Friday, 2 February 2018

Antara Jilbab dan Akhlak

 “Berjilbab tapi akhlaknya buruk. Mending lepas aja sekalian!”
“Dia tuh ber-jilbab, tapi prilakunya sama sekali tidak mencerminkan seorang akhwat. Sia-sia dong?"

            Mungkin dua kalimat diatas adalah dua dari sekian banyak kalimat yang sering kali kita dengar di masyarakat kita. Alasannya simple-simple saja, “karena melihat muslimah berjilbab yang melakukan hal yang (mungkin menurutnya) tidak patut dilakukan.”
Banyak dari kita yang menganggap ketika seorang muslimah memutuskan untuk berjilbab, maka artinya prilakunya harus sudah sepenuhnya mencerminkan seorang muslimah yang baik. Muslimah yang (dianggap) baik (mungkin) ialah mereka yang tuturnya lembut, sopan santun, ramah, murah senyum, dan sebagainya. 
Kadang kita lupa bahwa seorang muslimah jugalah manusia yang tidak lepas dari salah dan dosa. Ketika seorang muslimah memutuskan berjilbab, itu adalah bentuk kepatuhannya kepada sang pencipta. Berjilbab adalah murni perintah Allah yang wajib dikerjakan oleh seluruh wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang baik atau buruknya akhlak. Ketika seorang muslimah berjilbab melakukan kesalahan, tidak pantas rasanya jika malah mengutuk jilbabnya. Sebab, akhlak adalah budi pekerti dari pribadi masing-masing.
Jilbab yang dikenakan seorang muslimah merupakan sebuah identitasnya sebagai muslim. Bukan suatu simbol yang mencirikan seseorang berakhlak baik atau buruk. Namun, di masyarakat kita muslimah berjilbab seperti memiliki tuntutan tersendiri dikarenakan jilbabnya. Ada ketidaksamaan reaksi ketika melihat perempuan berjilbab dan tidak berjilbab melakukan hal-hal yang rasanya kurang pantas. Wanita berjilbab seakan “lebih bersalah” ketika melakukan hal kurang pantas yang sama dengan wanita tidak berjilbab. 
Pun sebagai seorang muslimah yang telah berjilbab, kita harus sadar bahwa ada marwah yang kita bawa. Kita dinilai oleh sebagian orang ‘lebih’ diantara yang belum menggunakan jilbab. Sebagai muslimah yang baik, ada izzah dan iffah yang harus dijaga. Teruslah memperbaiki diri.

(sumber: artikel.masjidku.id)

Permasalahan "antara jilbab dan akhlak" pun dijadikan alasan oleh sebagian muslimah yang belum berjilbab,
“Ah, prilaku saya belum baik. Mau perbaiki dulu.”
“Saya jilbabin hati dulu deh, kepala nyusul kapan-kapan.”
Dua kalimat diatas sering kali kita jumpai pada diri muslimah yang belum mantap mengenakan jilbab dikarenakan prilakunya. Padahal, apa salahnya berjilbab terlebih dahulu? Toh, kita sudah mengurangi satu dosa yaitu menutup aurat.
Antara memperbaiki akhlak dan menggunakan jilbab adalah dua perkara yang disebut-sebut sulit dilakukan oleh sebagian muslimah. Sekarang permasalahanya adalah, lebih sulit mana menggunakan jilbab dan memperbaiki akhlak? Jelas lebih mudah berjilbab, bukan? Mulailah bertahap dari hal yang mudah.
Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, berjalan dari tangga bawah menuju tangga teratas. Berjalan di jalan kebenaran memang tidaklah mudah, sebab surga terlalu mahal untuk mereka yang tidak memperjuangkannya.

"Katakanlah kpd wanita yg beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yg (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra2 mereka, atau putra2 suami mereka, atau saudara2 mereka, atau putra2 saudara perempuan mereka, atau wanita2 Islam, atau budak2 yg mereka miliki, atau pelayan laki2 yg tdk mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak2 yg belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yg mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kpd Allah, hai orang2 yg beriman supaya kamu beruntung." {QS. An-Nur:31}
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com