Tuesday, 16 January 2018

Hakikat Menuntut Ilmu


Hi Inspirers! Aku mau memberi sedikit perspektif tentang hakikat menuntut ilmu. Agar kita semakin semangat dalam menuntut ilmu. Selamat membaca Inspirers!
Pernah gak sih, kalian kehilangan motivasi belajar? Pernah gak ketika belajar itu terasa sangat melelahkan? Atau pernah gak ketika belajar itu terasa males dan membosankan? 

Mungkin diantara kita pernah merasakan hal tersebut. Atau mungkin hampir dipastikan kalau pelajar itu pernah berada di titik tersebut. Titik dimana tingkat kejenuhan kita untuk menuntut ilmu itu sudah mencapai batasnya. Sehingga semangat kita dalam menuntut ilmu itu seakan telah sirna dan tak membara lagi.

Padahal sejatinya, kita sebagai manusia dituntut untuk menjadi seorang pembelajar. Belajar dalam berbagai hal dan tidak terpaku pada pelajaran eksak saja seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Di dunia ini, masih banyak ilmu yang dapat kita peroleh dimana saja. Karena definisi ilmu itu luas. Secara garis besar, ilmu merupakan suatu kumpulan proses dengan menggunakan suatu metode ilmiah yang menghasilkan suatu pengetahuan yang sistematis. Tetapi, menurut pandangan saya, ilmu merupakan suatu hal baru yang dapat membuat orang merasakan dampaknya ketika mendapatkan ilmu tersebut dan mengerti bahwa selama kita hidup, kita harus terus mencari ilmu untuk membuka wawasan lebih jauh lagi.

Dalam islam, menuntut ilmu hukumnya wajib. Hal itu bedasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: 
“Menuntut ilmu itu wajib (hukumnya) atas setiap muslim” (Shahihul Jami’ 3913)
Dan dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa urgensi menuntut ilmu adalah wajib dan penting. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : 
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat bagi orang yang  berusaha menuntut ilmu. Jadi, masihkah kita untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu? Masihkah kita terus mengeluh dalam menuntut ilmu?

Mungkin jika kita masih bermalas-malasan dan mengeluhkan banyak hal ketika menuntut ilmu, niat kita untuk menuntut ilmu belum ikhlas karena Allah dan kita belum mengerti secara mendasar kenapa kita harus belajar.

Prinsip yang harus ditanamkan adalah kita belajar atau menuntut ilmu untuk masa depan kita sendiri. Siapa sih yang gak ingin sukses? Pasti semua orang menginginkan kesuksesan dimasa depan. Nah dengan belajar sejak usia dini ini lah bekal kita untuk mencapai kesuksesan itu. Terus menempa diri, menambah kapasitas diri serta menambah wawasan lebih luas merupakan cara kita untuk bersaing dengan mereka yang ingin meraih kesuksesan juga dimasa depan.
 
Setiap orang berhak sukses, namun gak setiap orang mau menjemput kesuksesan itu. 

Buktinya masih banyak yang menjadi pengangguran, menjadi pengemis, menjadi pemulung dan lain sebagainya. Salah satu faktornya adalah kurangnya kesempatan mereka untuk menuntut ilmu. Atau bahkan mereka melalaikan hal itu. Mereka dimasa muda malah bermalas malasan dalam belajar. Jadi selagi kita diberikan kesempatan dalam menuntut ilmu, pergunakan lah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya dan bersungguh-sungguhlah demi menjemput kesuksesan dimasa depan.

Saya sendiri memiliki sebuah prinsip yang menurut saya penting untuk diterapkan di diri kita masing-masing.
“Seorang pembelajar yang masih bodoh, dan akan terus merasa bodoh.”
Kalimat itu bermakna bahwa kita sebagai pembelajar harus lah terus merasa bodoh. Karena dengan itu, kita akan terus mencari-cari hal baru yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Kita juga dituntut untuk menjadi pribadi yang ketika kita mencapai suatu keberhasilan, kita jangan langsung puas atas capaian tersebut. Kita harus bersyukur dan terus menggali potensi-potensi kita yang lain, sehingga kesuksesan akan kita raih jika kita bersyukur dan tidak pernah puas akan suatu hal.

