Tuesday, 13 March 2018

MONSTER HUJAN (2)


monster hujan (1): http://www.younginspirer.id/2018/01/monster-hujan.html


          Anggaplah  hidup ini adalah sebuah mimpi, kelak aku akan terbangun dari tidur yang panjang ini.



          Sayup-sayup, suara jam weker membangunkan Mega. Mega terbangun dari tidurnya, bersimpuh diatas selimut putih tebal. Ia mendongak, memerhatikan langit-langit kamarnya yang nampak beda. Indah, katanya. Mega masih setengah sadar, ia terus memukul-mukul wajahnya berkali-kali agar sadar atas apa yang ia lihat hari ini. Kasur empuk, selimut tebal, cermin besar, meja rias, bahkan jam weker? semua tampak sempurna!

          Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang tak asing dengan aroma kenangan dalam masakan seorang ibu.

          “Saatnya sarapan!” Seorang wanita cantik membuka pintu jati kamar Mega. Wanita itu mendekati Mega, tersenyum indah seperti bidadari yang pernah ia jumpai beberapa tahun lalu.

          “Mega sayang, ayo makan. Setelah itu mandi. Nanti Ibu yang antar ke sekolah.” Wanita itu mengelus pipi Mega.

          “I-Ibu?” Mata mega mulai basah.

          “Ada apa gadisku?” Jawabnya, sembari tersenyum sipit.

          “Kalau ini mimpi, Mega gak mau bangun!” Ia menangis, memeluk erat seseorang dihadapannya.

          “Kamu ini kenapa sih?” Wanita itu tertawa tipis.

          “Ayo, ceritakan pada Ibu, kamu mimpi apa?”

Mega kembali menatap seseorang dihadapannya, berulang kali membuka dan menutup matanya. Seseorang dihadapnnya mengerutkan dahi,

          “Gak mau cerita sama Ibu?” tanyanya.

Mega masih terdiam. Isak tangisnya mulai tak bisa terbendung,

“Bu, Mega sayang Ibu.”

“Mega gak mau pisah sama Ibu!” Mega menggenggam erat tangan seseorang dihadapannya.

Sayup-sayup, penglihatan Mega memudar. Ada dengung yang begitu kencang, menusuk pendengaran Mega. Rumah seperti akan roboh, semua benda bergetar. Ada apa ini?

Baru saja, rasanya semua kenangan telah kembali. Mega merasa ada penawar yang menghampiri dirinya yang tengah diracuni oleh peliknya kehidupan. 

“Kalau ini mimpi, aku lebih baik terus bermimpi.” Mega terbangun.

          Rebah. Semua keindaahan itu telah raib. Yang tersisa hanya mata yang sembab dan jutaan tanya pada benak Mega. Mega merasa Tuhan tak adil dengan semua teka-teki buntu ini. Kamar artistik dihadapan Mega beruban menjadi rongsokan. Rumah yang kumuh. Kamar kecil tanpa jendela. Seorang Ibu yang begitu ia cinta pun seketika menghilang dari pandangan. Berubah menjadi angin lalu yang menyesakkan dada.

          “Wahai tuhan, sebenarnya kebahagiaan itu milik siapa?”

-----

          Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini jalan raya sudah padat. Udara terasa mencekik. Bau-bau tidak sedap berseliweran seenaknya. Trotoar-trotoar sudah penuh dengan para pedagang. Beberapa anak sekolah dasar terlihat berlarian. Saling mendahului satu sama lain, ingin menjadi orang pertama yang datang ke sekolah.

          Diantara para pedagang yang sudah membuka lapaknya di trotoar, Mega dan Bagas berjalan cepat dengan sangat hati-hati, berupaya agar tidak menginjak barang-barang jualan para pedagang. Mega berjalan didepan, sedangkan Bagas hanya mengekor.

          “Kak, jangan buru-buru.” Rengek Bagas.

          Mega berhenti sejenak, menoleh kearah sepupunya itu dengan tatapan kesal, lalu melanjutkan perjalanan.

          Mereka berjalan cukup jauh. Jarak sekolah dan rumah memang terbilang tidak terlalu dekat. Jadi, setiap harinya, Mega dan Bagas harus sudah berangkat pukul 6 pagi. Sekolah Mega dan Bagas bersebrangan. SMA Kejuruan Merah Putih dan SMP Negeri tanah hijau 003.

          “Kakak masih marah?” Tanya Bagas.

          Yang ditanya hanya diam dan terus melangkah kedepan.

          “Kak Megaa...”

          Mega menoleh, “Berisik Bagas!”

          “eh, kak?” Bagas langsung teralihkan fokus pada pelipis Mega yang terlihat sedikit kemerahan.

          “Kakak dipukul?!”

          “Biasa aja gas.” Mega membalikkan Badan.

          “Pakde yang pukul ya kak?”

          “Kak?”

          “Kak Meg-“ Bagas menghentikan pertanyaannya. Mega masih membelakangi tubuhnya, Bagas tidak melihat raut apa yang sekarang berada pada wajah kakak sepupunya itu. Yang jelas, ada isak yang dipaksa tertahan. Ada hembusan napas penuh lelah.
(sumber: rickyrizkiana.blogspot.co.id)




          “Kalo kakak bilang kakaka capek, boleh gak sih?” Mega menoleh, tersenyum.

          “Ah, apasih. Jalan lagi gas, nanti telat.” Mega memulai langkahnya.

          “Kak, Bagas mau tanya.” Pertanyaan Bagas terdengar agak serius.

          “Pakde pernah ngelakuin hal yang gak sepatutnyakah?”

          “Contohnya?” Tanya Mega.

          “Ya selain mukul. Apa gitu?”


          Mega Menggeleng. “Kakak pernah bilang ke kamu kan, kalo dalam diri kakak ini ada monsternya. Siapapun gak mungkin berani aneh-aneh sama kakak. Percaya itu.” Mega tersenyum.  


          “Kemaren katanya kamu mau jadi dokter kan? Nah, belajar yang rajin! Masuk SMA favorit. Jangan SMA kakak hehe.”

          “Dih siapa bilang? Orang Bagas mau jadi ustadz!”
          Mega dan Bagas tertawa bersama. Saling ejek satu sama lain, sembari melanjutkan perjalanan ke sekolah.

-TBC-

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com