Friday, 2 February 2018

Karena Selama Hidup, Kita Belajar #1

http://faldomaldini.com/

Oke disini saya mau me-review bukunya Faldo Maldini yang berjudul “Karena Selama Hidup, Kita Belajar”. Ada banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari buku tersebut, khususnya untuk dunia perkuliahan. Mulai dari penanaman prinsip, membuka perspektif baru, dan tentunya cara kita dalam menghadapi kehidupan di dunia perkuliahan.

Faldo Maldini adalah pemuda yang berasal dari Kota Padang. Diawal bukunya, beliau menceritakan dirinya pada masa sekolahnya dulu. Beliau masuk SMP unggulan yaitu SMP 1 Padang. Disana beliau merasakan suasana akademik yang sangat baik. Lingkungan dan teman-temannya pun juga sangat mendukung. Namun, sejak SMA, Faldo Maldini masuk SMA 3 Padang. Saat itu, sekolah tersebut bukanlah sekolah unggulan di Kota Padang. Nah, mulai sejak SMA, kehidupannya berubah drastis. Di lingkungan sekolahnya ini, sangat jauh berbeda dari saat SMPnya dulu. Saat SMA, beliau sempat menjadi perokok aktif, berjudi bola, begadang untuk taruhan main domino, rambut dicat berwarna merah dan berbagai kelakuan tidak baik lainnya.

Sampai dimana beliau mendapatkan yang namanya hidayah. Beliau merasakan sudah mulai tidak nyaman dengan kondisi beliau saat itu. Prestasi yang jeblok, banyak guru yang memarahinya, sampai orang tua nya dipanggil sekolah karena bolos untuk lomba ngeband. Akhirnya dia mulai menjalin hubungan baik dengan ketua rohani islam di SMAnya. Berkumpul dengan teman-teman baik yang siap mendukung dia untuk bertobat. Disini kita bisa ambil pelajaran bahwa lingkungan yang baik, bisa mendorong kita untuk menjadi pribadi yang baik juga bukan?

Lalu, setelah masa SMA selesai, beliau mencoba ikut UMB. Kalau sekarang mungkin namanya SBMPTN, tetapi hanya UI, Unsyah, dan UIN saja yang terdaftar dalam UMB. Meskipun beliau sudah diterima di ITT Telkom (Sekarang Universitas Telkom) jurusan Teknik Informatika dan Bakrie School of Management (Sekarang Universitas Bakrie) jurusan Akuntansi. Tapi beliau masih ingin mencoba masuk PTN yang diinginkannya yaitu ITB.

Setelah tes UMB selesai, beliau masih terus belajar soal SPMB untuk persiapan masuk ITB. Alhasil, pengumuman UMB keluar dan hasilnya adalah Faldo Maldini diterima di Universitas Indonesia jurusan fisika. Meskipun fisika merupakan pelajaran favoritnya dan sesuai passionnya, faldo maldini tetap ingin berkuliah di ITB. Akhirnya dia konsultasi dengan orang tuanya mengenai hal ini. Dan orang tuanya meminta agar dia mengambil Fisika UI ini. Mengingat, sudah banyak Univ yang dia tidak ambil seperti telkom dan bakrie. 

Lalu beliau pun menuruti kata orang tuanya. Disini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus nurut kepada Orang tua jika jurusan yang sudah kita ambil sesuai passion kita, kenapa kita terus menuntut untuk meminta yang lebih? Bukankah itu namanya kita dikalahkan oleh ego yang ada didiri kita? Lagipula apa yang menurut kita baik, belum tentu baik dimata Allah, begitu pun sebaliknya, jika menurut kita itu buruk, mungkin itu baik menurut Allah. Itu sesuai pada surat Al-baqarah ayat 216. Karena hanya Allah yang tau mana yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Sehingga, beliau harus mengubur dalam-dalam mimpi dia untuk kuliah di ITB dan harus menjalani perkuliahan di Fisika UI.

