Wednesday, 24 January 2018

Monster Hujan (1)

            “Bagasss!!!”

***

Yang makmur banyak, namun yang miskin tak sedikit.

Yang hidup mewah banyak, namun yang pas-pasan bukan satu/dua jiwa.

Yang bahagia banyak, dan memang harus selalu banyak, sebab materi bukanlah parameter kebahagiaan. Namun, kadang orang-orang terlalu terbawa dengan kehidupan. Hingga lupa bahwa syukur lebih dari sekadar jawaban atas segala kesengsaraan.
(sumber: http://zale1945.blogspot.co.id)


            Diantara bangunan-bangunan menjulang yang berdiri tegak disepanjang jalanan kota jakarta, ada gang-gang kecil yang tak tersapa oleh kamera. Becek, menjijkan, bau. Mereka ada, hidup pada era yang sama dengan gedung pencakar langit itu. Mereka ada, sesama yang memiliki hak kebahagiaan yang sama dengan kita.

            Tepat pukul satu, disudut gang kecil, seorang gadis berlari mengejar bocah laki-laki yang terus menghindarinya.

“Bagas, tunggu!” Gadis itu berlari, melompati kubangan-kubangan air bekas hujan pagi tadi. Gesit. Sangan gesit. Gadis berkuncir kuda itu menarik kaos bola yang dikenakan bagas.

“Kamu mau apa?!” Nada suaranya masih tersengal-sengal, “Mau kau apakan minuman-munuman itu, Bagas?!”

Bagas—bocah smp kelas tiga—menepis lengan sepupunya,

 “Kak Mega yang kenapa?!” Bagas terus memeluk erat tas besar berisi minuman-minuman keras yang sedaritadi ia pegang, “Ini haram, Kak!”

“Kakak tau!” Mega merebut tas itu, “Kamu pikir kakak bodoh, hah?!” lanjutnya.

Mega menatap bagas penuh kecemasan, matanya mulai basah,

“Tapi kalau sampai ini hilang, bapak akan menuduhku yang membuangnya!”

Mega memperbaiki napasnya yang masih terdengar lelah,

“Kamu gak tau apa yang akan bapak lakukan terhadapku!”

            Matahari mulai terik. Menjadi sangat terik. Jauh berbeda dengan keadaan gang siang itu. Sendu. Sendu yang mengadu biru. Emosi yang tak terucap, mendekam pada jiwa seorang gadis genap 16 tahun. Wajahnya merah padam, matanya basah, bibirnya bergetar menahan seluruh amarah yang sungguh tak tahu harus diapakan.

“Kamu gak tau apa-apa, Bagas.”

***

            Mega Latifah. Dari buku yang pernah Mega baca, katanya Mega berarti awan. Untuk latifah sendiri, kata guru agama yang mengajar di kelas Mega, katanya artinya lembut. Awan yang lembut, seperti ada do’a disana yang entah siapa yang menyampaikan. Seingat Mega, dulu, saat mega masih kecil sekali, Ibunya bercerita bahwa nama itu diberi oleh seorang saudagar asal sumatra.

            Kehidupan Mega kecil adalah kehidupan yang sama dengan anak-anak kecil lainnya. Berlarian, melompat, main jungkat-jungkit, bersepeda hingga sore tiba. Meski tak se-sempurna anak para pekerja berdasi, Mega menikmati hari-harinya. Ibu Mega adalah seorang pelacur, itu yang orang-orang bilang. Mega tak merasa itu sebuah hinaan, sebab warga sekitar pun memiliki pekerjaan yang sama dengan Ibunya. Yang Mega tahu, Ibu hanya pergi keluar rumah jam 6 sore, dan ketika dipagi hari Mega bangun, Ibu sudah dirumah menyiapkan segala kebutuhan.

            Saat itu, pagi-pagi sekali, ketika matahari menyergap masuk perlahan pada atmosfer bumi, terdengar langkah yang hati-hati sekali masuk kedalam rumah. Langkah kaki itu adalah langkah seorang wanita dengan high heels-nya. Ia berjalan menuju dapur. Sebenarnya tempat memasak itu tak pantas disebut dapur, sebab rumah mereka hanya sepetak tanah dimana segala aktifitas dilakukan ditempat yang sama, hanya sekat-sekat rumah saja yang menjadi pembedanya.

            Wanita itu menyalakan kompor dan mulai memasak. Mega yang sedari tadi mengendap-ngendap memperhatikan Ibunya, datang dan memeluk Ibunya dari belakang.

“Mega sayang Ibu!” katanya.

Ibunya tertawa, mengelus lembut gadis 6 tahun kesayangannya.

“Kalo Mega udah besar, Mega mau jadi kayak Ibu!” tukas Mega, dengan semangat.

Ibunya terdiam, menunduk perlahan kearah buah hatinya, “Gak boleh ya, sayang.”

“Mega harus jadi orang baik. Mega  harus jadi orang sukses. Gak boleh jadi Ibu.” Lanjut wanita itu.

“Mega mau jadi kayak Ibu!” Mega bersikeras dengan keyakinannya.

“Ibu bilang gak boleh!” nada suaranya meninggi. Sontak, Mega kecil terdiam. Ini pertama kalinya Ibu membentak Mega.

Wajah sang Ibu terlihat sangat serius, cemas, dan bingung yang menjadi satu,

 “Mega harus janji, Mega gak boleh jadi Ibu.”

            Sejak hari itu, Mega kecil selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang Ibu lakukan? Mengapa Mega dilarang menjadi seperti Ibu? Ibu selalu keluar rumah dengan tampilan yang menakjubkan. Wajahnya dirias cantik, bajunya bagus, sepatunya terlihat mahal seperti punya bintang film. apa yang salah?

            Tepat dua hari setelah ulang tahun Mega yang ke-7, Mega tidak mendengar suara langkah kaki dipagi hari. Hingga siang tiba, Ibunya tak juga pulang. Mega kecil menangis seharian di rumah. Pintu yang terkunci menyebabkan ia tak bisa keluar rumah. Tepat jam 9 malam, ada 3 orang yang mendobrak rumah Mega, membawa Mega pergi. Kata salah seorang diantara ke-3 orang itu, “Panggil saya Bapak.”

-TBC-
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com