalu berdoa di setiap sholatku untuk diberikan PTN yang terbaik. Aku tidak menyebutkannya spesifik, karena aku meyakini bahwa ketika aku menyebutkannya secara spesifik, itu belum tentu pilihan yang terbaik untukku. Jadi lebih baik aku berdoa untuk meminta yang terbaik menurut Allah untukku. Karena Allah adalah perencana terbaik dan yang mengetahui masa depan setiap hambanya.
Ketika hari pengumuman SBMPTN, aku sengaja ingin membukanya bersama-sama di rumah temanku. Sebelum jam pengumuman hasil SBMPTN, aku sudah stay di depan laptop. Begitu pun juga teman-teman ku yang deg-degan menunggu hasil pengumuman tersebut. Ya maklum karena seleksi yang sangat ketat dan SBMPTN ini mungkin merupakan langkah awal untuk meraih cita-cita.
Ketika sudah masuk jam pengumuman SBMPTN, aku dan teman-temanku mencoba masuk ke web SBMPTN. Namun tidak berhasil masuk. Akhirnya, kami memutuskan untuk menelpon orang tua untuk meminta doa agar mendapatkan hasil yang terbaik. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya teman ku berhasil masuk dan Alhamdulillahnya dia lolos SBMPTN jurusan geografi UI. Kami pun ikut senang dan memberikan selamat kepadanya.

Kini giliranku yang akan membuka web SBMPTN. Pada awalnya aku sangat yakin bahwa bakal diterima di pilihan pertamaku. Karena aku cukup banyak menjawab soal SBMPTN dan sudah memeriksa dengan guru les ku dan banyak jawaban yang benar. Keyakinanku bertambah karena hanya sedikit yang pada saat itu mengetahui jurusan Teknik Metalurgi disekolah ku, hanya 3 orang yang mendaftar Teknik Metalurgi UI disekolah ku, termasuk aku. Dan ketika itu, akupun telah ikhlas menerima hasil apapun. Ketika dinyatakan tidak lolos pun, aku sudah mempunyai planning lain.

Dan ketika aku berhasil membukanya, ternyata aku dinyatakan lolos SBMPTN! Tetapi di pilihan ketiga yaitu Manajemen IPB. Teman-temanku bergembira dan memberikan selamat kepadaku. Namun, aku masih kecewa dengan hasil tersebut. Ketika diberikan selamat pun, dalam hati ku masih kecewa dan tidak ada raut bahagia diwajahku pada saat itu. Datar sekali ekspresiku pada saat itu.

-To be Continued-

Share:

Tuesday, 10 April 2018

Open Recruitment Be Inspirer!


Hallo Inspirers! Kali ini kami akan mengadakan Open recruitment Be Inspirer. Jadi bagi kalian yang ingin menebarkan manfaat dan menginspirasi banyak orang, kami membuka kesempatan itu kepada kalian!

Syarat Pendaftaran
1. Mengikuti official account kami di Instagram
    @younginspirer.id , @kuymenulis.id dan Line @btn9522e
2. Isi formulir pendaftaran di tinyurl.com/BeInspirer
3. Sebarkan informasi ini ke 5 grup Line (Minimal
    terdapat 100 orang di setiap grupnya) dan storygram
    kamu.





Apa saja yang akan kamu dapat ketika tergabung dalam Be Inspirer?
1. Relasi dengan orang-orang baru
2. Tulisan kalian akan dipublish di web younginspirer.id 
2. Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki hobi yang 
    sama
3. Sharing dengan orang-orang hebat dibidang literasi
4. Tergabung menjadi volunteer ketika mengadakan event
    menulis
5. Jalan-jalan edukasi
6. Bisa bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi banyak
    orang


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 
—Pramoedya Ananta Toer







Share:

Saturday, 7 April 2018

Marriage

Hallo!
Let’s talking about marriage. 
(Sumber : https%3A%2F%2Fplus.google.com)


Sebelumnya, I wanna tell u why this article was written. 
First, ada my friend, sebutlah si X, dia datang kepadaku dan bilang “Fit, kenapa ya, banyak banget yang ngepost tentang nikah. Banyak yang bikin baper gitu. (ekspresi sebel, wkwk)”.

Second, ternyata emang di instagramku juga sedang merajalela postingan about marriage, poster-poster, memecomic, true story dan juga dalil-dalil pernikahan. Ga cuma di instagram, there are some wedding videos on youtube. Gitasav, vloger yang sering aku tonton, baru-baru ini juga mengeluarkan video yang berjudul marriage.