Berorientasi atau memiliki mimpi yang tinggi juga merupakan cara kita dalam menjemput kesuksesan. Karena jika kita berorientasi dan bermimpi setinggi-tingginya, usaha yang akan kita kerahkan juga akan lebih besar dibanding orang yang hanya setengah-setengah dalam bermimpi. Saya sangat suka perkataan bapak proklamator kita yaitu Ir. Sukarno yang berkata “Bermimpilah setinggi langit, karena jika kita terjatuh, kita akan jatuh diantara bintang-bintang”. Menurut saya itu hal yang logis dan tepat untuk diterapkan. Logikanya seperti ini, jika kita hanya bermimpi ingin mempunyai mobil mewah, maka orientasi kita hanya cukup mengumpulkan uang sampai mobil itu terbeli. Namun, jika kita bermimpi untuk mempunyai perusahaan mobil, maka orientasi kita haruslah bekerja keras dan sungguh-sungguh, menuntut ilmu tentang mengelola perusahaan, dan baru bisa mencapai mimpi untuk mempunyai perusahaan mobil tersebut. Tentu usaha yang dikerahkan juga berbeda antara yang hanya bermimpi mempunyai mobil mewah dan yang bermimpi mempunyai perusahaan mobil.
`Abdullah bin al-Mubarak mengatakan bahawa: “Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
  1. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong. 
  2. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`
  3. Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.


Pada tingkatan pertama, orang yang sudah mendapat ilmu meskipun belum banyak ilmu yang ia dapat, dia cenderung sombong dan angkuh terhadap ilmu yang sudah ia dapatkan itu. Dia lebih mudah menyalahkan pendapat dan pandangan orang karena dia merasa lebih benar dan lebih tinggi ilmunya. Apakah kita mau menjadi bagian pada tingkat pertama ini?

Tingkatan kedua, meskipun ia sudah mendapat ilmu yang banyak, dia cenderung rendah hati. Dia lebih mau menerima pandangan dan pendapat orang lain, meskipun dia mengetauhi jawaban yang benar. Dia tidak mudah merendahkan orang lain. Apakah kita sudah termasuk pada tingkatan ini?

Tingkatan ketiga adalah tingkat yang paling istimewa. Semakin dia mengetahui ilmu lebih dalam dan sudah mempelajari banyak hal, dia semakin merasa dia tidak tahu apa-apa. Tingkat ini memiliki kesamaan prinsip yang sudah saya jelaskan tadi. Bahwa kita dituntut untuk menjadi pembelajar yang terus merasa bodoh. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu. Semoga kita semua bisa mencapai pada tingkatan ini.

Lalu, pernahkah kalian merasa telah belajar dengan sungguh-sungguh tetapi tetap mendapat nilai yang tidak sesuai harapan? Pernah gk kalian merasa kecewa seakan usaha belajar sampai larut malam tetapi tetap mendapat nilai yang kurang memuaskan?

Mungkin barangkali, niat kita untuk menuntut ilmu itu belum sepenuhnya karena Allah, belum ikhlas 100%. Namun sesungguhnya, Allah lebih suka menilai dari seberapa besar usaha hambaNya dalam memperoleh sesuatu dibanding hasilnya. Pasti dibalik ujian yang telah kita lalui itu ada hikmah yang dapat menjadi pelajaran buat kita. Mendapat nilai jelek pun itu merupakan suatu ujian dan pasti ada hikmah dibalik itu. Barangkali ketika kita belajar, kita lupa akan hal akhirat seperti solatnya terlambat, lupa mengaji, lupa untuk mengerjakan amalan sunnah dan lain-lain. Kalau kita sudah merasa melakukan hal itu semua, tetapi tetap saja mendapat nilai yang jelek, mungkin Allah ingin lebih lama mendengar curhatan hambaNya disepertiga malam. Mungkin doa dan usaha kita hanya pada saat kita mau menghadapi ujian/tes saja. Maka Allah rindu mendengar curhatan kita yang hanya butuh ketika menjelang ujian saja.

Jadi, usahakan lah untuk selalu berpikir positif dan selalu berdoa kepada Allah. Karena jika kita berharap hanya pada Allah, maka kita tidak akan kecewa.  Karena hanya Allah lah yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 

Share:
Lokasi: Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia academics blog
academics blog

1 comment:

Copyright © Young Inspirer | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com