Wednesday, 17 January 2018

Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan dalam Diri

Hallo Inspirers! Aku mau sedikit sharing nih tentang menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri. Tulisan ini juga berdasarkan pengalamanku, jadi harapannya bisa diterapkan oleh Sobat Inspirers. Selamat membaca!

Perlu kita ketahui bahwa kita dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Terbukti dengan hadist yang berbunyi : 
"setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya" (HR. Bukhori).

Sebelumnya, apa itu arti pemimpin? Apa itu arti kepemimpinan?
Bagi saya pemimpin adalah orang yang mampu mengkordinir orang lain untuk mencapai tujuannya dengan melakukan hal yang benar. Tentunya pemimpin harus mengayomi anggotanya dan membuat anggotanya merasa nyaman ketika dipimpin. Jika anggotanya sudah merasa nyaman dan sudah memiliki rasa kepemilikan terhadap organisasi tersebut, maka jalannya organisasi tersebut akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya.

Sedangkan kepemimpinan itu sendiri menurut saya adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Bisa dikatakan juga bahwa kepemimpinan merupakan seni untuk mempengaruhi orang lain dengan cara kita sendiri untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Jadi, kepemimpinan itu lebih ke cara kita dalam memengaruhi dan memberi contoh bagi anggota kita. Bagi saya, kepemimpinan merupakan hal yang unik. Kenapa unik? Karena setiap orang pasti memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing.

Lalu adakah perbedaan antara pemimpin dan boss? Jelas sangat lah berbeda.






Dari gambar, kita bisa mengetahui, bahwasanya seorang boss hanya memikirkan goals tujuan dia saja dibanding dengan bawahannya. Entah mau bawahannya bersusah payah, kerja mati-matian, seorang boss tidak memperdulikan secara personal bagaimana kondisi dari bawahannya. Cara yang diterapkan boss dalam mengatur bawahannya juga cenderung memaksa dan strict.

Berbeda dengan seorang pemimpin. Pemimpin sangat memperhatikan betul perkembangan dari setiap anggotanya. Karena bagi seorang pemimpin, menciptakan pemimpin-pemimpin lain yang jauh lebih baik dari dirinya sendiri merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Cara yang diterapkan pemimpin kepada anggotanya adalah mengayomi anggotanya agar merasa nyaman dan dapat meraih goals tujuan bersama.

Pemimpin itu dibentuk, bukan telah diciptakan begitu saja untuk menjadi seorang pemimpin. Pemimpin itu pasti melalui beberapa tahapan untuk bisa dikatakan menjadi seorang pemimpin. Hal yang harus diperhatikan adalah menambah kapasitas diri sendiri sehingga layak disebut sebagai seorang pemimpin. Karena menjadi seorang pemimpin harus mempunyai mental yang kuat, pemikiran yang panjang, dan kemampuan manajemen yang baik. Jadi salah bila ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu diciptakan dengan begitu saja. Mungkin benar jika kita dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, namun dengan proses tentunya. Tidak semata-mata langsung menjadi seorang pemimpin tanpa proses terbentur yang nantinya kata terbentur itu akan menjadi terbentuk.

Lalu, pernahkah kalian mendengar pemimpin yang zholim adalah untuk rakyat yang zholim?

Simak percakapan dari sahabat nabi terdahulu :

Ubaidah bin As-Salmani ketika bertanya kepada Ali ra, “Wahai Amir Mukminin, mengapa manusia taat kepada Abu Bakar dan Umar. Kekayaan dunia pada waktu itu lebih sempit daripada sejengkal, lalu menjadi luas pada masa keduanya. Ketika engkau dan Utsman menjadi khilafah, dunia terbuka luas pada awalnya namun kemudian menjadi lebih sempit daripada sejengkal.”Ali menjawab, “Karena rakyat Abu Bakar dan Umar seperti aku dan Utsman, sedangkan rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang seperti dirimu.” (Sirajul Muluk, Imam Ath-Thurthursyi, 94).

Jika kita memahami dan menganalisis dari percakapan tersebut, sangat memungkinkan kehancuran jika dizaman tersebut, para penduduk yang mendiami suatu wilayah tersebut adalah golongan dari orang-orang yang zholim. Kenapa? Karena pemimpin pasti diambil dari penduduk yang mendiami daerah tersebut. Ini pengecualian untuk Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin Affan yang memang Khulafaur Rasyidin . Ali dan Utsman dipercaya sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah. Namun rakyat pada zaman Ali dan Utsman sudah sangat berbeda pada zaman Abu Bakar dan Umar Bin Khattab. Rakyat pada zaman Ali dan Utsman sudah mulai banyak yang menyimpang. Sehingga, patutlah Ali menjawab seperti itu. Berarti jika kita merasa bahwa kita sudah berada pada akhir zaman, seharusnya kita bisa instropeksi diri dan segera lah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Lalu bedanya pemimpi dan pemimpin itu terletak pada huruf N, yaitu Nyali. Pemimpin harus berani mengambil tantangan. Bagaimana caranya agar kita berani mengambil tantangan? Kalau berdasarkan pengalaman saya sendiri dengan cara ikut organisasi. Dengan kita ikut organisasi kita belajar banyak hal. Mulai dari memikirkan masalah yang belum pernah kita dapat sebelumnya, belajar memanage waktu, belajar bekerja dalam tim, dan disitulah menurut saya proses untuk terbenturnya. Disaat teman kita yang tidak ikut organisasi bisa bermain dengan bebas, kita harus berjuang untuk berpikir lebih jauh dan mengerahkan tenaga kita untuk urusan ummat. Disitulah tantangannya. Memang awalnya pasti susah untuk beradaptasi, namun lama-kelamaan pasti akan terbiasa dengan medan yang dihadapi dalam organisasi.

Saya sendiri merasakan dampaknya. Ketika saya SMP, saya tidak ikut organisasi disekolah, saya cenderung menjadi siswa yang pasif, apatis, tidak berani mengemukakakan pendapat dimuka umum dan cenderung pemalu. Alhasil, saya SMP tidak mempunyai relasi yang banyak. Lalu saya berpikir untuk berubah dan berani mengambil tantangan. Sehingga pada SMA kelas 10, saya sudah memberanikan diri untuk ikut organisasi di sekolah. Awalnya memang berat. Karena baru pertama kali merasakan medan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, namun lama-kelamaan jadi terbiasa dan sampai kuliah, saya sangat antusias untuk terus berorganisasi. Karena saya jadi memiliki relasi yang banyak dan communication skill saya meningkat sejak ikut organisasi. Saya juga jadi berani untuk mengemukakan pendapat dimuka umum. Karena lingkungan diorganisasi lah yang mendorong kita untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Jadi menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri dimulai dari kita sendiri. Apakah kita berani mengambil tantangan. Apakah kita punya Nyali? Atau kita cukup jadi seorang pemimpi saja? Kita lah yang menentukan sendiri.


“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11 
Share:
Lokasi: Bogor, Kp. Parung Jambu, Bogor City, West Java, Indonesia academics blog
academics blog

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com