Daaan, alasan yang terakhir, aku dapet banyak undangan nikah (just FYI, not important, hehe).
Dari ibu produser
Dari kakak reporter
Dari mba sholihah
Dari temen sekelas pas SMP
Dari teteh sholihah









Apa pandanganmu tentang nikah?
Berdasarkan survey kecil-kecilan ke beberapa responden usia 18-21 tahun, dapat disimpulkan ada 3 tipe orang berpikir mengenai pernikahan:
1.    Pernikahan bukan skala prioritas
2.    Pernikahan sangat penting, harus disegerakan
3.    Pernikahan sangat penting, bukan sekedar cinta

Ayo kita jabarin satu-satu:
1.   Pernikahan bukan skala prioritas
Orang-orang tipe ini berpikir bahwa pernikahan itu berat. Mereka berpikir tidak perlu memikirkannya sekarang. Prirotasnya kali ini adalah sebagai seorang mahasiswa. Mereka cenderung sibuk dalam meningkatkan kualitas dirinya.

“Masih muda, nikmatin aja dulu masa-masa single sebelum terikat pernikahan” itu prinsipnya. Orang tipe ini berpikir pernikahan dapat menghambat kebebasan dirinya dalam beraktivitas. Dengan pernikahan, fokusnya akan terbagi untuk keluarga.

Beberapa orang tipe ini sangat militant dalam meningkatkan potensi dirinya. Dia tidak menjalin hubungan cinta dengan lawan jenis.

Sebagian yang lain tetap merasa membutuhkan penyaluran na’u (naluri kasih sayang/cinta). Biasanya mereka memilih untuk berpacaran. Alasannya, berpacaran dapat memotivasi dirinya ketika melakukan kegitan peningkatan kualitas diri.

Example:
A: “Apakah siap menikah dengan pacarmu?”
B: “Hmm, gatau. Belum kepikiran ke sana, ini mah sebagai penyemangat aja”

A: Kapan nikah? Rencana mau punya berapa anak?
B: Gatau, belom punya gambaran ke sana. Paling abis nikah juga gamau punya anak dulu. Pengen berkarir dulu.  

2.   Pernikahan sangat penting, harus disegerakan


 “Nikah muda”
Beberapa diantara mereka memegang prinsip ini. Mereka ingin segera menikah. Orang-orang tipe ini biasanya sering menyebarkan kata-kata baper atau postigan gambar pernikahan yang melelehkan hati. Kalau kata orang-orang mah bikin mupeng nikah.

Tipe orang seperti ini adalah orang yang sedang bergejolak naluri na’unya. Akan tetapi, mereka tidak dapat menyalurkannya karena mereka paham bahwa pacaran dilarang dalam islam. Mereka memegang teguh syari’at islam tentang larangan berpacaran. Dengan demikian, mereka berpikir penting untuk menyalurkan na’u itu dengan menikah muda.

3.   Pernikahan sangat penting, bukan sekedar cinta

Orang tipe ketiga adalah orang-orang yang berpemikiran islam. Orang yang menyuarakan SAY NO TO PACARAN karena pacaran termasuk aktivitas mendekati zina yang dilarang Allah dalam Alqur’an:
“Dan janganlah kalian mendekati zina…” (QS. Al-Isra: 32)
Orang-orang ini menyadari bahwa pernikahan bukanlah sebatas menjalin cinta. Pernikahan termasuk ibadah untuk menyempurnakan iman dan melestarikan jenis.
Jika kamu berpikir untuk tidak ingin menikah atau menunda mempunyai anak,artinya kamu termasuk orang-orang egois
Kata-kata itu aku dapat dari salah satu guruku. Why she told egois? Karena menurut beliau, jika kita tidak berusaha melestarikan jenis, generasi selanjutnya akan punah. Generasi masa depan akan kekurangan SDM sebagai estafet peradaban dunia.
 Pernikahan bukan hanya perkara indahnya cinta, tetapi salah satu misi untuk melestarikan manusia-manusia hebat.
Marriage is about LIFE, future leaders’s life.
Pernyataan tersebut aku sadari ketika berada di negeri sakura, Jepang. Sungguh banyak diantara mereka adalah orang hebat, tetapi tidak ada penerus dari orang-orang hebat itu. Kehebatan hanya berhenti pada dirinya. Ketika dia meninggal, tidak ada yang meneruskan gen hebat itu.

Dengan demikian, terdapat dua sikap yang mereka kerjakan:
1.    Militansi dalam meningkatkan kualitas diri agar dapat membahagiakan pasangannya dan kelak kepribadiannya dapat diturunkan kepada anak-anaknya
2.    Fokus mencari ilmu pernikahan, bukan mengumbar postingan baper tentang menikah.
Tipe-tipe mereka akan tulus mencintai pasangannya lillah (karena Allah) dan menjaga pasangannya agar dapat menciptakan keluarga militant dan harmonis (sakinah, mawaddah, dan warohmah).
Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu.(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” [QS. An Nisaa (4):1].
Share:
Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com