“Ya, dengarlah pendapat orang tua saat ingin mengambil keputusan, Insya Allah kita akan belajar banyak hal dari sana, karena seringkali itulah yang terbaik untuk diri kita.” - @Faldomaldini
Menurut saya itu benar. Karena ridho orang tua merupakan ridho Allah juga.

Faldo Maldini merupakan mahasiwa perantauan yang jauh-jauh dari Kota Padang untuk kuliah di Universitas Indonesia. Sebagai mahasiswa rantau, otomatis beliau harus segera beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan mencari teman sebanyak-banyaknya.

“Tidak menguasai medan perang, akan gagal mengikuti dinamika kompetisi, dan biasanya tidak akan memiliki kesempatan untuk memanfaatkan momentum”- Sun Tzu.
Beliau membuktikan bahwa bisa beradaptasi dengan cepat dan baik. Terbukti di akhir semester satu, beliau berhasil mendapatkan IPK diatas 3,5 yang berarti cumlaude. Pada semester 2, beliau bergabung dengan kelompok riset yaitu H-8 Research Team.  Kelompok itu merupakan kelompok riset peminatan fisika instrumentasi yang bermarkas di Laboratorium Cisco.

Kelompok itu mewakili UI mengikuti kontes roket Indonesia yang diadakan LAPAN. LAPAN adalah singkatan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Faldo Maldini yang masih berada di semester dua sudah ikut kompetisi dan mewakili UI. Itu juga membuktikan bahwa begitu cepatnya beliau beradaptasi.

Selain bergabung di tim riset, beliau juga bergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA UI 2009 sebagai staff departemen Barisan MIPA. Barisan MIPA adalah departemen yang bertugas sebagai organ penggalang massa untuk demonstrasi di FMIPA UI.

Beliau juga berhasil mendapatkan beasiswa Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) mungkin kalau sekarang namanya Rumah Kepemimpinan. Saat itu mahasiswa UI yang mendapatkan beasiswa ini hanya 30 orang putra dan 30 orang putri.

Ternyata, saat beliau menjadi staf Barisan MIPA di BEM FMIPA UI 2009, Kepala Departemennya justru ikutan SPMB dan diterima di Fakultas Ilmu Komputer UI. Itu menandakan harus ada yang mengisi posisi kosong tersebut.

Lalu, Faldo Maldini termasuk dari salah satu kandidat untuk mengisi posisi kosong sebagai Kepala Departemen Barisan MIPA. Kandidat yang lain yaitu Andi, teman sekelas beliau, Wahid dari Geografi, dan Jamal dari Biologi.

Di rapat kedua, Ketua BEM FMIPA yang bernama Tino, sedikit memberikan orasi. Kurang lebih orasinya seperti ini :
“Kita sama-sama tahu, biaya pendidikan kita di Indonesia dari Anggaran Pendapatan Belanja atau yang biasa disebut dengan APBN! Mahasiswa harus sadar dana APBN itu diambil dari rakyat. Hampir sebagian besar APBN adalah pendapatan dari pajak. Siapa yang membayar pajak? RAKYAT! Enak kita telah dibantu biaya kuliahnya, dibantu dalam memenuhi fasilitas di kampus lewat subsidi yang uangnya sebenarnya berasal dari rakyat, tapi kita malah lupa kembali lakukan sesuatu untuk rakyat. Bahkan, sebuah batu bata yang ada di dinding sekolah atau kampus di Indonesia, dibiayai oleh Rakyat!”

Lalu, semua yang hadir dirapat tersebut hening sejenak dan faldo mulai terasadarkan.

“Tersadarkan itu menggerakkan. Ia bagaikan sebuah kata kerja. Saat telah tersadarkan melakukan kesalahan, kita akan bergerak secara sadar melakukan dan menuju hal yang benar”-@Faldomaldini
Lalu setelah bermusyawarah akhirnya Faldo Maldini lah yang akan mengisi Kepala Departemen Barisan MIPA.

Bersambung ke part 2


Kalau ada yang ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut, tulis “Mau” di kolom komentar ya! J
Share:

4 comments:

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com